-

_dalam setiap kata yang kau baca,
selalu ada huruf yang hilang
kelak kau pasti akan kembali menemukanya
di sela kenangan penuh ilalang__


Selasa, 15 November 2011

BELAJAR MEMAHAMI ISLAM BERSAMA CAK NUR



Judul : Api Islam Nurkolis Madjid, Jalan Hidup Seorang Visioner

Penulis : Ahmad Gaus A.F

Penerbit : Kompas

Cetakan : Agustus 2010 (pertama)

Tebal : 382

Kemungkinan besar dikalangan generasi muda Islam belum banyak yang mengenal sosok Nurkholis Madjid. Saya sendiri mengenal sosok ini melalui buku-buku dan pemikiran-pemikirannya tentang Islam baru setelah Saya kelas XI MAN. Sebenarnya Saya sudah mengenal sosok ini jauh ketika Saya baru lulus SD, tetapi lingkungan pendidikan agama yang “ketat” memaksa Saya untuk menaati peraturan, tidak boleh membaca buku Cak Nur, (panggilan akrab beliau) karena saat itu gagasan besar Cak Nur disalahfahami, sehingga banyak institusi pendidikan agama yang melarang membaca buku beliau.

Bagi anda yang ingin mengenal Cak Nur, buku karangan Ahmad Gaus AF ini akan cukup membantu. Disajikan sebagai sebuah biografi singkat tentang perjalanan hidup seorang guru bangsa. Buku ini secara keseluruhan membahas mulai dari kelahiran Cak Nur, proses pendidikannya, dan kerja kemanusiaan beliau di Indonesia sebagai pemikir ulung.

Dilahirkan di dilingkungan pesantren dari seorang ayah H. Abdul Madjid, ayahnya adalah santri dari tokoh besar pendiri NU, Hadratusy Syaikh Hasyim Asy’ari. Cak Nur memulai pendidikan dari Sekolah Rakyat, KMI (Kulliyatul Mualimin al Islamiyah) Pondok Modern Darussalam, Gontor Ponorogo, IAIN Syarif Hidayatulloh, Jakarta hingga Studi Doktoral di Universitas Chicago Amerika Serikat, dibawah bimbingan ulama pembaharu asal Pakistan Prof. Fazlur Rahman.

Buku ini penting karena memberikan uraian gagasan “ asli” Cak Nur yang belum disaalahfahami. Gagasan besar beliau yang berupa Sekularisasi, Liberalisasi, dan Islam Yes, Partai Islam No, sekularisasi yang dimaksud Cak Nur bukanlah sekularisme yang dikenal di barat. Tetapi sekularisasi sebagai salah satu bentuk liberalisasi atau pembebasan terhadap pandangan-pandangan keliru yang sudah mapan. Proses pembebasan ini diperlupakan karena umat Islam, akibat perjalanan sejarah tidak sanggup lagi membedakan nilai-nilai yang disangkanya Islami. Singkatnya, umat Islam sulit membedakan mana yang benar-benar niali dasar Islam yang tidak bisa dirubah dan mana nilai fiqh yang selalu harus mengalami perubahan sesuai konteks zaman. Liberalisasi, atau pembebasan, dalam pandangan cak nur, umat islam Indonesia mayoritas terperangkap dalam symbol-simbol agama dan doktri-doktrin yang sebenarnya bukan nilai dasar islam. Sehingga hal tersebut mempengaruhi praktek keberagamaan kita, dan tentunya akan menghalangi kita untuk menyerap pesan dasar islam yaitu Rohmatan Lil Alamin, agama kasih sayang, agama toleransi dan agama yang menghargai kebebasan.

Jika Mesir memiliki Rasyid Ridha, Muhammad Abduh, para cendikiawan muslim yang selalu menjadi “kiblat” bagi perkembangan pemikiran Islam di dunia. Tidak jauh dari dua sosok itu Indonesia memliki penerus Rasyid Ridha dan Abduh dialah Nurkholis Madjid, seorang yang dikenal sebagai pemikir Islam paling kontroversial. Pandangannya tentang Sekularisasi, Liberalisasi, Islam Yes Partai Islam No, tidak ada Negara Islam, hingga pluralisme agama telah menyulut perdebatan panjang. Ketika dunia politik kita hanya maf’hum dengan kebijakan Soeharto, Cak Nur mendobraknya dengan seruan oposisi, hingga pancasila sebagai ideologi terbuka.

Buku ini merekam jejak perjalanan seorang visioner, petualangan intelektual, obsesi, kesahajaan, dan sikapnya dalam menghadapi badai kritik, hujatan dan fitnah. Disajikan dengan bahasa intelektual yang ringgan dan mudah difahami, membuat kita dengan mudah serasa akrab dengan sosok guru bangsa Cak Nur. Selain itu dilengkapi dengan berbagai gambar, juga semakin membuat kita asik membaca perjalanan hidup sang visioner.

Kekurangan buku ini menurut Saya, penulis pada bab tertentu terkesan subyektif. Seperti dalam kutipan berikut“Pemikiran Islam di Indonesia, dewasan ini tidaklah lebih dari catatan kaki atas pemikiran Nurkholis Madjid” . akan tetapi subyektifitas ini memang sulit dihindarkan dalam sebuah peryatannnya pada kata pengantar penulis mengatakan sebagai berikut ” sebisa mungkin Saya berusaha obyektif, tetapi bagaimanapun Cak Nur adalah guru Saya, sehingga tidak sepenuhnya Saya bisa melepaskan unsur subyektifitas”.Tetapi ini tidak bermasalah, buku ini tetaplah sangat menarik untuk kita baca.

Bagi generasi muda yang ingin lebih mengenal Cak Nur serta mencari teladan dan mereka yang ingin memahami Islam secara benar Saya sangat menyarankan untuk membaca buku ini. Bagaimanapun juga dengan membaca buku ini anda akan mendapatkan pencerahan intelektual tentang keberagamaan anda. K.H Mustofa Bisri ” Cak Nur adalah satu diantara sedikit orang yang memahami Islam secara benar.” Selamat membaca___


Pojok perjuangan YK-12-11-11

Tidak ada komentar:

Posting Komentar