-

_dalam setiap kata yang kau baca,
selalu ada huruf yang hilang
kelak kau pasti akan kembali menemukanya
di sela kenangan penuh ilalang__


Kamis, 13 September 2012

Mahasiswa Baru dan Beberapa Pertanyaan



Bulan September ini Yogyakarta di penuhi dengan manusia-manusia baru. Siapa mereka? Mereka adalah mahasiswa baru berbagai universitas yang ada di Yogyakarta. Hampir semua universitas di Yogyakarta baik yang berstatus negeri maupun swasta awal September ini melakukan masa orientasi mahasiswa baru. Hal ini tidak terjadi hanya diwilayah Yogyakarta tetapi juga terjadi hapir di setiap daerah di Indonesia. Bahkan ada beberapa universitas yang memulai masa orientasi lebih awal yaitu pada pertengahan atau akhir Agustus.
Berdasarkan data yang penulis ambil dari Republika online  (3 September 2012) jumlah mahasiswa baru yang datang ke Yogyakarta tahun ini cukup banyak. Di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) misalnya, tahun ini jumlah maba yang diterima kampus tersebut sebanyak 4.839 orang.Di Universitas Ahmad Dahlan (UAD) jumlah maba 3.800. Universitas Islam Indonesia (UII) maba tahun ini 5.000 lebih mahasiswa. Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta tahun ini memiliki 9.000 lebih. Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) 7.000 maba tahun ini.
Ribuan siswa sekarang sudah berpindah status menjadi mahasiswa. Maha bukan lagi siswa. Maha adalah tingkatan tertinggi dalam strata kehidupan, orang yang telah bergelar maha seharusnya memang seseorang yang mumpuni dalam suatu hal. Misalnya mahaguru, maharaja dan lain-lain.Penulis tertarik dengan peryataan bapak Anies Baswedan dalam orasinya di depan mahasiswa baru Universitas Gadjah Mada. Menurut pak Anies “gelar maha adalah sebuah gelar yang bisa diibaratkan hutang atau janji yang harus dilunasi. Lunasilah hutang gelar kemahaanmu dengan pengabdian pada republik tercinta.”
Euforia penerimaan mahasiswa baru di berbagai universitas tahun ini berlansung setelah kita semua rakyat Indonesia merayakan hari kemerdekaan 17 Agustus. Entah hal itu sebuah kebetulan atau memang agendanya setiap tahun akademik seperti itu. Bagi penulis yang juga mahasiswa baru UGM, waktu yang bersamaan antara pelaksanaan peringatan kemerdekaan dengan penerimaan mahasiswa baru adalah sebuah pertanda atau mungkin pengingat. Bahwa pemuda-pemuda yang tahun ini menjadi mahasiswa baru harus bisa melanjutkan perjuangan mengisi kemerdekaan dan mewujudkan cita-cita kemerdekaan.
Saya membayangkan bagaimana jika seluruh mahasiswa yang tahun ini masuk perguruan tinggi negeri maupun swasta semuanya melunasi janjinya dengan pengabdian untuk republik tercinta. Kemungkinan besar berbagai problem krusial yang menyangkut kehidupan berbangsa dan bernegara kita akan teratasi atau paling tidak bisa terkurangi kuantitasnya.
Setengah abad lebih perjalanan kita mengisi kemerdekaan. Adakah disana peran pemuda khususnya mahasiswa?. Berita-berita selama ini yang beredar di media tentang pemuda Indonesia adalah pemuda hedonis, pemuda tanpa prinsip yang mudah terseret arus negatif globalisasi. Mampukah para pemuda, mahasiswa baru berprinsip untuk selau berkontribusi pada negeri, tetapi tanpa harus menghindar dari arus globalisasi?. Mampukah para mahasiswa baru mengubah globaliasi menjadi sebuah sarana meraih kemajuan bukan momok yang menakutkan?.
Mampukah calon-calon intelektual muda republik ini untuk menjadi pemuda-pemuda baru, tidak lagi meniru kesalahan generasi pendahulu?. Republik ini butuh semua yang serba baru, intelektual baru, pemimpin baru, pendidik baru dan masyarakat baru yang akan membentuk republik baru. NKRI baru yang benar-benar ber-Ketuhanan yang maha esa dalam fakta, yang bisa mewujudkan kesejahteraan sosial bukan hanya dalam teori, bisa menghidupkan kembali panji-panji pancasila dalam kehidupan nyata. Semoga kita bisa berkontribusi bagi republik tercinta.

YOGYAKARTA 10 september 2012 di kamar morat-marit tercinta

Tidak ada komentar:

Posting Komentar