Aku melihat satu
persatu huruf berjalan pergi meninggalkan kalimat
Dia berubah menjadi
angin, daun dan rerumputan
Ada yang terselip jadi
duka
Juga banyak yang
bersarang menjadi bahagia
Tapi sedikit sekali
yang hinggap di diam
Dengan sajak ingin ku
ambil mereka satu persatu
Menulis dengan langkah
kaki
Tapi bisakah:
“ ia mendatangiku
sendiri, untuk sekadar menawarkan diri”
Kita sudah lama hanya
dihidupi kaki dan mulut
Di pagi yang dingin ini
“ aku ingin mengambil
satu kata” kata pohon itu
Rupanya pohon itu tak
melihatku
Mati
Lunglali
Di siksa suara dan
langkah kaki tanpa renung arah
Lalu esok aku masih
berharap sunyi
“ tanpa sesal” kataku
Tidak ada komentar:
Posting Komentar