-

_dalam setiap kata yang kau baca,
selalu ada huruf yang hilang
kelak kau pasti akan kembali menemukanya
di sela kenangan penuh ilalang__


Rabu, 17 Agustus 2011

Teguran itu selembut pasir #1

7, februari .Jam 1 siang melaju dgn motor kesayanganku (Nguapusi) ke Prima buat ambil poster, tereett..terett..posterku jadi juga. Setelah itu putar arah langung menuju taman pintar, taman pintar aku datang. Sampai jl mataram, jalan belakang malioboro ini sudah seperti jakarta rasanya, Macet total, rasanya pengen teriak mingir-mingir calon presiden lewat (gila lu bang), akhirnya dengan dua kata semuanya terasa nyaman, macet terasa asik (mekso) dua kata itu katane temenku yaitu IKHLAS DAN SABAR, yah akhirnya sampek juga di taman pintar. . terasa sepi, mana yg lain, ak mencoba tepat waktu kali ini, . masuk Hall gedung kotak taman pintar, serasa seperti orang hilang, mana yang lain?? Tanyaku dalam hati. (memang kamu punya hati). Tak begitu lama ada dua teman datang, sudah akrab dgn mereka berdua, teman2 OPSI, obrolan asik dimulai, melepas kangen karena ber abad-abad nggak ketemu (Nguapusi pUool) “ keterima di KU UGM” “Keterima di Tek Geologi UGM” , alhamdulilah semoga saya mengikuti jejak mereka berdua. Obrolan berlanjut santai sambil duduk lama. Persiapan stand pameran belum di mulai ternyata, tapi tak apalah, yg penting bisa bertemu teman-teman saya yang hebat-hebat dan selalu membuat saya bagaikan debu kecil tak berharga, di tengah tumpukan intan berkilau (ehem-ehem)

19.30 no stand telah dipasang, memasang poster lalu pulang, itu yang ada dibenakku, mencari no stand ku, yahh dapet stand di pojok an, di deretan Ilmu sosial, sudah pasti bakal sepi bagaimana tidak, stand sampingku tentang Tarian aku sendiri sejarah, sampingku lagi tentang batu mistis, tipe-tipe stand seperti ini hanya akan menjadi pajangan saja. Tapi tak apa,

Pulang dari taman pintar jam depalan, tak ada firasat apapun hari ini, hanya merasa sedikit kasian (jangan terlalu banyak, nanti cepet gede) sama seseorang yg baru mau ngerjain poster, padahal tinggal beberapa detik lagi, SEMANGAT YAA.. Yg terfikirkan saat itu adalah MAEM.MAEM. ak belum makan hari ini, singa dalam perutkU rasanya sudah brontak habis-habisan, akhirnya bersama temaramnya lapu jogja malam hari, dgn suasana yang very-very semrawut, naek motor ke deket jembatan UGM, maem di lesehan. KENYANG...sudah selesai sepertinya singa dalam perutku sudah tertidur pulas, pulang dari maem aku dari arah utara jl monjali, tiba-tiba saat di dekat halte trans jogja...WUSS BRUAK..ada anak yg sepertinya masih SMP melaju dari arah barat, sementara aku dari arah utara..langsung saja motor kamu beradu, dan saya Jatuh tersungkus, ke aspal, langsung saya bangun dan menepi. Bagaikan artis, saya saat itu orang-orang di pinggir jalan langung mendekati saya mengerombol seperti wartawan dan saya langsung di jejali dgn pertyanyaan “mas gimana, nggak papa kan?? Yg mana yg luka ? “ dgn senyum saya menjawab “ Nggak papa kug pak, hanya sepertinya tangan saya ke klilir. Saat itu juga adik yg saya tabrak itu mendekati saya yg dalam kerumunan, “mas gmana,” “ sudah dek nggak papa, kug, makasih ya” ..setelah itu dengan semangat yang masih ada, aku pulang ke kost, saat melihat celana aku kaget, lututku berdarah, langsung saja copot sepatu+helm masuk kamar dan tempat tidur, sudah menyambut, karena kost lagi sepi, tak ada obat pula maka solusi terampuh adalah tidur dgn tangan dan kaki yang rasanya sudah mmebingunkan. Aku ingat sepatu+helm+baju dari loundry masih di luar kamar, tak sempat menyentuhnya untuk membawa masuk.

Pas jam 24.00 aku terbangun, kaki dan tanganku enak sekali rasanya, membuka HP ada beberapa SMS yg langung tak buka, mmbalas beberapa yg penting dan tidur kembali. Jam 03.00 bangun untuk mempersiapkan PPT, sebelumnya ke kamar mandi dulu, dan saat aku balek dari kamar mandi, “ hah...sepatu+helm+bajuku, dmana gerangan, apakah kau punya kaki, dan sedang jalan-jalan” semuanya raib tak tahu kemana, sepatu yang baru saja 1 minggu aku membelinya, HILANG SEMUANYA. Saat itu entah kekuatan apa aku begitu tenang, dan aku hanya berkata lirih pada cermin, “sudah nang, semuannya bukan milikmu, itu titipan” kata-kata ini sedikit membuatku santai dan akhirnya mengerjakan PPT sampai azan subuh, sholat dulu, dan setelah itu membaca novel 1 jam. Mandi dan mempersiapkan apa yang harus aku bawa untuk pameran besok pagi. Jam 07.30 dgn motor yang sepertinya masih waras (yg naek yg tdak waras) menuju warnet buat nge print beberapa, perlengkapan pameran. Dengan sabar menunggu, yahh, print warnet itu eror, dan harusnya aku nge print 6 halam Cuma bisa 1 halaman. Akhirnya aku melaju saja menuju taman pintar baru jalan 6 meter, srettttt..stertttt....ban ku kempes, untung saja pas di depan kost salah satu teman Duta besar Orang aneh, untuk Indonesia (kita sodara smeatilah, lu, gue, memang sama2 alien)..aku telp dia, dan akhirnya dengan berat hati temanku yang mempunyai radar Aurelita Aurita itu mau mengantarku (sumpah lu baek banget) dgn motornya aku pergi ke taman pintar, saat naek motor kaki dan tanganku rasanya sakit, (tapi ingat kemarin, bahwa untuk hal baik itu semuanya harus dipaksa), baru kemarin rasanya aku bersama seseorang yang habis kecelakaan, melihatnya begitu melas (nguapusi) jalan saja dia sulit. Makan apa lagi. Sekarang gantian aku yang merasakannya, mantap. Tapi senjatanya tetap 1 BAHWA UNTUK HAL BAIK ITU HARUS DIPAKSA, AGAR TERPAKSA, DAN NANTI KAMU AKAN TERBIASA. Dan 1 lagi FILOSOFI TERMOS, SEPANAS APAPUN KONDISI DI DALAM DIRIMU, KETIKA DGN ORANG LAIN KAMU HARUS TETAP DINGIN DI LUARNYA. Kemarin aku yg bilang itu saat temanku kecelakaan, dan sekarang waktunya giliranku. Kalimat itu yg kemarin membuatku sampai Tampin. Sampai tampin langsung saja aku menuju standku, sms teman sampingku masuk “ aku nggak ikut pameran” wahh sepi dong (nguapusi).....akhirnya setelah beberapa lama temanku itu datang, tapi dia tiba-tiba saja me-------sensor...sempat aku kaget anak ini kenapa yaa------sensorr------- tapi tak apa makasih ya, hiburan di pagi hari (kejam), baru kali ini pagi-pagi ada-------------sensor.....maaf yaa..:) :P

Tidak ada komentar:

Posting Komentar