Beberapa
waktu yang lalu, ketika ada seorang pendidik yang berkata filsafat itu tetap
sesuatu yang membahayakan. Pada intinya agama harus benar-benar dipegang teguh.
Pendidik itu meragukan manfaat belajar filsafat. Pun akhirnya kami dipaksa juga
bertanya pada diri kami sendiri.
Sekiranya
apa yang beliau maksud dengan filsafat? Pada bagian mana filsafat itu
membahayakan? Aksiologi-kah? Metafisika-kah? Atau epistemology-kah? Apakah
filsafat harus selalu dipertentangkan dengan agama? Bagian filsafat mana yang
harus dipertentangkan dengan agama? Pertanyaan kami pun mengkrucut pada
persoalan yang lebih sempit. Dengan posisi pendidik tersebut sebagai lulusan
magister apakah tidak pernah belajar filsafat ilmu? Pada akhirnya juga
pertanyaan –pertanyaan tersebut hanya kami pendam sendiri.
Kami
tidak juga memunculkan pertanyaan kami pada pendidik tersebut, yang memang saat
mengutarakan itu posisi beliau adalah mitra bicara kami. Bukan karena takut.
Lebih karena kesadaran filsafat tidak akan pernah bisa diringkas jelaskan, akan
tetapi tidak berarti filsafat itu rumit. Semuanya hanyalah soal waktu. Filsafat
menuntut dan meminta waktu pada kita untuk dipelajari, dialami, , dan
dirasakan.
Tapi
akhirnya kami dihantui rasa miris, lebih pada posisi beliau sebagai pendidik yang
mempunyai peran besar menghasilkan siswa-siswa yang berpengetahuan luas dan
bersifat terbuka. Juga karena usia beliau yang cukup tua dan menyandang gelar
magister yang secara umum pasti sudah memepelajari filsafat.
Bisa jadi apa yang dikatakan beliau tentang
filsafat sebagai ilmu yang terkesan negative hanyalah untuk menguji tekad dan
kemantapan kami dalam jalan filsafat. Jika memang begitu, tentu gayung
bersambut dengan harapan kami “ agar diberi kelempangan dan kemantapan dalam
jalan filsafat”.
Akan
tetapi jika tidak demikian. Tentu itu sebuah bencana, bagi siapa? bagi masa
depan pendidikan kita. Kami tidak bisa membayangkan jika pendidikan kita
digerakkan oleh orang-orang yang mempunyai prasangka buruk terhadap suatu ilmu
pengetahuan. Kemungkinan besar –bisa juga kemungkinan ini mleset- orang yang
akan dilahirkan dari pendidikan yang penuh pransangka terhadap ilmu, adalah
orang-orang yang tertutup dalam berfikir. Merasa cukup dengan hanya digerakkan
oleh dugaan-dugaan yang belum tentu benar. Merasa tidak perlu lagi belajar,
membaca dan melakukan penyelidikan lebih dalam.
Tapi
lagi-lagi kami dipaksa memahamkan diri kami sendiri, bahwa “bayang-bayang”
tentang filsafat pada masyarakat luas sudah begitu mapan. Maka asumsi kami,
untuk menjelas terangkan apa dan bagaimana sebenarnya belajar filsafat harus
dengan kesabaran, kerendahan hati, dan kemulusan tutur kata yang maha.
Kami
teringgat ujaran Prof Alois Agus Nugroho, “ untuk menjadi filsuf atau paling
tidak pendidik filsafat, yang diperlukan adalah kerendahan hati”. Beliau Prof
Agus mencontohkan, Ludwig Witgenstein, terlalu tinggi hati dan berpegang seolah
keyakinanya paling benar pada periode pertama pemikiranya. Sehingga menyatakan
bahasa yang tidak ada referensi empirisnya dalam dunia nyata tidaklah bermakna,
maka batas bahasa adalah batas dunia. Yang jelas pemikiran itu kemudian harus
ditolaknya pada periode pemikiran kedua. Maka dari kasus tersebut rendah hati
dalam menyampaikan segala hal adalah sesuatu yang penting, khususnya dalam
filsafat yang memang coba terus-menerus kami geluti.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar