-

_dalam setiap kata yang kau baca,
selalu ada huruf yang hilang
kelak kau pasti akan kembali menemukanya
di sela kenangan penuh ilalang__


Senin, 09 Juli 2012

CATATAN KECIL TENTANG GENERASI MUDA ISLAM


I.Fakta yang saya lihat

Globalisasi, itulah nama zaman dimana banyak kalangan meyakini sebagai suatu titik dimana sesuatu yang baik bisa berakibat buruk, tetapi sesuatu yang buruk juga bisa menguntungkan untuk beberapa orang. Zaman dimana sekat-sekat antar negara tebuka lebar, segala macam informasi bisa dengan dengan mudah dan cepat masuk kenegara lain. Hal ini memberikan pengaruh besar baik yang bersifat positif maupun negarif pada kehidupan generasi muda kita. Pengaruhnya dalam segala aspek kehidupan termasuk kehidupan beragama. Pertama, anda semua akan saya ajak untuk melihat kehidupan beragama generasi muda Indonesia dalam pandangan saya, melalui beberapa fakta :
 #Fakta Pertama. Awal tahun 2011 ketika saya masih kelas dua madrasah aliyah. Terjadi sebuah diskusi sengit, saat itu ada dua orang teman dari adik kelas saya yang menginap di asrama sekolah kami. Mereka berdua adalah alumni Pondok Pesantren Al Mukmin, Ngruki, Solo pimpinan Ustadz Abu Bakar Ba’asyir. Usia mereka berdua sebaya dengan saya. Saat itu kami sedang ngobrol santai tanpa arah tetapi tiba-tiba salah satu dari kami ada yang menyingung masalah ideologi negara. Saat itu pembicaraan semakin menarik. Sebagian besar teman-teman saya mengatakan untuk memperbaiki Indonesia ideologi Pancasila harus diubah dengan ideologi Islam.
Saat itu dengan beberapa argumen saya tetap bertahan membela Pancasila sebagai ideologi yang pada hakikatnya digali dari nilai-nilai Islam yang diterjemahkan untuk masyarakat Indonesia yang plural. Dua teman dari Ngruki dengan nada tinggi berkata “ bahwa ideologi Pancasila bagaikan daging babi, jika seorang muslim setuju dengan ideologi Pancasila, nasibnya seperti seember daging sapi yang halal lalu diberi sesendok daging babi (baca: Pancasila) maka hukum memakan daging itu adalah haram. Jadi siapa yang meyakini Pancasila sebagai ideologi kafir hukumnya harus diperangi, karena jelas Pancasila bukan produk Islami” tegasnya diakhir pembicaraan. Karena diskusi ini terasa lebih sebagai sebuah debat kusir tanpa arah yang jelas saya pun akhirnya memutuskan untuk diam.
#Fakta Kedua. Sering media masa kita menampilkan sekelompok generasi muda yang menjadi anggota organisasi keagamaan garis keras. Bahkan pelaku-pelaku bom bunuh diri yang mengatas namakan jihad adalah generasi muda. Sikap keberagamaan mereka sudah di dasari oleh rasa benar sendiri. Kebenaran diri mereka sendiri yang mereka yakini maka dengan mudah mereka menghujat orang lain yang berbeda tafsiran tentang kebenaran. Bukan lagi ahlakul karimah, Rahmatan lil Alamain yang mereka bawa.
Apa yang terfikirkan dalam benak anda ketika mengetahui berbagai peristiwa dia atas? Bagaimana jika anda menganggap semua hal diatas sebagai sebuah kewajaran yang sudah lama terjadi? Bagi saya semua peristiwa diatas telah mengusik pikiran dan membuat suatu kegelisahan tentang masa depan kehidupan –khususnya kehidupan beragama- Indonesia yang akan datang.
#Fakta Ketiga. Tidak sulit kita temui berbagai bentuk penyimpangan yang dilakukan remaja, pergaulan bebas yang merajalela mulai dari kasus anak SMA yang memperkosa temannya. Anak mencuri uang orang tua, bahkan sampai yang melukan seks bebas dan bergelut dengan NAPZA. Sampai dengan gaya hidup westren hedonis yang dalam banyak hal bertentangan dengan moral Islam dan akhlak ketimuran.


#Analisis Pertama. Peristiwa pertama menunjukkan  betapa generasi muda kita yang tumbuh dalam lingkungan pendidikan agama telah dididik untuk membenci negaranya sendiri. Bagaimana mungkin seoarang yang dilahirkan di Indonesia membenci Pancasila. Saya tidak mengajak untuk memuja Pancasila tanpa cela, seperti yang terjadi pada masa orde baru-nya Pak Harto. Tetapi bagi saya sikap yang berlebihan dengan hanya menilai bahwa sesuatu yang bukan produk Islam, lantas dianggap tidak Islami. Seperti halnya Pancasila.
Bahwa penghadapan Islam kepada Pancasila adalah sesuatu yang tidak dapat dibenarkan,karena menghadapkan sesuatu yang bersifat umum kepada pandangan yang bersifat khusus. Kalau itu diteruskan, berarti rasionalitas telah ditinggalkan, dan hanya emosi yang mengendalikan pandangan hidup kita. Tentu kita lebih mementingkan sesuatu yang rasional, bila dibandingkan dengan sesuatu yang emosional[1].
#Analisis Kedua. Menyadari bahwa masa menjadi generasi muda merupakan masa yang rawan, karena pada saat itulah mereka mulai mampu berfikir abstrak, dan mencoba menjelaskan beberapa hal yang kompleks, dengan emosi yang masih labil. Sebetulnya generasi muda dapat dikatakan tidak memiliki tempat yang jelas, mereka sudah tidak termasuk dalam golongan anak-anak dan belum dapat diterima ke dalam golongan orang dewasa. Generasi muda berada di antara anak dan orang dewasa. Biasanya masa ini terjadi antara rentan umur 14-17 tahun. Dengan adanya globalisasi tidak menutup kemungkinan masa rawan ini akan datang lebih awal.
Di tengah masa rawan ini generasi muda ingin menunjukkan eksistensinya. Salah satu saluran utnuk membuktikan eksistensinya adalah melalui organisasi keagamaan. Kurang mampunya organisasi Islam Washatiyah (Islam jalan tengah) seperti Nahdhatul Ulama dan Muhammadiyah dalam mewadahi generasi muda tersebut dan kurang optimalnya peran orang tua dalam menanamkan tradisi keagamaan yang Washatiyah. Ditengarai sebagai penyebab generasi muda kita kebingungan mencari kiblat organisasi keagamaan dan akhirnya menjadi pengikut organisasi garis keras. Hal ini biasanya terjadi dalam taraf Perguruan Tinggi dimana organisasi-organisasi radikal mulai mencari pengikut dengan startegi kaderiasasi yang sangat bagus sehingga generasi kita banyak yang ikut di dalamnya. Pangkal dari semua ini adalah lahirnya sikap beragama generasi muda yang ekstrim atau radikal. Disadari maupun tidak organisasi-organiasi keagamaan yang bersifat ekstrem sangat mudah diterima oleh generasi muda yang menginjak masa pencarian jati diri, atau sesaat lulus dari SMA.
Ekstrimisme dalam kehidupan beragama dapat menimbulakn dampak berbahaya, karena agama juga melibatkan emosi yang bisa menjadi bernayala-nyala. Dan ini pada gilirannya merusak harmoni intra agama tertentu maupun antar agama. Karena itu Islam tidak menganjurkan sikap ekstrem sebaliknya sangat menekankan sikap jalan tengah washatiyah.[2]
Analisis Ketiga. Segala perilaku dalam fakta ketiga, terjadi karena generasi muda kita tidak mengetahui panduan moral yang jelas untuk menghadapi era globalisasi. Selain itu lagi-lagi dunia pendidikan seharusnya mampu mengoptimalkan peranya dalam membekali generasi muda dalam menghadapi era global.

II.Merumuskan Sikap

#Sikap pertama. Untuk meluruskan faham generasi muda tentang pancasila dan ideologi Islam. Menarik untuk mengikuti gagasan K.H Abdurrahman Wahid –Allahyarham- yaitu menjadikan Pancasila sebagai ideologi negara yang berwatak pluralistik, dari berbagai ideologi masyarakat yang berkembang di negeri ini, seperti Islam, nasionalisme, sosialisme, dan lain-lain. Selain itu dalam MUNAS NU 1983 di Situbondo yang menghasilakn sebuah resolusi menarik. Pancasila sebagai dasar falsafah negara indonesia bukanlah agama, tidak dapat mengantikan agama dan tidak dapat dipergunakan untuk mengantikan kedudukan agama, bahwa sila pertama pancasila mencerminkan konsep Islam tentang tauhid[3]. Saya rasa resolusi ini patut utnuk dijadikan pedoman dalam menentukan sikap tentang kedudukan ideologi pancasila dalam kehidupan masyarakat Islam khususnya.
#Sikap Kedua sebagai upaya membendung organisasi Islam garis keras antara lain upaya yang harus dilakukan adalah kembali meneguhkan ajaran-ajaran Islam yang moderat, tawasuth ala i’tidal dikalangan generasi muda. Jika organisasi garis keras sering mengadakan kajian-kajian kegamaan. Maka kita tandinggi juga dengan kajian-kajian yang lebih intens untuk mebina generasi muda agar tidak terjerumus kedalam ektrimisne beragama. Kita kembangkan cara-cara dakwah yang sesuai dengan Al Quran surat ke 16 ayat 125 “Ajaklah mereka kejalan Tuhanmu dengan hikmah dan mauidzah hazanah dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik.”
 K.H Mustofa Bisri memberikan analisis yang menurut saya pas untuk ayat ini. Ud’u, ajaklah tidak disertai maf’ul bih objeknya, seperti lazimnya fiil muta’addie. Para mufassir biasanya mengisi objeknya dengan an naas manusia (jadi –ajakhlah manusia kejalan Tuhanmu) menurut Gus Mus penambahan obyek manusia dirasa tidak perlu sebab kata-kata dijalan Tuhanmu sudah cukup jelas siapa yang harus diajak, yaitu mereka yang belum dijalan Tuhan. Mengajak yang belum ke jalan tuhan meski dilakukan dengan hikmah dan mauidzah hazanah.[4]
#Sikap ketiga. Globalisasi bisa menjadi racun yang sangat mematikan disatu sisi tetapi disisi lain juga bis amenjadi peluang emas yang sangat bermanfaat untuk masa depan generasi muda. Menarik untuk mencermati isi karya sastra yang berupa serat karangan pujangga jawa R.Ng. Ranggawarsita), yang salah satu isinya yang sarat nilai etis dan moral, sebagai berikut,
Amenangi jaman edan
Ewuh aya ing pambudi
Melu edan nora tahan
Yen tan melu anglakoni
Boya kaduman melik
Kaliren wekasanipun
Ndilalah karsa Allah
Begja-begjane kang lali
Luwih begja kang eling lawan waspada
(Serat Kalatidha, R.Ng. Ranggawarsita dikutip dari Ikhsan, 2010 :2)
 Inti dari salah satu bagian dari serat Kalatidha tersebut berfilosofi bahwa pada suatu saat nanti manusia akan menemui yang disebut sebagai zaman dimana telah terjadi kebobrokan moral manusia, zaman ini oleh Ranggawarsita disebut zaman edan. Pada dasarnya hati setiap individu ingin mengekang untuk tidak ikut dalam arus zaman edan. Namun, ketika seorang individu tidak ikut arus zaman justru malah tidak akan mendapatkan apa-apa, dan cenderung sengsara. Apabila seseorang tidak mengikuti arus zaman itu, maka akan dipandang aneh, dan tidak wajar, tetapi jika ikut arus sama saja dengan terjun ke lembah nista. Dalam suasana yang membingungkan inilah Ranggawarsita mengingatkan sekaligus memberi pilihan solutif yaitu dengan mengingatkan akan seruan Tuhan kepada manusia agar hati-hati serta selalu ingat dan waspada dalam menghadapi suatu peristiwa. (Begja-begjane kang lali, luwih begja kang eling lan waspada). Saya menafsirkan bahwa zaman yang dimaksud dalam bait serat itu adalah zaman globalisasi sekarang ini.
Selain itu ada adagium yang mungkin sangat dikenal dikalangan warga Nahdatul Ulama yaitu memelihara apa yang baik dari masa lampau, dan menggunakan hanya yang lebih baik yang ada dalam hal yang baru (al-muhâfadzatu’ala al-qadîmi al sâlih wa al akhdzu bi al jadîd al- aslah). Saya rasa adagium ini bisa dijadikan prinsip untuk filterisasi budaya dalam era globalisasi. Sehingga generasi muda kita bisa menjadikan globalisasi sebagai peluang emas untuk masa depan.
Sanggupkah generasi kita menerapkan beberapa sikap tersebut?


Yogyakarta 23-6-12
 di kamar kost yang selalu memunculkan keriunduan-kerinduan


Daftar Pustaka
Brilianto, Ikhsan. 2010.Artikel. Ketika Penjajahan Globalisasi Menghujam Nasionalisme Penentun Kemajuan bagi Anak Muda. Yogyakarta: Fakultas Filsafat UGM.
Wahid, Abdurrahman. Islamku, Islam Anda, Islam Kita edisi digital. Jakarta: Democracy Project, 2011
Idahrah, Syaikh. Mereka Memalsukan Kitab-kitab Karya Ulama Klasik. Yogyakarta: Pustaka Pesantren, 2011
Bruinessen, van Martin. NU Relasi-relasi Kuasa dan Pencarian Wacana Baru. Yogyakarta: Lkis, 1994
Bisri, Mustofa. Kompensasi. Rembang: Matar Air, 2006



[1] Negara Berideologi Satu Bukan Dua dalam Abdurrahman Wahid: Islamku, Islam Anda, Islam Kita edisi digital, (Jakarta: Democracy Project,2011), hlm.91.
[2] Ekstremisme Wahabi dan Islam Washatiyah. kata pengantar Azyumardi Azra dalam Syaikh Idahram: Mereka Memalsukan Kitab-kitab Karya Ulama Klasik, (Yogyakarta: Pustaka Pesantren,2011),hml.22.
[3] Pancasila sebagai Asas Tunggal dalam Martin van Bruinessen: NU Relasi-relasi Kuasa dan Pencarian Wacana Baru, (Yogyakarta: LkiS,1994), hlm.121-122.
[4] Dakwah dan Amar Ma’ruf dalam Mustofa Bisri: Kompensasi, (Rembang:Mata Air,2006),hlm 145-146.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar