-

_dalam setiap kata yang kau baca,
selalu ada huruf yang hilang
kelak kau pasti akan kembali menemukanya
di sela kenangan penuh ilalang__


Tampilkan postingan dengan label jejak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label jejak. Tampilkan semua postingan

Selasa, 20 Oktober 2015

Schindler List, Tentang (Ilmu) Sejarah, Politik Minoritas dan Cara Berdamai dengan Masa Lalu

Ruangan ukuran 3 kali 3 ini tak tertata rapi. Kertas berserakan di pojok ruangan dekat sebuah cermin yang digantung. Pakaian-pakaian tertumpuk di sudut lain. Ada aroma sambel pecel, menyatu dengan bau keringat pada kasur. Ada setumpuk peralatan masak di bawah meja, saya tidak tahu itu barang bersih atau kotor. Di sisi tembok ruang bagian timur, sebuah gordin warna hijau sepia lusuh, kelihatan tidak pernah dicuci. Ini kali pertama saya berkunjung lagi ke kamar seorang teman itu, setelah satu tahun lebih saya tidak pernah mengunjunginya.
Banyak perubahan, barang-barang sudah tidak berada pada tempatnya dahulu, satu tahun lalu.  Yang tidak berubah hanya biola yang digantung di samping jendela. Biola pertama saya ketika awal mula tertarik belajar alat musik gesek itu. Dia membeli biola itu saat saya sedang kehabisan uang, saat itu saya mengajukan satu sarat: “ Biola itu tidak boleh dijual lagi ke orang lain”. Dia sepertinya menginggat dengan baik perjanjian tak tertulis itu. Kini kemampuan saya mengesek biola jauh telah dilampaui teman saya. Sebab, barangkali saya terlalu sibuk bergulat dengan pikiran-pikiran kosong dan kecemasan-kecemasan yang tidak selesai.


Saya bertanya tentang banyak hal: “bagaimana kabar adikmu”, “ sibuk apa setelah lama tak bertatap muka”. Sepertinya saya terlalu bersemangat untuk percakapan ini, tapi lawan bicara saya agak datar. Atau sebaliknya, saya tidak tahu. Diam-diam saya sebenarnya selalu berpikir panjang untuk setiap obrolan: saya menahan diri agar tidak membicarakan masa lalu.  Malam semakin larut, saya mulai mengantuk. Teman saya membuka laptop, mungkin untuk menghindari omongan-omongan tidak jelas. Sebab pembicaraan yang berlarut-larut kadang cukup berbahaya untuk sebuah pertemanan yang hendak dibangun kembali di atas reruntuhan perselisihan di masa lalu yang lucu tapi juga cukup menyedihkan.
***

Minggu, 11 Mei 2014

LAKI-LAKI DAN KAMAR




Kaca rias itu masih berdiri tegak di pojok ruangan. Meja kecil di depanya terlihat berantakan. Lipstik, bedak dan berbagai alat rias tercecer di meja itu. Tampaknya memang tak ada yang berubah sejak 30 menit yang lalu.
Disamping meja rias itu, pintu kamar mandi terbuka lebar. Kran terbuka kecil dan suara gemericiknya air yang mengucur ke bak mandi benar-benar terdengar. Seorang laki-laki tergolek lemah diatas ranjang. Badanya setengah ditutup selimut. Rambutnya yang ikal, acak-acakan. Mukanya terlihat sangat lelah dan lesu walaupun sekarang dia sedang tertidur. Kedua tanganya terbuka lebar. Seolah dia habis melepas pelukan seseorang.
Diujung ranjang sepasang sepatu kulit berwarna coklat, berjajar. Di ujung belakangnya ada tulisan kecil made in Manding. Parangtritis. Tak jauh dari sepatu itu sepasang kaos kaki yang juga berwarna coklat, namun agak tua, tergletak juga. Dua langkah dari kaos kaki itu, celana jeans dan kemeja batik berwarna merah tertumpuk acak-acakan. Dekat tumpukan itu ada dua biji kancing baju yang lepas. Dari model tumpukan bajunya,  semalam laki-laki itu pasti melepas bajunya dengan tergesa-gesa.
Dua pasang meja kecil dari kayu jati berjajar di kiri dan kanan ranjang. Ukiranya yang rumit, dan detailnya yang halus, bisa dipastikan ranjang dan dua meja kecil itu di pesan dari daerah Jepara. Dua botol bir berdiri, sementara satu botol lagi rebah, diatas meja kecil bagian kanan. Dari ujung botol yang rebah sisa bir menetes pelan. Ada dua gelas kecil yang sekarang sudah tak sempurna lagi bentuknya. Pecah 30 menit yang lalu.
Pecahan gelas kaca itu menyebar di lantai, beberapa serpihanya juga terlihat masuk dibawah kolong ranjang. Warna lantai yang putih bersih, memantulkan langit-langit kamar. Sebuah lampu gaya kuno bergantung di tengah langit-langit kamar. Di beberapa detail lekukan lampu hias itu, laba-laba membuat jaring-jaring sarangnya. Dari ujung detail ukiran lampu satu ke detail ujung yang lain. Mengelantung-gelantung, serat-serat putih. Melihatnya sekilas bagaikan sobekan-sobekan awan kecil yang tersangkut.
Lelaki yang terbaring ditutupi selimut itu tetap pada posisinya. Begitu juga kamar itu. Tak ada yang berubah. Hanya terlihat dua ekor cicak yang tadi di ujung langit-langit diatas kusen jendela kini telah beralih tempat. Setelah melihat seekot nyamuk yang terbang ke arah balik almari. Bergegas kedua cicak itu pun mengejar nyamuk itu. Entah bagaimana nasib nyamuk itu nanti dibelakang almari.
Udara dingin  yang lalu menyisakan embun-embun udara di kaca jendela. Bau alkohol yang memenuhi kamar sedikit demi sedikit keluar lewat jendela. Udara pagi mulai masuk kamar, mengeser sisa-sisa udara malam tadi yang penuh bau alkohol.
***
Laki-laki yang terbaring ditutupi selimut itu tetap dalam posisinya. Diatas kasur. Hanya sekarang kedua tanganya mengatup di dada. Seolah memeluk sesuatu entah apa. Mukanya yang tadi terlihat sangat lesu dan lelah. Kini berubah. Di bibirnya telah tersunging senyum tipis. Raut mukanya seperti sedang gembira. Bibirnya yang tipis semakin indah dengan rambut-rambut kumis yang tumbuh jarang-jarang. Bentuk kumis itu sudah terlihat, tetapi tak lebat.
 Matanya yang tadi tampak menyembunyikan tidur yang resah kini berubah. Walaupun sang mata tetap tertutup. Matanya kini menelan kenikmatan yang maha nikmat, entah kenikmatan apa itu. Hidungnya yang mancung, benar-benar berfungsi memberikan efek sangat indah pada wajah laki-laki itu. Bulu-bulu hidunya terlihat sedikit. Kaki laki-laki itu jenjang. Selimutnya tak menutupi semua bagian tubuhnya. Dua kaki jenjang itu ditumbuhi bulu-bulu kaki tipis.  
Laki-laki yang terbaring di atas ranjang itu tetap pada posisinya. Entah kenikmatan macam apa yang membuatnya benar-benar terbaring tak sadarkan diri. Sampai kapan tidak ada yang tahu. Kenikmatan macam apa yang bisa bertahan abadi?.
***
Di luar kamar kota telah berubah kelabu. Laki-laki itu tetap saja tak berubah dari posisinya. Cahaya hanya seakan menelan segalanya, dan hanya terasa redup. Semua terasa setengah-setengah, antara terang dan tidak. Kelabu.
Jalanan masih sangat penuh dengan kendaraan. Orang-orang berangkat ke pasar. Beberapa gelandangan terlihat terkapar di bawah tiang lampu jalan. Motor-motor saling beradu kecepatan. Di ujung jalan pada perempatan itu. Beberapa mobil terlihat saling terjang, mencari posisi paling depan.
Di ujung jalan dekat taman bunga dan patung kijang yang berdiri. Aku melihat diriku berjalan, pelan saja. Menghabiskan waktu. Menikmati suasana kota yang semakin kelabu. Orang-orang di kota ini sudah lupa waktu. Malam, siang, sore, pagi, semua terasa sama saja. Disini yang paling kuasa hanya kelabu. Sebuah komposisi warna yang aku tak tahu tersusun dari apa.
Aku masih berjalan. Dan melihat di ujung sana ada dua pemuda yang bertengkar, merebutkan sebungkus nasi. Sementara diseberang jalan, beberapa orang menyantap hidangan, dengan rakus. Badan orang-orang itu sudah tak berbentuk. Perut mereka membuncit. Lidah selalu menjulur-julur, mengeluarkan liur yang kental. Mata yang memerah. Di kota ini semua orang sudah tak tahu kapan harus tertidur.
Tiba-tiba saja mataku memandang jendela yang terbuka di lantai 3 sebuah apartemen. Aku mulai menduga-duga apa yang sedang terjadi di kamar itu. Mungkinkah ada sebuah keluarga yang sedang bercengkrama. Menonton televisi sambil mengamati tangis bayinya di ranjang. Mungkin juga, ada sepasang kekasih yang sedang bercinta. Atau mungkin juga ada seorang pemuda sedang sendiri,membaca buku ditemani secangkir kopi. Yang tak ia sadari sudah dingin ketika pertama di tuangkan ke dalam cangkir.
Aku terus menerka. Bergerak dari satu kemungkinan ke kemungkinan lain. Dan aku tak sadar sudah terdiam. Berdiri di dekat pohon cemara. Dengan mata yang tetap memandang ke atas. Melihat jendela yang terbuka di sebuah apartemen di ujung jalan itu.

Laki-laki yang tertidur dengan senyum merekah itu belum juga berdaya. Ia tetap terlentang dengan tangan terbuka. Dua cicak yang tadi mengejar nyamuk di balik almari. Telah kaku, mati, ternyata ada nyamuk yang sangat besar di balik almari itu. Dan sang cicak terhisap darahnya habis. Bangkainya tinggal rangka. Dan terjatuh dibawah almari. Sontak saja beberapa semut mengerubuti bangkai itu.
***
Laki-laki itu mulai berdegup jantungnya. Terlihat bulu-bulu dadanya yang tak ditutupi selimut bergetar-getar.
Dua petugas apartemen mendekat dan berbincang di depan kamar laki-laki itu.
“ siapa, yang berada di kamar itu?, dia tak pernah keluar kamar”
“ aku tak tahu, tanya saja resepsionis”
“ kira-kira apa yang ia lakukan sendirian di kamar berhari-hari”
“ mungkin menjelajah dunia maya”
“ tapi bukankah itu membosankan”
“ ah aku tak tahu, itu juga cuma perkiraanku
Setelah meluruskan letak lukisan yang agak miring di dinding lorong apartemen itu. Dua petugas tadi pergi. Dan yang tersisa di lorong itu tinggal sunyi, sepi.
Aku masih terduduk dibawah pohon cemara. Dan tak henti-henti menerka-nerka apa yang sedang terjadi dalam kamar itu. Kota tetap saja kelabu. Di tempat sampah terlihat tumpukan jam tangan, jam dinding, dan segala hal yang berhubungan dengan waktu. Semua orang di kota ini telah membuang peralatan itu ke tempat sampah. Bahkan banyak yang memusnahkanya dengan dibakar atau di kubur dalam tanah.

Bantul 14-07-13-Sleman 05-03-2014 danang tp

Senin, 07 April 2014

SEJARAH WAKTU TERGESA


Entah kenapa akhir-akhir ini saya benar-benar sangat muak dengan jalanan. Motor, mobil berdesak-desakan semua memburu tempat terdepan. Berisik suara kenalpot, setiap orang berusaha saling mendahului. Seolah semua orang hanya akan berarti jika hidup habis di jalan, ditelan, aktivitas-aktivitas yang menghabiskan waktu. Bertemu orang-orang setiap hari. Menghabiskan waktu dengan berkata-kata. Pohon-pohon dipinggir jalan seolah hanya hiasan yang tak untuk dinikmati, bahkan hanya dilirik saja. Bisakah kita tidak kemana-mana, berdiam saja di satu tempat. Membiarkan badan kita tidak melakukan aktivitas apa-apa. Membiarkan waktu yang datang tanpa mengetuk pintu berlalu begitu saja. Pagi, siang, sore malam dan tiba pagi lagi. Bisakah?
Kita semakin faham waktu itu sangat berarti tapi, kita tak siapkan saja sedikit ruang lenggang dimana kita benar-benar bisa melihat ujung jarum jam bergerak. Yang kita tunggu hanya waktu yang telah tepat, lalu kita akan dibuatnya beranjak lagi ke tampat lain. Melihat waktu yang tepat lagi, dan berpindah tempat lagi. Lalu kita dengan mudah berkata-kata waktu itu sangat cepat. Bagaimana bisa ini semua terjadi?. Bagaimana bisa kita berkata seperti itu. Sedang kita tak menyiapkan sedikit ruang lengang dimana kita menghayati setiap inci putaran jarum jam. Kita seolah tahu sekali tentang waktu padahal, di setiap saat yang kita tahu hanya segalanya bergerak sangat cepat, maka tidak ada lagi ruang untuk kesengangan.
Kita tak setia pada waktu, tapi di ruang lain kita berkata bahwa kita selalu hidup dalam waktu. Tapi nyatanya kita hanya hidup dalam kecepatan, kita hanya menghayati satu dimensi waktu yaitu kecepatan. Lalu kita tiak pernah tahu, karena memang tidak berusaha untuk tahu bahwa jarum jam bergerak sangat lamban dan teratur.
Dengan alasan-alasan yang mulia kita menganiaya waktu, mengatakan bahwa semuanya harus berarti. arti seperti apakah yang sebenarnya kita cari?. Ah ini pertanyaan paling konyol abad ini. Ini pertanyaan yang mungkin hanya patut diajukan oleh hewan. Dikepala kita yang ada hanya aktivitas dan kecepatan. Yang layak kita beri arti hanyalah kecepatan yang harus membuat kita tergesa-gesa dengan segala aktivitas, yang membuat diri kita melakukan segalanya atas nama ketergesaan. Kita sudah sangat faham bahwa kita dituntu untuk melakukan aktivitas. Untuk melakukan pergerakan. Untuk melakukan dan melakukan, kita tidak boleh diam, kita tidak boleh berlahan-lahan.
Kita diharamkan menyediakan sedikit ruan dimana kita bisa berhenti dan melihat apakah kaki kita maish menginjak bumi. Kita benar diharamkan untuk itu. Kita doharamkan mengetahui arus apa yang memnuat kita bergerak sekarang. Kita diharamkan untuk itu. Di sini kita hanya dihalalkan bertanya satu hal apa selanjutnya jadwal kita. Agenda apa yang menunggu kita.
Kita diuntut untuk selalu berada di jalan. Menaiki mobil atau sepeda motor, menjalankanya dengan kecepatan tiada tara. Melibas siapa saja yang di jalan itu bergerak pelan. Kita sedang diburu oleh sesuatu yang kita sendiri tidak tahu. Lalu suatu saat jika alam memang sudah menghendaki kita berhenti, dengan mudah kita salahkan saja waktu, “ ah memang waktu bergerak sangat cepat”.
Kita beruntung berhadapan dengan mahluk yang bernama waktu. Yang entah sebenarnya ia berwujud seperti apa. Sekejam apapun kita menganiaya dia dia tidak akan menampar pipi kita, atau bahkan sekadar memandnag kita dengan raut yang penuh kebencianpun tidak. Kita benar dibuat beruntung hanya denagn waktu kita berhadapan. Musuh paling besar kita. Yang setiap saat selalu kita salahkan karena dia bergerak terlalu cepat. Dan dengan alasan-alasan yang indah kita sellau mengatakan kita belum smepat berbuat apa-apa, kita beluam sempat bergerak cepat seperti waktu. Kita snagat beruntung .
Saya pun tak tahu andaikan waktu bisa bicara dengan bahasa yang kita fahami dia akan berkata apa pada kita. Mungkin dia akan marah kepada saya yang sempat menulis tentang ini. Mungkin dia akan menampar saya yang sangat bodoh memperlakukanya seolah dia tidak hanya berjumlah dua puluh empat titik.tapi itu tidak akan pernah terjadi karena waktu memang sudah sejak pada awalnya tidak jelas dia mahluk apa. Maka kita bisa tetap menang denagn alasan-alasan indah kita.
Atau mungkin waktu juga tidak pernah berasa kalah atas diri kita. Iya mungkin waktu tak pernah merasa kalah dengan diri kita. Maka untuk apa kita tetap diam, ayo lakukan aktivitas lagi, ayo berkecepatan lagi. Ayo ..ayo kita beramai-ramai meramaikan jalanan dan menghabiskan sisa kelelahan kita di jalan raya. mari ...waktu tidak akan pernah merasa kalah jika lawan bertarungnya hanyalah kita.

yogya 06-04-14 

Senin, 31 Maret 2014

Sketsa Perjalanan Lupa


Aku juga akan pulang suatu saat nanti.  Tapi bisakah itu terjadi tidak karena sesal yang kita tumpuk di tanah ini. Kebodohan yang kita rangkai lalu dengan bangga melihatnya seperti mutiara. Kalungkan di leher sendiri. Tanpa sambil terisak ku pamerkan pada orang-orang di sekitarku. Tapi sama saja, mereka juga berkalung mutiara yang sama. Tampa sambil terisak terus saja aku berjalan sambil membau bangkai diri seolah itu parfum dari negeri yang jauh.
---
Di sini tak ada lagi yang lebih berharga selain lupa. Disini air mata tak lagi keluar dari derita. Disini aku telah lama membangkai. Di tumpuk kata-kata. Tapi hanya satu yang terbaca. L-U-P-A. Disini sesal yang timbul lahir dari kenangan dan penyesalan, hanya suara ayam berkokok pagi hari. Disini semua orang berkata-kata tapi yang terdengar hanya L-U-P-A. Disini yang layak hidup hanya bahagia, yang lahir dari LUPA. Entah dia mahluk macam apa. Disini kita tak akan tahu siapa-siapa. Seperti aku sekarang. Ada yang diam-diam masuk dalam diriku, dan menguasai semuanya. Tapi aku tak tahu. Ini aku tulis bukan karean aku sadar, tapi karean lupa telah benar merajalela. Maafkanlah aku jika dari tulisan ini yang lahir hanya dusta. Maafkanaku. Mungki kalian hanya perlu datang ke sini, diam dan bergembira. Jika kalian berani lakukan itu maka tulisan ini sia-sia saja adanya. Tapi sejak awal aku tahu kalian tak akan berani lakukan itu.
---
Kalian tidak akan tahu apa-apa dari tulisan ini. Seperti aku yang juga sejak awal tak tahu apa-apa. Juga tak tahu jika aku telah menulis ini. Menjadikanya semacam kebohongan yang indah. Kemunafikan yang di tutup dengan selimut kata. Lihatlah, semuanya melebur entah akan menjadi apa. Tapi lihatlah. Lihatlah. Ada yang sedang terisak tanpa air mata. Ada yang sedang tercabik oleh sesuatu yang sebenarnya tak ada. Ah ini hanya permainan. Permainan kata yang akhirnya kau dan kalian semua akan tahu. Aku berbohong. Tapi aku tak tahu. Kalian 



(gambar sketsa karya Romo F.X Mudji Sutrisno S.J, dipamerkan dalam pameran sketsa Ranah Sketsa dan Puisi, TIM Jakarta 2013) 

Minggu, 31 Maret 2013

HUJAN




Aku sudah berjalan diantara hujan. Aku sudah merasakan gemuruh petir dan suara nyanyi hujan yang jatuh ke bumi. Aku sudah merelakan diriku diguyur air tuhan ini. Aku sudah merelakan kesunyianku diusik oleh suara air yang jatuh. Aku sudah menyerahkan diriku pada rintik hujan ini. Tapi satu, aku tak bisa melepas hatiku. Gemuruh petir dan nyanyi riang hujan tak bisa menyembunyikan kesepianku. Dinatara rintik hujan dan gemuruh petir, di dalam hatiku kesunyian itu bersemayam. Kesunyian penuh gemuruh entah apa namanya, keresahanya membisukan suara petir yang mengelegar, kesepiannya mendiamkan rintik hujan yang tetap turun. Gelisah tanpa suara, gemuruh tanpa gaduh.
Aku masih berjalan diantara hujan. Aku masih membodohi dan membohongi gejolak hatiku dengan suara hujan. Bayangan-bayangan itu masih saja memburu keberadaanku. Aku masih ingat bagaimana kedua lelaki itu membuka resleting celananya. Masih terdengar dengan jelas bunyi resleting yang mulai usang itu “ krek....krek..krekkk” seperti pintu neraka yang dibuka malaikat untuk para pendosa.
Di dalam rumah tuhan itu jiwaku mati. Aku hanya wadah untuk sperma lelaki-lelaki yang haus kenikmatan. Tubuhku sudah bermandikan kringat, bau amis sperma dua lelaki itu bagaikan nafas alam semesta. Aku masih ingat bagaimana aku dijadikanya boneka, aku maisih ingat bagaimana kelamin lelaki itu mengakhiri kemanusiaanku. Aku juga msih ingat sebelum puncak orgasme, sebenarnya aku juga menikmati permainan dua lelaki yang tak aku kenal itu. Nikmat juga.
Dirumah tuhan itu aku memulai perlawananku pada tuhan. Aku sudah mumet, aku sudah tak tahu harus kemana, aku sudah tak berdiri diatas titik duri, aku bahkan tak tahu diatas apa kaki kecilku berdiri. Aku bukan lagi seorang muslimah berhiaskan kerudung panjang nan anggun. Aku sudah bukan seorang yang istimewa dihadapan tuhan dan manusia.
Aku sudah tidak percaya tuhan. Bagaimana tuhan bisa menciptakan manusia untuk menghilangkan kemanusiaan manusia lainya?. Aku sudah tidak bisa menjawab pertanyaan-pertanyaanku sendiri. Hidupku dibayangi kenikmatan yang diperkenalkan dua lelaki dirumah tuhan itu. Tapi entah, setelah itu aku tidak berani mengulanginya lagi. Aku takut atau memang aku yang gila. Bekas-bekas kenikmatan itu masih terasa hingga kini, aku membawanya dalam setiap langkah yang kujejak.
***
Kini aku berjalan bersama hujan. Aku benar-benar merasa kesepian, setelah kejadian di rumah tuhan itu, hidupku semakin tidak jelas. Pemerkosaan 5 tahun lalu itu telah membuat waktu-waktuku berjalan lambat. Aku tak bisa hanya sekadar berdiri, aku diseret waktu entah kemana.
“Ayo kita berjalan lagi” kata laki-laki yang kini berada disampingku bersama hujan
“aku sudah lelah” jawabku sambil terduduk dibawah pohon randu
“Aku tahu, ”
Hujan tak memperdulikan kami. Air turun turun bukan karena ingin meredam gemuruh dihatiku. Aku dan suamiku duduk di pinggir jalan yang semakin sepi. Kami saling memandang. Aku melihat mata suamiku sayu, lelah, gembira dialah yang setia menemani perjalananku bersama hujan. Aku tak pernah bisa menceritakan bagaimana tuhan mempertemukan aku dan suamiku.
Di setiap jalan-jalan yang aku susuri bersama suamiku aku kembali menemukan tuhan. Bukan dimasjid, bukan di gereja, tapi disorot mata setiap gelandangan dan orang-orang terbuang yang kelaparan menyeret langkahnya di jalan, aku melihat tuhan.
Gemuruh dihatiku mulai terjawab. Aku gelisah karena aku jauh dari kesejatian kehidupan, aku jauh dari tuhanku. Aku sekarang sadar, biarkan kemanusiaanku hilang, biarkan keperawananku di jelajahi orang-orang. asal jangan aku kehilangan tuhanku lagi. Kerinduanku pada yang sejati itu, gelisah hatiku, gemuruh hatiku untuk bertemu yang sejati itu mengalahkan suara hujan.
Senja mulai terlihat menggulung siang, dan malam yang malu-malu mulai tergelar.
“Sampai kapan kita akan terus berjalan” tanya suamiku
“ Sampai kita menemukan apa yang kita cari sayang”
“tapi apa yang kita cari”
“kedamain sayang”
“ tapi aku sudah terlalu lelah, aku capek”
Aku tahu suamiku tak setegar aku. Penyakit yang mengerogoti tubuhnya bukan koruptor yang bisa disogok dengan uang. Raga suamiku makin lemah, aku melihatnya dengan jelas, kakinya sudah tak berdiri tegak. Tulang-tulangnya mulai terlihat menonjol memakan sisa dagingnya. Jiwanya hidup dalam tubuh yang menderita penyakit kutukan, orang-orang menamai penyakit itu HIV. Tapi aku tak perduli, dia itu juga manusia.
***
Suamiku masih ingin hidup. Aku melihat dibalik matanya yang sayu semangat hidup yang tak pernah padam. Jiwanya masih rindu mencari kesejatian. Tapi raganya ingin berhenti. Jiwa dan raga sedang bertarung, dibawah pohon waru dia terkapar.
Aku tak bisa melakukan apa-apa. Sebenarnya jika jiwanya mau bangun, maka raganya akan tunduk. Sebenarnya jika ada sengatan ke dalam jiwanya raganya akan bangun. Aku sudah mumet, aku harus menolong suamiku. Jiwanya harus disadarkan bahwa hidup ini sangatlah berharga. Kematian itu kepastian sementara kehidupan adalah misteri berharga.
Aku berlari meninggalkan suamiku.
Tukang bakso lewat diujung jalan. Aku mendekatinya,
“ bang bisa pinjam pisau pemotong sayur itu?” tanyaku pada tukang bakso itu
Wajah tukang bakso itu terkaget-kaget “ o iya neng silakan”
Aku mengambil pisau itu, aku berlari menuju suamiku. Aku tak mempedulikan tukang bakso yang melihatku keheranan.
Suamiku masih terkapar di bawah pohon. Aku melihat matanya tertuju padaku. Saat itu udara terasa benar-benar tak ada. Pohon-pohon seperti layu, melihat kami berdua.
“ sayang, apa yang akan kau lakukan dengan pisau itu” tanya suamiku dengan sisa suaranya
“ aku ingin kau dan dan manusia-manusia lain lebih menghargai hidupnya” jawabku
“ apa”
Tanpa menjawab pertanyaan suamiku, aku sudah mulai mengiris urat nadiku. Aku membunuh diriku.
“ istriku kau rela dihakimi allah dan menadapat kutukan dari manusia, hanya karena kau ingin berkata bahwa hidup ini berharga. Maka kau tak bunuh diri untukku tapi kau bunuh diri untuk kita manusia semuanya” suara suamiku, kata-kata suamiku mengantar kepergian nyawaku, menghadap yang punya.
---TAMAT---
danang.t.p.Yogyakarta-29-03-13




