-

_dalam setiap kata yang kau baca,
selalu ada huruf yang hilang
kelak kau pasti akan kembali menemukanya
di sela kenangan penuh ilalang__


Minggu, 11 Mei 2014

LAKI-LAKI DAN KAMAR




Kaca rias itu masih berdiri tegak di pojok ruangan. Meja kecil di depanya terlihat berantakan. Lipstik, bedak dan berbagai alat rias tercecer di meja itu. Tampaknya memang tak ada yang berubah sejak 30 menit yang lalu.
Disamping meja rias itu, pintu kamar mandi terbuka lebar. Kran terbuka kecil dan suara gemericiknya air yang mengucur ke bak mandi benar-benar terdengar. Seorang laki-laki tergolek lemah diatas ranjang. Badanya setengah ditutup selimut. Rambutnya yang ikal, acak-acakan. Mukanya terlihat sangat lelah dan lesu walaupun sekarang dia sedang tertidur. Kedua tanganya terbuka lebar. Seolah dia habis melepas pelukan seseorang.
Diujung ranjang sepasang sepatu kulit berwarna coklat, berjajar. Di ujung belakangnya ada tulisan kecil made in Manding. Parangtritis. Tak jauh dari sepatu itu sepasang kaos kaki yang juga berwarna coklat, namun agak tua, tergletak juga. Dua langkah dari kaos kaki itu, celana jeans dan kemeja batik berwarna merah tertumpuk acak-acakan. Dekat tumpukan itu ada dua biji kancing baju yang lepas. Dari model tumpukan bajunya,  semalam laki-laki itu pasti melepas bajunya dengan tergesa-gesa.
Dua pasang meja kecil dari kayu jati berjajar di kiri dan kanan ranjang. Ukiranya yang rumit, dan detailnya yang halus, bisa dipastikan ranjang dan dua meja kecil itu di pesan dari daerah Jepara. Dua botol bir berdiri, sementara satu botol lagi rebah, diatas meja kecil bagian kanan. Dari ujung botol yang rebah sisa bir menetes pelan. Ada dua gelas kecil yang sekarang sudah tak sempurna lagi bentuknya. Pecah 30 menit yang lalu.
Pecahan gelas kaca itu menyebar di lantai, beberapa serpihanya juga terlihat masuk dibawah kolong ranjang. Warna lantai yang putih bersih, memantulkan langit-langit kamar. Sebuah lampu gaya kuno bergantung di tengah langit-langit kamar. Di beberapa detail lekukan lampu hias itu, laba-laba membuat jaring-jaring sarangnya. Dari ujung detail ukiran lampu satu ke detail ujung yang lain. Mengelantung-gelantung, serat-serat putih. Melihatnya sekilas bagaikan sobekan-sobekan awan kecil yang tersangkut.
Lelaki yang terbaring ditutupi selimut itu tetap pada posisinya. Begitu juga kamar itu. Tak ada yang berubah. Hanya terlihat dua ekor cicak yang tadi di ujung langit-langit diatas kusen jendela kini telah beralih tempat. Setelah melihat seekot nyamuk yang terbang ke arah balik almari. Bergegas kedua cicak itu pun mengejar nyamuk itu. Entah bagaimana nasib nyamuk itu nanti dibelakang almari.
Udara dingin  yang lalu menyisakan embun-embun udara di kaca jendela. Bau alkohol yang memenuhi kamar sedikit demi sedikit keluar lewat jendela. Udara pagi mulai masuk kamar, mengeser sisa-sisa udara malam tadi yang penuh bau alkohol.
***
Laki-laki yang terbaring ditutupi selimut itu tetap dalam posisinya. Diatas kasur. Hanya sekarang kedua tanganya mengatup di dada. Seolah memeluk sesuatu entah apa. Mukanya yang tadi terlihat sangat lesu dan lelah. Kini berubah. Di bibirnya telah tersunging senyum tipis. Raut mukanya seperti sedang gembira. Bibirnya yang tipis semakin indah dengan rambut-rambut kumis yang tumbuh jarang-jarang. Bentuk kumis itu sudah terlihat, tetapi tak lebat.
 Matanya yang tadi tampak menyembunyikan tidur yang resah kini berubah. Walaupun sang mata tetap tertutup. Matanya kini menelan kenikmatan yang maha nikmat, entah kenikmatan apa itu. Hidungnya yang mancung, benar-benar berfungsi memberikan efek sangat indah pada wajah laki-laki itu. Bulu-bulu hidunya terlihat sedikit. Kaki laki-laki itu jenjang. Selimutnya tak menutupi semua bagian tubuhnya. Dua kaki jenjang itu ditumbuhi bulu-bulu kaki tipis.  
Laki-laki yang terbaring di atas ranjang itu tetap pada posisinya. Entah kenikmatan macam apa yang membuatnya benar-benar terbaring tak sadarkan diri. Sampai kapan tidak ada yang tahu. Kenikmatan macam apa yang bisa bertahan abadi?.
***
Di luar kamar kota telah berubah kelabu. Laki-laki itu tetap saja tak berubah dari posisinya. Cahaya hanya seakan menelan segalanya, dan hanya terasa redup. Semua terasa setengah-setengah, antara terang dan tidak. Kelabu.
Jalanan masih sangat penuh dengan kendaraan. Orang-orang berangkat ke pasar. Beberapa gelandangan terlihat terkapar di bawah tiang lampu jalan. Motor-motor saling beradu kecepatan. Di ujung jalan pada perempatan itu. Beberapa mobil terlihat saling terjang, mencari posisi paling depan.
Di ujung jalan dekat taman bunga dan patung kijang yang berdiri. Aku melihat diriku berjalan, pelan saja. Menghabiskan waktu. Menikmati suasana kota yang semakin kelabu. Orang-orang di kota ini sudah lupa waktu. Malam, siang, sore, pagi, semua terasa sama saja. Disini yang paling kuasa hanya kelabu. Sebuah komposisi warna yang aku tak tahu tersusun dari apa.
Aku masih berjalan. Dan melihat di ujung sana ada dua pemuda yang bertengkar, merebutkan sebungkus nasi. Sementara diseberang jalan, beberapa orang menyantap hidangan, dengan rakus. Badan orang-orang itu sudah tak berbentuk. Perut mereka membuncit. Lidah selalu menjulur-julur, mengeluarkan liur yang kental. Mata yang memerah. Di kota ini semua orang sudah tak tahu kapan harus tertidur.
Tiba-tiba saja mataku memandang jendela yang terbuka di lantai 3 sebuah apartemen. Aku mulai menduga-duga apa yang sedang terjadi di kamar itu. Mungkinkah ada sebuah keluarga yang sedang bercengkrama. Menonton televisi sambil mengamati tangis bayinya di ranjang. Mungkin juga, ada sepasang kekasih yang sedang bercinta. Atau mungkin juga ada seorang pemuda sedang sendiri,membaca buku ditemani secangkir kopi. Yang tak ia sadari sudah dingin ketika pertama di tuangkan ke dalam cangkir.
Aku terus menerka. Bergerak dari satu kemungkinan ke kemungkinan lain. Dan aku tak sadar sudah terdiam. Berdiri di dekat pohon cemara. Dengan mata yang tetap memandang ke atas. Melihat jendela yang terbuka di sebuah apartemen di ujung jalan itu.

Laki-laki yang tertidur dengan senyum merekah itu belum juga berdaya. Ia tetap terlentang dengan tangan terbuka. Dua cicak yang tadi mengejar nyamuk di balik almari. Telah kaku, mati, ternyata ada nyamuk yang sangat besar di balik almari itu. Dan sang cicak terhisap darahnya habis. Bangkainya tinggal rangka. Dan terjatuh dibawah almari. Sontak saja beberapa semut mengerubuti bangkai itu.
***
Laki-laki itu mulai berdegup jantungnya. Terlihat bulu-bulu dadanya yang tak ditutupi selimut bergetar-getar.
Dua petugas apartemen mendekat dan berbincang di depan kamar laki-laki itu.
“ siapa, yang berada di kamar itu?, dia tak pernah keluar kamar”
“ aku tak tahu, tanya saja resepsionis”
“ kira-kira apa yang ia lakukan sendirian di kamar berhari-hari”
“ mungkin menjelajah dunia maya”
“ tapi bukankah itu membosankan”
“ ah aku tak tahu, itu juga cuma perkiraanku
Setelah meluruskan letak lukisan yang agak miring di dinding lorong apartemen itu. Dua petugas tadi pergi. Dan yang tersisa di lorong itu tinggal sunyi, sepi.
Aku masih terduduk dibawah pohon cemara. Dan tak henti-henti menerka-nerka apa yang sedang terjadi dalam kamar itu. Kota tetap saja kelabu. Di tempat sampah terlihat tumpukan jam tangan, jam dinding, dan segala hal yang berhubungan dengan waktu. Semua orang di kota ini telah membuang peralatan itu ke tempat sampah. Bahkan banyak yang memusnahkanya dengan dibakar atau di kubur dalam tanah.

Bantul 14-07-13-Sleman 05-03-2014 danang tp

Tidak ada komentar:

Posting Komentar