Campur tangan Tuhan dalam kehidupan seseorang sudah menjadi sebuah kebenaran umum yang tak terbantahkan. Walapaun masih banyak manusia yang bertanya-tanya tentang kehadiran Tuhan dalam kehidupan ini. Tapi jelas bagi kita (baca: umat Islam) bahwa firman pada beberapa surat dalam al quran seperti al ikhlash, al alaq dll, adalah bukti eksistensi Tuhan dalam kehidupan hambanya.
Lalu bagaimanakah dengan mereka yang menginginkan bukti Rasional tentang kehadiran Tuhan. Kefrustasian memahami mungkinnya adanya kehadiran Tuhan ini, telah mengakibatkan banyak ahli-ahli agama, dan masyarakat berani bertaruh dengan sebuah pertanyaan dasar: apakah Allah ada atau tidak? Kalau pertanyaan itu tidak bisa dijawab oleh akal manusia, kita harus berbuat apa?.
Mari beranalogi, Kita mengadakan pertaruan dengan menghitung untung rugi. Dan rupanya tidak ada jalan lain kecuali kita harus bertaruh. Menolak memilih, berarti sudah memilih. Jika kita memilih bahwa Tuhan itu ada, dan hadir dalam penghayatan keimanan kita padahal Ia tidak ada, maka kita tidak akan rugi sedikitpun, dan kita akan memperoleh kebahagiaan tak terkirakan kelak di akhirat, seperti dijanjikan oleh kitab suci. Tetapi jika kita memilih Tuhan itu tidak ada, padahal Ia ada, maka kita akan menerima kerugiaan yang tidak terhingga. Maka jalan paling ”aman” adalah memilih dan meyakini kehadiran Tuhan dalam pengahayatan keimanan kita.
-SEMOGA TUHAN MEMATUTKAN KEBERAGAMAAN KITA SEMUA-
Tidak ada komentar:
Posting Komentar