Hanya Rasa Memiliki
Ini saya masih menyukai budaya bangsa
Bukan itu, bukan untuk pamer
Bukan juga bertriak-teriak,
bermewah-mewah membicarakan budaya
Saat teman-teman yang lain sibuk
Iya sibuk...Sibuk memikirkan negara mungkin
Bukan itu semua
Tetapi rasa memiliki yang tak rela budaya kita terabaikan
terabaikan?...iya terabaikan
Budaya Indonesia yang kaya
Yang telah tertumpuk dalam masa yang lama
Budayaku akankah ,lestari atau hilang
Jadi pujaan atau terabaikan?
A. PENGANTAR
Siapa yang akan menjawab pertanyaan akhir pada puisi tersebut,? pertanyaan yang saya ambilkan dari se
buah iklan semen, akankah budaya Indonesia lestari atau hilang? Jadi pujaan atau terabaikan? Harapan Saya generasi muda yang menjawab pertanyaan itu dengan tegas “budaya kita akan lestari dan menjadi pujaan” tapi semoga harapan ini tidak hanya sekedar harapan kosong, tetapi ak
an menjadi kenyataan. Satu hal yang harus diketahui bahwa potensi Indonesia yang tidak boleh terabaikan adalah budaya. Bagaimanapun rasa memiliki terhadap budaya bangsa harus selalu dipegang dan dipupuk subur. Budaya masyarakat Indonesia sangatlah kompleks dan dinamis. Contohnya dalam bidang seni, mulai dari seni pertunjukan ada berbagai macam pentasseni. Hampir disetiap daerah memiliki pentas seni masing-masing. Di Jawa Timur ada seni Ludruk, Jawa Tengah ada Gambyong, dan masih banyak lagi dari berbagai daerah.
Masih ingat seni tari?, seni tari merupakan bagian dari kebudayaan Indonesia. Dalam perkembangannya seni tari Indonesia sangatlah beragam, hal ini dipengaruhi banyak faktor. Salah satu faktor itu adalah kenyataan bahwa Indonesia tersusun atas banyak wilayah entik, yang diantara sesamanya meliki perbedaan dalam hal , bahasa, adat-istiadat, dan norma kehidupannya. Tari tumbuh di dalamnnya, dalam rangkuman yang kuat dari ketiga segi budaya tersebut. Dengan sendirinya perwujudan tari antara daerah entik satu dan yang lainnya akan berbeda. Beda dalam hal bentuk fisual maupun beda dalam hal landasan moral maupun mental (Edi Sedyawati. 1981:110).
Lesunya kehidupan budaya di Indonesia menyebabkan kekayaan seni tari Indonesia yang sangat beragam tidak akan berarti apa-apa jika tidak ada langkah pelestariannnya. Seperti yang kita alami pada saat ini budaya Jawa dan masyarakatnya sedang mengalami perubahan dan pergeseran diberbagai sisi kehidupan yang dipengaruhi oleh: 1). Sosial, politik, dan budaya, 2). Semangat nasionalisme, 3). Arus indutrialisasi (Sumaryono, 2003,108-109 dalam Titik Purwaningsih). Keterangan inilah yang akan “menuntun” pembahasan lebih lengkap dalam esai ini tentang lesunya perkembangan seni tari tradisional dikalangan remaja. Sudah terbukti bahwa remaja cenderung lebih menyukai produk-produk seni yang “menarik” dan praktis tanpa memperdulikan apa yang ada dibalik kepraktisan tersebut. Tidak hanya masalah tentang kendala perkembangan tari tradisional dikalangan remaja. Tetapi dalam esai ini juga akan dipaparkan bagaiamana globalisasi yang telah menjadi kenyataan tak terhindarkan dan membuat kiblat budaya remaja Indonesia bukan lagi buadayannya sendiri tetapi kearah budaya asing, yang pada akhirnya berimbas pada kehidupan remaja sekarang yang jauh dari nilai-nilai moral yang baik. Bagaimana seni tari mampu menghadirkan alternatif penyelesaian bagi kehidupan remaja yang mulai menuju ke arah yang immoral? Adalah pertanyaan yang akan dijawab dengan mengkaji makna filosofis Tari Bedhaya. Seni tari yang akan dibahas secara khusus adalah seni tari Bedhaya Ketawang gaya Yogyakarta, nilai-nilai tentang bagimana seharusnya remaja menghadapi jaman globalisasi yang terdapat dalam tari bedaya akan menjadi sebuah alternatif untuk memperbaiki generasi muda menuju generasi yang berbudaya, yaitu berbudaya yang. Tetapi bukan berarti menjadikan remaja anti globalisasi karena sesunguhnya globalisasi bisa menjadi musuh yang menakutkan tetapi bisa pula menjadi ladang emas yang berprospek. Pertanyaan yang wajib dijawab adalah bagaimanakah mengubah globalisasi menjadi ladang emas, dengan tetap berada pada poros budaya ke-Indonesiaan?.
Ulasan tentang masalah dalam esai ini akan ditinjau dari berbagai sisi yang mengikuti kehidupan seorang remaja, tidak hanya dari segi remaja, karena tidak bijaksana rasannya jika kita menumpuk kesalahan pada diri remaja saja. Esai ini berupaya untuk menyajikan fakta-fakta yang menurut penulis menjadi penyebab seni tari tradisional menjadi sebuah barang aneh dikalangan remaja Indonesia. Berbagai rentetan fakta di dalam esai ini didasarkan pada beberapa pengalaman pribadi penulis. Sedangkan sebagian lagi merupakan analisis dengan mencoba melakukan tinjauan pustaka pada beberapa sumber kepustakaan.
B. KIBLAT BUDAYA GENERASI MUDA DAN SENI TARI YANG MULAI TERLUPAKAN
Masih inggat peristiwa Rengasdengklok, sumpah pemuda, Soe hok gie dan lain-lain. Fakta sejarah telah membuktikan pentingnnya generasi muda sebagai tulang punggung negara. Tetapi fakta tersebut seolah tertepis oleh berbagai hal yang sekarang lekat dengan kehidupan generasi muda secara umum. Tawuran pelajar, tindakan-tindakan vandalis dan berbagai penyimpangan sosial pada diri generasi muda, seolah ini semua sudah menjadi warna dalam kehiduapn generasi muda. Adakah dari semua tindakan tersebut yang mencerminkan budaya Indonesia?
Sulit kita temukan generasi muda yang mengandrunggi budaya bangsanya, dalam hal ini seni tari tradisional. Memang kenyataan bahwa arus globalisasi telah berhasil memotong sekat-sekat antar negara, yang menyebabkan setiap negara bebas membanjirkan budayanya pada negara lain. Hal ini menyebabkan generasi muda yang tidak memiliki pegangan kuat terhadap nilai-nilai budaya bangsanya akan terbawa banjir budaya tersebut. Banjir tersebut akan menyeret generasi muda sehingga mereka menjadikan budaya asing sebagai kiblatnya. Dari beberapa pertanyaan yang pernah penulis ajukan kepada teman-teman penulis hampir sebagian besar tidak mengetahui apa itu Bedhaya, Srimpi, Bagong Kusudiardjo dan lain-lain. Tetapi ketika saya tanya tentang Disco, Break Dance, Boy Band Smash, mereka dengan cerdasnya menerangkan panjang lebar.
Memang ini sebuah kenyataan yang begitu memprihatinkan, tetapi kita tidak bisa menumpuk kesalahan pada satu sisi saja. Terlupakannya seni tari tradisional pada kalangan generasi muda merupakan masalah krusial yang sepantasnya diperhatikan oleh berbagai pihak. Maka dari itu dalam bagian ini akan dijelaskan siapa saja sebenarnya yang telah memendamkan seni tari tradisional pada lubang yang sulit generasi muda untuk hanya sekedar mengenalnnya.
1. Generasi Muda yang Apatis, dan Mengikuti arus Globalisasi
Teringat kata-kata Soe hok gie yang intinya ada dua pilihan untuk generasi muda yang pertama menjadi manusia apatis, atau mengikuti arus. Generasi muda Indonesia lebih banyak yang bersifat apatis dan mengikuti arus dalam menghadapi gempuran budaya asing yang masuk melalui arus globalisasi. Tidak ada filterisasi terhadap budaya asing yang masuk ke Indonesia. Bagaimanapun juga budaya asing yang masuk tersebut akan mempengaruhi kehidupan generasi muda karena setiap budaya membawa ideologinya masing-masing, yang akan mempengaruhi perilaku seseorang. Salah satu wujud globalisasi adalah dalam hal tekhnologi informasi. Berbagai perusahaan tekhnologi informasi berlomba-lomba memproduksi HP dengan harga murah, dan dilengkapi fitur-fitur yang memanjakan pemakainya. Memang dengan alasan untuk memudahkan komunikasi HP merupakan barang yang ”halal” bagi remaja, tetapi alasan itu sepertinya sudah tidak berlaku sekarang, fitur jaringan internet yang bisa digunakan untuk mengakses jaringan-jaringan sosial membuat remaja tidak bisa hiduap tanpa barang kecil segenggam tersebut. Tidak hanya itu televisi kita juga hampir setiap hari menampilkan band-band, grup boy band SMASH dengan tariannya yang sebenarnya itu hanya memiliki niai keindahan dan hiburan semata, sangat sedikit pesan moral di dalamnya. Secara tidak sadar sebenarnya hal kecil seperti inilah yang membuat generasi muda tidak ada waktu untuk sekedar menenggok budayanya dalam hal ini tari tradisional.
Penolakan sepenuhnya terhadap budaya asing adalah hal yang kurang bijaksana, karena dalam budaya asing tersebut juga terdapat hal-hal baik yang harus dicontoh. Tetapi mengadopsi secara keseluruhan budaya asing juga meruapakan langkah yang tidak harus dilakukan karena ini akan mengkaburkan identitas budaya nasional. Maka jalan tengah yang paling ideal adalah berprinsip untuk melakukan filterisasi budaya sehingga kita tidak akan kehilangan identitas budaya nasional kita sebagai generasi muda. Prinsip-prinsip inilah yang akan dijelaskan dalam pokok bahasan berikutnya mengenai tari bedaya ketawang untuk menjadikan generasi muda lebih berbudaya. Dengan begitu generasi muda akan memahami bahwa seni tari tradisional tidak hanya berperan sebagai tontonan saja, tetapi juga memiliki nilai-nilai moral yang bagus.
2. Pendidikan Seni Di sekolah, Pelengkap Kurikulum
Bapak Pendidikan Indonesia, yakni Ki Hadjar Dewantara (1889—1959) sekitar setengah abad lalu telah mengemukakan bahwa nilai-nilai moral dapat diajarkan melalui seni pertunjukan (A.M Hermin Kusmayati.2006:4). Salah satu cabang dari seni pertunjukan adalah seni tari.
Sejelan dengan keeterangan tersebut Sal Murgiyanto dalam bukunya Tradisi dan Inovasi Beberapa Masalah Tari di Indonesia lebih jauh menjelaskan bahwa pendidikan kesenian sangat penting sebagai pembentuk watak dan mental anak. Pendidikan dan pengalaman tari memberikan manfaat secara pribadi, sosial, kebudayaan, maupun kreativitas. Seni tari seperti cabang seni lainnya, memberikan kesenangan dan kegembiraan pada pelakunya. Gerakan tari dilakukan oleh seluruh tubuh secara intelektual, emosional, dan fisikal, tari merupakan sarana yang ideal untuk menumbuhkan kesadaran diri, perkembangan diri, dan rasa percaya diri pada anak-anak. (Sal Murgiyanto, 2004: 152 dalam Titik Purwaningsih).
Beberapa teori yang penulis cantumkan tentang pendidikan seni tari disekolah serasa tidak berarti apa-apa ketika kita melihat implementasi pendidikan seni di sekolah. Disekolah Saya, pendidikan seni sejak kelas X dibagi menjadi dua yaitu pendidikan seni musik dan seni gambar, dan dalam waktu satu minggu hanya mendapat jatah satu jam pelajaran yaitu 30 menit. Ini menandakan seolah-olah seni itu sebuah pelengkap, keberadaan pelajaran seni hanya untuk formalitas dalam pendidikan formal. Selain itu pelajaran seni di sekolah umum cenderung siswa hanya dikenalkan pada dua bidang kesenian yaitu musik dan mengammbar, padahal cabang seni sangatlah banyak, dimana letak seni tari dan cabang seni yang lainnya? Doktrinasi guru dan sistem pendidikan yang Value Oriented, memperparah keadaan, murid dalam mengikuti pendidikan seni hanya sebagai pelengkap nilai raport agar naik kelas dengan nilai yang memuaskan, esensi dari pengajaran seni itu sendiri kabur.
Awalnya Saya pikir kondisi ini hanya terjadi disekolah Saya tetapi ternyata tidak. Setelah Saya bertanya kepada beberapa teman Saya lain sekolah ternyata sama. Pendidikan seni yang Dia kenal hanya musik dan seni gambar. Pendidikan seperti ini hanyalah memasung seni pada dua hal sementara seni dalam cakupan luasnya terpenjara oleh sistem pendidikan yang kemaruk.
Solusi yang dapat ditempuh dengan kembali pada teori pendidikan seni tari. Seharusnya para pendidik dan sekolah sadar bahwa pendidikan itu harus dijalankan dengan Knowledge Oriented dengan begitu siswa akan memahami seni sebagai sesuatu yang unik dan mengasikkan, bukan semata mengejar nilai. Sikap yang harus diambil sekarang dan tidak bisa ditawar lagi adalah memberikan ruang lebih luas untuk pendidikan seni tari pada khususnya dan cabang seni lain pada umumnya, di ranah pendidikan formal.
3. Masyarakat dan Seni Tari Tradisional
Kehidupan generasi muda tidak hanya berkutat pada pendidikan formal, tetapi generasi muda juga merupakan bagian dari masyarakat. Jadi peran masyarakat dalam mengenalkan seni tari pada generasi muda juga merupakan tangung jawab secara tidak langsung bagi anggota masyarakat untuk melestarikan budayanya.
Apakah kita pernah melihat seni tari tradisional pada acara-acara yang diadakan masyarakat seperti 17 Agustus, Peringatan Hari Kartini atau yang sejenisnya?. Jawabannya pernah tetapi bisa dihitung degan jari tangan berapa kali. Lebih sering masyarakat menghadirkan tontonan band, musik pop, dan beberapa pertunjukan yang sama sekali tidak mencerminkan identitas bangsa. Tidak ada ruang dimasyarakat yang memberikan kesempatan bagi generasi muda mengenal budayanya.
Untuk mengubah hal ini pemerintah berperan mengedukasi masyarakat tentang pentingnya pertunjukan budaya Indonesia. Dengan begitu diharapkan akan adanya kesadaran dari setiap anggota masyarakat akan pentingnya pengenalan budaya dalam hal ini seni pertunjukan tarian tradisional bagi genererasi muda.
C. TARI BEDHAYA KETAWANG DAN GENERASI MUDA YANG LEBIH BERBUDAYA
Salah satu peninggalan kraton Yogyakarta adalah tari Bedhaya Ketawang. Diantara berbagai tari tradisional klasik yang ada tari Bedhaya merupakan tari yang layak dipelajari oleh berbagai kalangan. Tarian ini diperkirakan lahir antara tahun 1613-1645 pada jaman Sultan Agung. Berikutnya tarian ini berkembang di kraton Yogyakarta dan Surakarta. Tarian ini dimainkan ketika penobatan raja dan ulang tahun penobatan raja, dan acara-acara penting kerajaan (Yuwana Marjuka, 2007:119)
Tarian Bedhaya Ketawang ditarikan oleh sembilan orang penarai perempuan sembilan penari memiliki makna sembilan lubang dalam tubuh manusia atau struktur tubuh manusia mulai dari hati, kepala, leher, dua lengan, dada, dua tungkai dan alat kelamin.
Perbaikan moral generasi muda merupakan sesuatu yang tidak mudah, mungkin telingga ini sudah bosan dengan berbagai berita tentang bentuk penyimpangan yang dilakukan remaja, mulai dari kasus anak SMA yang memperkosa temannya, mencuri uang orang tua, bahkan sampai yang melukan seks bebas dan bergelut dengan NAPZA.
Dalam tari Bedhaya ada nilai-nilai yang patut untuk dijadikan prinsip generasi muda untuk menghadapi globalisasi. Nilai-nilai tersebut tercermin dari Seorang penari bedaya ketawang yang akan mentranformasikan dirinya untuk mataya (menari) yang berwujud secara lahiriyah dalam waraga dan wirama, sedang secara batiniah adalah wirasa yang bersifat
- sewiji : yang berarti konsentrasi, seorang generasi muda ketika memiliki cita-cita maka dia harus memfokuskan apa yang iya lakukan untuk cita-citanya. Dengan tetap ingat kepada Tuhan Yang Maha Esa.
- greget: berarti semangat, generasi muda harus memiliki semangat yang tinggi untuk segala hal yang bermanfaat bagi kehidupannya dan kehidupan orang lain.
- sengguh: berarti percaya diri, percaya akan segala potensi yang telah diberikan Tuhan kepada dirinya, dan selalu yakin akan kemampuan diri.
- ora mingkuh: berarti tidak putus asa, bahwa seorang remaja ketika dalam perjuangan mewujudkan cita-citanya dia tidak boleh menyerah pada ringatangan yang datang, tetapi tetap terus maju dengan tiga bekal sebelumnya yaitu sewiji,greget,senguh.
Ben suharto dalam Yuwana Marjuka (2007:123) melengkapi penjelasan mataya dalam mandala cakra mataya. Tidak terdapat korelasi langsung dengan teknik kepenarian, namun pada aspek wirasa, ada ajaran moral dasar yaitu selaras dengan sesama insan. Yang dibuktikan dengan prilaku tidak lupa diri, tidak emosional, tidak sombong, penuh disiplin dan keteguhan hati. Keselarasan ini mendapatkan bentuknya yang ideal dalam pemahaman tari Bedhaya sebagai salah satu aspek pemenuhan fungsinya dalam meningkatkan moralitas manusia. Tari Bedhaya juga merupakan ekspresi simbolik perpaduan antara tujuan kesejahteraan material dan keselamatan spiritual.
Dengan prinsip nilai-nilai dalam tari Bedhaya Ketawang maka generasi muda kita akan menjadi generasi muda yang akan membawa tongkat estafet pembangunan Indonesia ke arah yang lebih baik, pada era globalisasi tanpa harus meningalkan identitas budaya nasional.
D. SEMOGA MEREKA TIDAK TERPAKSA
Masih ada yang peduli dan menghayati rasa memiliki terhadap kekayaan budaya bangsa Indonesia. Seperti itulah kata-kata yang selalu lewat di benak saya ketika saya setiap hari saat pulang sekolah melewati sebuah sanggar tari yang berada di sebelah timur sekolah saya. Sanggar tari itu adalah sanggar tari Kembang Sore cabang Sleman. Hampir setiap satu minggu ada latihan tari yang digelar di pelataran sebuah rumah. Banyak sekali yang mengikuti latihan tari. Tapi kini saya seperti memiliki rasa pesimis akan keberadaan sanggar tari tersebut, bagaimana tidak, ternyata mereka yang mengikuti latihan tari tersebut adalah anak-anak kecil yang usianya kira kira 6-10 tahun. Analisis pertama saya mereka mengikuti latihan tari pasti karena dorongan atau mungkin paksaan dari orang tua mereka. Memang usia mereka yang masih dalam kategori anak-anak selalu mengikuti semua kata orang tua, seolah-olah orang tua adalah kiblat utama yang harus dia ikuti. Lalu bagaimana ketika anak-anak sanggar tari itu sudah beranjak dewasa dan mulai mengunakan pemikirannya sendiri atas apa yang akan dilakukan. Masihkah mereka mau mengikuti latihan di sanggar tari?? masihkah paksaan orang tua untuk mengikuti kegiatan latihan tari akan di ikuti ketika anak-anak itu beranjak dewasa??. Dilain pihak saya menemukan optimisme akan keberadaan sanggar tari Kembang Sore, bahwa kesadaran itu akan tercipta jika proses pembelajaran untuk menemukan kesadaran itu dilakukan sejak kecil. Mungkin memang kebanyakan anak-anak yang mengikuti latihan tari di sanggar kembang sore adalah anak-anak kecil yang belum tahu apa-apa, dan hanya mengikuti kehendak orang tua. Tetapi dengan begitu setidaknya telah ada upaya untuk mengedukasi mereka akan kekayaan budaya bangsa Indonesia khususnya seni tari.
PENUTUP
Seni tradisional yang selama ini jauh dari kehidupan generasi muda, dengan berbagai sebab-sebabnya yang telah diuraikan. Mulai dari arus globalisasi dan generasi muda yang cenderung apatis dan mengikuti arus, sehingga budaya asing yang terkesan praktis telah menjadi kiblat budaya mereka. Pelajaran seni di kurikulum pendidikan formal yang hanya memasung seni itu sendiri karena hanya menampilkan seni gambar dan seni musik, yang ini berarti menghapus kesempatan generasi muda untuk mengenal seni tari. Dan juga masyarakat kita yang cenderung selalu menghadirkan seni-seni asing dalam setiap kesempatan pertunjukan yang secara langsung, sekali lagi memotong kesempatan interaksi budaya generasi muda dengan tari tradisional.
Kebobrokan moral generasi muda yang sekarang mulai meninggalkan akar tradisinya, Setidaknya sudah kita temukan istrumen penyelesaiannya, yaitu melalaui nilai-nilai dalam tari bedhaya ketawang. Pengaplikasian nilai-nilai moral yang terkandung dalam tari bedhaya ketwang pada diri generasi muda, dapat membentuk generasi yang berkarakter. Bagaimanapun juga ajaran-ajaran moral tersebut sangatlah luhur, dan memang sangat sesuai jika diaplikasikan dalam diri generasi muda. Tidak malukah kita dengan anak-anak kecil pada sanggar tari kembang sore yang melestarikan budaya bangsanya?
Harapan saya tetap yaitu ada generasi muda Indonesia yang akan menjawab pertanyaan pada puisi yang saya cantumkan di awal esai ini, akankah budaya indonesia lestari atau hilang? Jadi pujaan atau terabaikan??. Berdasar uraian di atas lantas saya ingin bertanya pada diri sendiri, “mampukah saya melaksanakan apa yang saya katakan itu?” dan bagaimana dengan anda?
Kita, generasi kita ditugaskan untuk membrantas generasi tua yang mengacau. Kitalah generasi yang akan memakmurkan Indonesia,_ Soe Hok Gie_
Daftar Pustaka
Sedyawati,Edi. 1981. Pertumbuhan Seni Pertunjukan. Jakarta: PT.Sinar Harapan
Hok Gie, Soe. 1983. Soe Hok Gie Catatan Seorang Demonstran. Jakarta: LP3ES
Purwaningsih, Titik. Perkembangan Seni Tari Klasik Gaya Yogyakarta di Era Global. Di unduh pada 14 April 2010. www
Kusmayati, Hermin. 2006. Fungsi Seni Pertunjukan Sebagai Pembangun Moral Bangsa. Makalah dipresentasikan dalam Diskusi Sejarah dengan tema “Sejarah Seni Pertunjukan dan Pembangunan Bangsa” yang diselenggarakan oleh Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional Yogyakarta pada tanggal 17—18 Mei 2006. diunduh pada 14 April 2010 dari www.javanologi.info file pdf.
Yuwana, Marjuka.2007. Makna Simbolik Tari Bedhaya Ketawang, Studi Tourism Heritage Yogyakarta dan Surakarta. Dalam Jurnal Ilmiah Pariwisata. Juli 2007. vol 12.no 2
Tidak ada komentar:
Posting Komentar