Siapa orang yang berjasa
dibalik bersihnya sekolah ini?
Siapa orang yang paling
berjasa dibalik hijaunya sekolah ini?
Siapa orang yang paling berjasa membersihkan sampah murit dan guru?
Muritkah?
Gurukah?
Atau tidak ada?
Pagi itu di teras depan ruang kelas, aku dan beberapa
teman-teman sedang duduk santai sambil
berbincang. Tiba-tiba salah satu dari teman bercanda
Temanku: Penghargaan sekolah berwawasan lingkungan itu, seharusnya bukan untuk
kepala sekolah
Aku: Lhoh kok bisa? Kamu ada-ada aja
Temanku: iya, lah
bener, kan selama ini yang bersih-bersih,
merawat taman, dan nge pel lantai, kan bukan
kepala sekolah kan
Jika kawan-kawan berkunjung ke sekolahku pada saat
lomba, pasti teman-teman akan merasa sangat nyaman. Bagimana tidak,? Mulai dari
sudut terkecil sekolah sampai ruang tunggu tamu bagian depan semuannya bersih,
dan hijau. Di setiap sisi rungan selalu ada tanaman hijau yang menyejukkan,
bunga-bunga di taman merekah dengan indahnya, memanjakan setiap mata yang
melihat. Hampir sulit menemukan sampah yang tergletak, tempat sampah sudah
disusun rapi dengan warna-warna yang cerah, dipadukan dengan seni lukis yang
indah, warna hijau untuk sampah organik, kuning untuk non organik. Singkatnya
semuannya yang berhubungan dengan lingkungan terasa sempurna.
Siapa yang melakukan itu
semua,? Dia adalah bapak cleaning sevice,
sekolahku yang berjumlah 5 orang, salah satunya Bapak Wagimin. Aku mengenal
beliau ketika awal aku masuk sekolah, aku yang selalu datang lebih awal selalu
bertemu dengan beliau saat menyapu kelasku dan koridor di depannya. Dari
situlah aku mulai bejalar banyak dari seoarang bapak dengan postur tubuh
pendek, yang ketika berangkat kerja mengunakan sepeda kuno khas Jawa, di jogja
biasa disebut sepeda Unto. Sering
terjadi percakapan kecil antara aku dan beliau.
Sekolah ini tanpa Bapak
Wagimin dan lima orang temannya, aku tak membayangkan bakal seperti apa. Merekalah sosok-sosok rendah hati pembaharu lingkungan. Saat
aktivis-aktivis lingkungan dan pemerintah hanya bisa bertriak-triak tentang
masalah kualitas lingkungan. Maka Bapak Wagimin dan lima orang temannya, hanya bisa diam,
cintannya pada lingkungan tidak ditunjukan dengan teriakan tetapi dengan
tindakan nyata. Bagiku beliau teladan dalam masalah lingkungan.
Beliulah teladan dalam hal membuang sampah. Tugas cleaning service dimulai sejak pagi
hingga siswa pulang pada jam 14.00. Pada saat istirahat para cleaning service akan berkeliling
kembali pada daerah yang menjadi bagian tugasnya. Saat itu ketiaka ada sampah
Pak Min (sapaan akrabnya) selalu memunggut sampah itu dan membuangnya pada
tempat sampah. Beliau tidak pernah menyuruh kami yang membung sampah
sembarangan untuk membuang sampah itu dengan benar, tapi beliau diam dan
mengambil sampah itu, lalu dengan senyum pada kami beliau memasukkan sampah itu
ke tempat sampah. Aku tahu, bukan beliau tidak mau mengingatkan kami, dengan
menegur tindakan kami. Tapi lebih dari itu beliau menegur kami dengan contoh
yang baik, tidak hanya sekedar menyuruh, tapi beliau juga melakukannya. Dan ini
lebih dari sekedar sebuah teguran.
Beliaulah teladan dalam
hal mencintai tumbuhan. Setiap pagi dengan gayung beliau
berkeliling ke seluruh depan kelas pada lantai dua. Demi menyiram beberapa
tumbuhan hijau. Setiap hari beliau selalu merawat dan menjaga tumbuhan-tumbuhan
didepan kelas kami. Bahkan dengan tangan dinginnya beliau rutin memindahkan
tanaman-tanaman agar terkena sinar matahari.
Beliaulah teladan dalam hal menghemat dan berprilaku
hidup sehat. Saat istirahat, kantin sekolah yang tepat berada di belakang
sekolah selalu penuh. Siswa-siswa memenuhi kebutuhan energinya disini, termasuk
aku, ada Soto, Nasi Kucing dan Gudeg khas jogja, dan beberapa makanan ringan.
Lalu bagaimana denga Bapak Wagimin.? Saat kembali dari katin sekolah, aku
melihat di bawah pohon tepat di sudut samping tempat parkir, Bapak Wagimin
makan dengan lahabnya. Tempat makan berwarna hijau selalu menemani makan
siangnya. Bekal dari rumah yang disiapkan sang istri, kata beliau lebih nikmat,
hemat dan bergizi. Aku sebenarnya malu dengan kondisi ini, Bapak Wagimin saja
yang mungkin hanya tamat SMP atau SMA memiliki kesadaran tinggi untuk masalah makanan,
dan kesehatan. Sementara aku dan teman-temanku yang jauh lebih beruntung dari
beliau, tidak perduli masalah itu.
Sempat terbersit dalam pikiranku, bukankah Pak Min
melakukan itu semua karena gaji.? Tapi bagiku itu tidak penting, yang jelas aku
yakin Pak Min dan cleaning service
yang lain tidak mungkin melakukan itu semua hanya karena rupiah. Jauh lebih
penting bagiku sekarang adalah meneladani dan mengajak teman-teman semua untuk
meniru apa yang dilakukan Pak Min. Beliau adalah potret para aktivis lingkungan
sejati, yang memeperbaiki bumi dengan tindakan nyata. Akan tetapi terlupakan,
manusia-manusia lebih tertarik memberikan apresiasi pada mereka aktivis yang
hanya bisa berteriak. Tapi tenang saja, beliau tidak butuh apresiasi, bahkan
kata apresiasi mungkin juga tidak beliau kenal. Beliau hanyalah sebagian kecil
dari berjuta-juta manusia yang memilih melakukan perbaikan pada kondisi bumi
yang semakin mengkhawatirkan. Di tengah manusia lain yang tan hentinya
melakukan pengrusakan.
Andaikan aku sebagai kepala sekolah, maka perhargaan
Adiwiyata akan aku serahkan kepada Pak Min, sosok Pahlawan tanpa tanda jasa,
sosok teladan yang tak pernah terlupakan. Proyek besar kita adalah melakukan
perbaikan dengan tindakan nyata, mungkin dengan meniru apa yang dilakukan Pak Min.
Kita tidak bisa diam kawan, kita generasi muda ditugaskan untuk memakmurkan
bumi Indonesia. Lingkungan
kita butuh pak min- pak min baru dari generasi kita.
Yogyakarta 14-06-11
Yogyakarta 14-06-11
Tidak ada komentar:
Posting Komentar