Sajakku tidak abadi
Mereka tidak terwarta dalam lembar-lembar kertas
putih
Mereka dihembuskan oleh angin laut
Dan
Bersemayam dalam sukmamu
Sehingga kau
Tak harus membaca
-tri subarkah-
---lukisan.AD PIROUS, Tulisan biru---
---lukisan.AD PIROUS, Tulisan biru---
Tanpa
judul
Ada yang menyeret kaki
Meninggalkan jejak
Sungai tanpa muara
Air darah dari kaki penuh duri
Lalu ibu dan bapak datang sekilas dan berkata
“ …………………”
Tapi hidup bukanya tetap harus berjalan
Dengan lupa yang menjadi raja
“ ingin kumuarakan jejak kaki, pada dukamu ibu”
Duka yang terlupa
Karena hampir aku selalu kenyang dijejal kata
Lalu tertidur
Setelah kenyang dengan buih keinginan
Danang t.p
Jejer
Pada jejer pertama
“
kau bertanya ini lakon apa”
“itu
adegan apa”
“
itu siapa”
“
aku tidak faham bahasa purba”
Saat
itu irama nafasmu menyentuh pipiku
Ku
jawab saja:
“
itu seperti kita, wayang yang tidak tahu disini untuk apa”
Pada jejer kedua
Kayon ditancap ditengah
kelir
Dalang mengemakan suluk
indah tapi kita tak faham bahasa purba
4 orang sinden
menimpuhkan kaki
Menahan suara pada
ujung hidung
Dan selanjutnya
Kita dengar nyanyian
purba
“ ah kita tetap saja
tak tahu disini untuk apa” kataku
Tapi baiklah
Ini lebih baik
Karena kau tidak lagi
bertanya
Pada jejer ketiga
Kayon ditancap di
tengah kelir
“ bumi gonjang
mangklung, kang langit”
“ samudro kocak
sumamburat”
“ yayah kinebur banyune
hoyag..hoooooong eeeeehhhh”
Tarikan panjang suara
dalang memuncakkan liuk suluk
Aku:
“ tapi hidup kita belum
sampai puncak”
Danang t.p
,+1974,+oil+on+canvas,+120+x+100+cm.jpg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar