-

_dalam setiap kata yang kau baca,
selalu ada huruf yang hilang
kelak kau pasti akan kembali menemukanya
di sela kenangan penuh ilalang__


Selasa, 27 Mei 2014

puisi kita


Mata aksara
Sajakku tidak abadi
Mereka tidak terwarta dalam lembar-lembar kertas putih
Mereka dihembuskan oleh angin laut
Dan
Bersemayam dalam sukmamu
Sehingga kau
Tak harus membaca

-tri subarkah-

---lukisan.AD PIROUS, Tulisan biru---

Tanpa judul

Ada yang menyeret kaki
Meninggalkan jejak
Sungai tanpa muara
Air darah dari kaki penuh duri

Lalu ibu dan bapak datang sekilas dan berkata
“ …………………”
Tapi hidup bukanya tetap harus berjalan
Dengan lupa yang menjadi raja

“ ingin kumuarakan jejak kaki, pada dukamu ibu”
Duka yang terlupa
Karena hampir aku selalu kenyang dijejal kata
Lalu tertidur
Setelah kenyang dengan buih keinginan

Danang t.p


Jejer

Pada jejer pertama
“ kau bertanya ini lakon apa”
“itu adegan apa”
“ itu siapa”
“ aku tidak faham bahasa purba”
Saat itu irama nafasmu menyentuh pipiku
Ku jawab saja:
“ itu seperti kita, wayang yang tidak tahu disini untuk apa”

Pada jejer kedua
Kayon ditancap ditengah kelir
Dalang mengemakan suluk indah tapi kita tak       faham bahasa purba
4 orang sinden menimpuhkan kaki
Menahan suara pada ujung hidung
Dan selanjutnya
Kita dengar nyanyian purba
“ ah kita tetap saja tak tahu disini untuk apa” kataku
Tapi baiklah
Ini lebih baik
Karena kau tidak lagi bertanya

Pada jejer ketiga
Kayon ditancap di tengah kelir
“ bumi gonjang mangklung, kang langit”
“ samudro kocak sumamburat”
“ yayah kinebur banyune hoyag..hoooooong eeeeehhhh”
Tarikan panjang suara dalang memuncakkan liuk suluk
Aku:
“ tapi hidup kita belum sampai puncak”

Danang t.p

Tidak ada komentar:

Posting Komentar