-

_dalam setiap kata yang kau baca,
selalu ada huruf yang hilang
kelak kau pasti akan kembali menemukanya
di sela kenangan penuh ilalang__


Senin, 30 Juni 2014

BELAJAR FILSAFAT


Beberapa waktu yang lalu, ketika ada seorang pendidik yang berkata filsafat itu tetap sesuatu yang membahayakan. Pada intinya agama harus benar-benar dipegang teguh. Pendidik itu meragukan manfaat belajar filsafat. Pun akhirnya kami dipaksa juga bertanya pada diri kami sendiri.
Sekiranya apa yang beliau maksud dengan filsafat? Pada bagian mana filsafat itu membahayakan? Aksiologi-kah? Metafisika-kah? Atau epistemology-kah? Apakah filsafat harus selalu dipertentangkan dengan agama? Bagian filsafat mana yang harus dipertentangkan dengan agama? Pertanyaan kami pun mengkrucut pada persoalan yang lebih sempit. Dengan posisi pendidik tersebut sebagai lulusan magister apakah tidak pernah belajar filsafat ilmu? Pada akhirnya juga pertanyaan –pertanyaan tersebut hanya kami pendam sendiri.
Kami tidak juga memunculkan pertanyaan kami pada pendidik tersebut, yang memang saat mengutarakan itu posisi beliau adalah mitra bicara kami. Bukan karena takut. Lebih karena kesadaran filsafat tidak akan pernah bisa diringkas jelaskan, akan tetapi tidak berarti filsafat itu rumit. Semuanya hanyalah soal waktu. Filsafat menuntut dan meminta waktu pada kita untuk dipelajari, dialami, , dan dirasakan.
Tapi akhirnya kami dihantui rasa miris, lebih pada posisi beliau sebagai pendidik yang mempunyai peran besar menghasilkan siswa-siswa yang berpengetahuan luas dan bersifat terbuka. Juga karena usia beliau yang cukup tua dan menyandang gelar magister yang secara umum pasti sudah memepelajari filsafat.
 Bisa jadi apa yang dikatakan beliau tentang filsafat sebagai ilmu yang terkesan negative hanyalah untuk menguji tekad dan kemantapan kami dalam jalan filsafat. Jika memang begitu, tentu gayung bersambut dengan harapan kami “ agar diberi kelempangan dan kemantapan dalam jalan filsafat”.
Akan tetapi jika tidak demikian. Tentu itu sebuah bencana, bagi siapa? bagi masa depan pendidikan kita. Kami tidak bisa membayangkan jika pendidikan kita digerakkan oleh orang-orang yang mempunyai prasangka buruk terhadap suatu ilmu pengetahuan. Kemungkinan besar –bisa juga kemungkinan ini mleset- orang yang akan dilahirkan dari pendidikan yang penuh pransangka terhadap ilmu, adalah orang-orang yang tertutup dalam berfikir. Merasa cukup dengan hanya digerakkan oleh dugaan-dugaan yang belum tentu benar. Merasa tidak perlu lagi belajar, membaca dan melakukan penyelidikan lebih dalam.
Tapi lagi-lagi kami dipaksa memahamkan diri kami sendiri, bahwa “bayang-bayang” tentang filsafat pada masyarakat luas sudah begitu mapan. Maka asumsi kami, untuk menjelas terangkan apa dan bagaimana sebenarnya belajar filsafat harus dengan kesabaran, kerendahan hati, dan kemulusan tutur kata yang maha.
Kami teringgat ujaran Prof Alois Agus Nugroho, “ untuk menjadi filsuf atau paling tidak pendidik filsafat, yang diperlukan adalah kerendahan hati”. Beliau Prof Agus mencontohkan, Ludwig Witgenstein, terlalu tinggi hati dan berpegang seolah keyakinanya paling benar pada periode pertama pemikiranya. Sehingga menyatakan bahasa yang tidak ada referensi empirisnya dalam dunia nyata tidaklah bermakna, maka batas bahasa adalah batas dunia. Yang jelas pemikiran itu kemudian harus ditolaknya pada periode pemikiran kedua. Maka dari kasus tersebut rendah hati dalam menyampaikan segala hal adalah sesuatu yang penting, khususnya dalam filsafat yang memang coba terus-menerus kami geluti.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar