Kepada : Tuhan
Tuhanku. Tuhanmu, Tuhan kita semua
Tuhan, masih ingatkah kau dengan ku. Semoga Kau masih ingat Tuhan. Walapun aku pernah berfikir, andaikan kau lupa padaku, karena terlalu banyak yang kau urusi. Tapi ternyata Kau tak lupa padaku, aku yang sering lupa padamu Tuhan. Kemarin aku bertemu dengan MU dan Kau masih ingat ternyata, kau memang maha pengingat hambaMU Tuhan.
Kemarin, lalu, saya pernah berfikir Tuhan, kenapa Tuhan melahirkanku di kota kediri, tidak di Yogyakarta. Sedang saya akhirnya harus ke yogyakarta. Karena memang saat itu hanya ada satu pilihan dan saya harus memilih YOGYAKARTA akhirnya tanpa berfikir panjang pilihan itu saya ambil. Tidak ada saudara, tidak ada siapa-siapa saya di Yogyakarta. Tapi tetap ada Tuhan di Yogyakarta.
Saya kira semuanya akan mudah. Memang mudah jika kita anggap semuanya mudah, tapi tetap tak se-mudah berteori, memang kenyataan kadang lebih sulit dari pada bayangan. Di yogyakarta menjadi anak kost. Iya Tuhan. Anak kost. Semuanya di jalankan sendirian, walapun dalam teori Tuhan selalu bersama saya tapi, saya tetap merasa sendirian, walauun ternyata tidak hanya dalam teori, dalam kenyataan pun Tuhan selalu bersama diri saya, tapi saya saja yang sering tidak merasakan kehadiran Tuhan dalam diri saya.
Saat saya melihat teman-teman saya sebagian besar begitu mudahnya pulang sekolah semua sudah siap, ada orang tua, ada pembantu ada segalanya. Tinggal belajar dan sekolah, tanpa harus berfikir tentang hari esok yang berat. Walaupun sebenarnya kehidupan saya jadi anak kost juga tak terlalu berat, bahkan mungkin lebih mudah. Andai saya dilahirkan di yogyakarta mungkin saya tidak perlu berfikir berat untuk mengurus segalanya sendirian, tapi Tuhan memang mempunyai rencana sendiri untuk diri saya. Iya kan Tuhan. Mungkin karena impian-impian saya yang terlalu muluk, jadi biar impas maka Tuhan memberi saya tantangan yang lebih berat untuk impian saya. Iya kan Tuhan. Impian itu tidak bisa saya raih ketika saya tetap pada zona nyaman saya, maka dari itu Tuhan yang maha adil ”menyasarkan” saya di Yogya. Tapi saya sekarang mulai sadar Tuhan. Bahwa ketika saya memutuskan untuk memilih menjadi pohon oak yang berani menentang langit dengan ketinggiannya, maka saya harus siap diterjang apapun.
Ketika saya rindu dengan masa-masa SMP sampai saya kelas satu SMA yang begitu mudah sepertinya, tanpa ada halangan berarti, saya kembali disadarkan dulu waktu itu saya belum berani seperti sekarang dan saya juga belum setinggi sekarang, wajar kalau ujian berat dari Tuhan belum datang. Tapi sekarang ketika pohon oak itu mulai tinggi tuhan memulai sekenarionya untuk saya si pohon oak.
Yang perlu saya fahamkan bahwa semua ini adalah upaya tuhan untuk menguji tekad saya terhadap mimpi-mimpi saya. Bahwa tidak ada mimpi yang akan dan bakal kadaluarsa. Semoga semua yang saya lakukan karena Tuhan saya, dan Agama saya.
Agin bawa suratku ini pada Tuhan yaa--
Special to:
1. Negeri Belanda (Leiden University) saya akan datang, entah kapan
2. Ibu, CINTA dan SEGALANYA
3. Bapak dan kelurgaku, kalian spirit terbesar
4. ALLAH, yang telah menciptakan semua yang aku butuhkan.
Yogyakarta 5 April 2011
Tidak ada komentar:
Posting Komentar