Minggu, 24 Maret 2013

MENYAPA


Sudah lama tak kusapa, ingatan-ingatan yang seharusnya terabadikan. Fikiran-fikiran yang harusnya terpatri, dan imajinasi-imajinasi yang seharusnya terkembangkan abadi. Sudah terlalu lama, hingga sepertinya sulit tangan ini menari-nari di atas ingatan, menjejak di atas imajinasi, dan mengoreskan fikiran-fikiran di atas kertas. Terasa berat memang, tangan ini sudah tak lagi sepiawai dulu, fikiran ini juga sudah tak se ringan dulu. Banyak cerita-cerita terlintas, tapi hanya sejenak. Dan semuanya aku tinggalkan pergi. Masih sempatkah kau menengok dunia yang sebelumnya kau dambakan?? Sepertinya sudah tidak, kau sudah terlalu nyaman dengan duniamu yang baru, dunia loncatan katamu dulu. Dunia awalmu sepertinya sudah terlupakan atau memang kau lupakan. Tapi malam ini ingatanku berlari memburu, mimpi-mimpi awalku yang ternyata terlupakan. 

Jogja 24-7-2011

11 HARI

negeri ini terasa sepi, setelah malam lalu dia pergi meninggalkanku sendiri. 11 hari yang akan datang ia sudah tidak menginjak tanah yg sama denganku. ia sudah tidak menghirup udara yang aku hirup. walapaun kami tetap berada pada bumi yg sama. 11 hari yang akan datang. menunggu kepulanganya. bayanganku sudah meluncur bersama dentingan suara kereta yang akan mengantarkanku berjumpa denganya, 11 hari yang akan datang.
andaikan aku mati besok atau sebelum 11 hari itu, jasadku tidak akan pernah dia lihat lagi. maka semoga nyawaku bertahan hingga 11 hari yang akan datang itu. semoga
 

 ------
 imajinasi atau sukmaku yang terbawa bersamanya aku tidak tahu. sejak kemarin malam negeri ini benar-benar terasa sepi. aku merasakan panasnya udara timur tenggah, dia telah membawaku ke tengah padang pasir itu. sementara disini, di jogja tubuhku melayang, hanya bagai raga kosong.
----
terakhir dia bertemu denganku di jogja, 3 tahun kami hanya saling diam. walapaun kadang bercanda malu-malu. aku masih ingat dipinggir kali code. angin jogja yg dingin menerpa tubuh kami. dan hari ini jogja yg dingin itu telah pergi dari ingatanku. aku terbawa bersamanya di timur tengah yg gersang.
tuhan begitu Lucu membuat skenario ini. kalau saja aku berani sekarang di jogja aku akan berteriak kenapa Tuhan memisahkan dia dengan mataku.
----
aku yang bodoh masalah geografi tidak tahu apakah di timur tengah sekarang siang atau malam. yg jelas di jogja dan negeri ini seperti sudah tidak ada manusia lagi. kau telah membawa lari jiwaku dan meninggalkan imaji dan sukmaku di jogja sendirian.

---
semoga 11 hari itu kau benar-benar mencapai impianmu. aku terlalu bodoh untuk mengikutimu. saat kau sudah hafal semua isi al quran aku masih belum tamat mengeja huruf hijaiyah.

---
11 hari yang akan datang Tuhan masih memberiku umur untuk berjumpa denganmu. apapun yg terjadi. aku tidka ingin ketika kau pulang aku sudha membujur kaku.


yogyakarta 23-3-12

Jumat, 22 Maret 2013

MERAYAKAN KEHIDUPAN SEJATI BOEDI ISMANTO SA



"Saya lahir tidak ingin menjadi penyair, tapi ingin menjadi manusia",
itu kalimat akhir yang diucapkan alm. boedi ismanto kepada temannya saat ketemu di tegal sebelum meninggal kemarin.

Ia juga berkata "ibarat gajah, mati tak meninggalkan gading" – ketika seorang Presiden memasang gambarnya di tepi jalan merayakan panen raya, padahal para petani yang berjuang menanam padi.
Kebanyakan manusia berjuang mengada-adakan dirinya, menonjol2kan dirinya, bahkan untuk itu mereka meniada-niadakan orang dan makhluk lainnya, bahkan 'meniadakan' Tuhan. Itulah kematian

Manusia Tauhid adalah orang yg terus berjuang untuk tidak mempercayai adanya, karena yg sejati ada hanyalah Maha Penciptanya, serta hanya Dia-lah yg sManusia Tauhid adalah orang yg terus berjuang untuk tidak mempercayai adanya, karena yg sejati ada hanyalah Maha Penciptanya, serta hanya Dia-lah yg sejatinya berkarya.
Itulah kehidupan.

Di maqam kesadaran itulah persemayaman makrifat Budi Ismanto SA.
Manusia yang mengenal hakekat Tuhannya adalah yg   menemukan 'belum'nya selama menjalani 'sudah' puluhan tahun lamanya.
Boedi sudah menemukan hakekat "ada dalam tiada, mentiada sehingga ada".
Itulah kehidupan sejati, yg bersih dari kepalsuan, yg mulai tadi malam: Boedi memasukinya dan bertempat tinggal di dalamnya, menikmati keabadian bersama Allah.

llah swt, para Malaikat, Nabi2, Rasul2 dan Auliya menyambut Boedi Ismanto dengan nyanyian agung;
Inna lillahi wa inna ilaihi roji'un.  Itulah statemenpaling mendasar dari Allah, yang kita ucapkan untuk merayakan kehidupan sejati Boedi Ismanto.

Emha Ainun Nadjib
11 Maret 2013.