Bulan September
ini Yogyakarta di penuhi dengan manusia-manusia baru. Siapa mereka? Mereka
adalah mahasiswa baru berbagai universitas yang ada di Yogyakarta. Hampir semua
universitas di Yogyakarta baik yang berstatus negeri maupun swasta awal September
ini melakukan masa orientasi mahasiswa baru. Hal ini tidak terjadi hanya
diwilayah Yogyakarta tetapi juga terjadi hapir di setiap daerah di Indonesia.
Bahkan ada beberapa universitas yang memulai masa orientasi lebih awal yaitu
pada pertengahan atau akhir Agustus.
Berdasarkan
data yang penulis ambil dari Republika online
(3 September 2012) jumlah mahasiswa baru yang datang ke Yogyakarta tahun
ini cukup banyak. Di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) misalnya, tahun
ini jumlah maba yang diterima kampus tersebut sebanyak 4.839 orang.Di
Universitas Ahmad Dahlan (UAD) jumlah maba 3.800. Universitas Islam Indonesia
(UII) maba tahun ini 5.000 lebih mahasiswa. Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta
tahun ini memiliki 9.000 lebih. Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) 7.000 maba
tahun ini.
Ribuan
siswa sekarang sudah berpindah status menjadi mahasiswa. Maha bukan lagi siswa.
Maha adalah tingkatan tertinggi dalam strata kehidupan, orang yang telah
bergelar maha seharusnya memang seseorang yang mumpuni dalam suatu hal.
Misalnya mahaguru, maharaja dan lain-lain.Penulis tertarik dengan peryataan
bapak Anies Baswedan dalam orasinya di depan mahasiswa baru Universitas Gadjah
Mada. Menurut pak Anies “gelar maha adalah sebuah gelar yang bisa diibaratkan
hutang atau janji yang harus dilunasi. Lunasilah hutang gelar kemahaanmu dengan
pengabdian pada republik tercinta.”
Euforia
penerimaan mahasiswa baru di berbagai universitas tahun ini berlansung setelah
kita semua rakyat Indonesia merayakan hari kemerdekaan 17 Agustus. Entah hal
itu sebuah kebetulan atau memang agendanya setiap tahun akademik seperti itu.
Bagi penulis yang juga mahasiswa baru UGM, waktu yang bersamaan antara
pelaksanaan peringatan kemerdekaan dengan penerimaan mahasiswa baru adalah
sebuah pertanda atau mungkin pengingat. Bahwa pemuda-pemuda yang tahun ini
menjadi mahasiswa baru harus bisa melanjutkan perjuangan mengisi kemerdekaan
dan mewujudkan cita-cita kemerdekaan.
Saya
membayangkan bagaimana jika seluruh mahasiswa yang tahun ini masuk perguruan
tinggi negeri maupun swasta semuanya melunasi janjinya dengan pengabdian untuk
republik tercinta. Kemungkinan besar berbagai problem krusial yang menyangkut
kehidupan berbangsa dan bernegara kita akan teratasi atau paling tidak bisa
terkurangi kuantitasnya.
Setengah
abad lebih perjalanan kita mengisi kemerdekaan. Adakah disana peran pemuda
khususnya mahasiswa?. Berita-berita selama ini yang beredar di media tentang
pemuda Indonesia adalah pemuda hedonis, pemuda
tanpa prinsip yang mudah terseret arus negatif globalisasi. Mampukah para
pemuda, mahasiswa baru berprinsip untuk selau berkontribusi pada negeri, tetapi
tanpa harus menghindar dari arus globalisasi?. Mampukah para mahasiswa baru
mengubah globaliasi menjadi sebuah sarana meraih kemajuan bukan momok yang
menakutkan?.
Mampukah
calon-calon intelektual muda republik ini untuk menjadi pemuda-pemuda baru,
tidak lagi meniru kesalahan generasi pendahulu?. Republik ini butuh semua yang
serba baru, intelektual baru, pemimpin baru, pendidik baru dan masyarakat baru
yang akan membentuk republik baru. NKRI baru yang benar-benar ber-Ketuhanan
yang maha esa dalam fakta, yang bisa mewujudkan kesejahteraan sosial bukan
hanya dalam teori, bisa menghidupkan kembali panji-panji pancasila dalam
kehidupan nyata. Semoga kita bisa berkontribusi bagi republik tercinta.
YOGYAKARTA 10 september 2012 di kamar morat-marit tercinta
YOGYAKARTA 10 september 2012 di kamar morat-marit tercinta
Tidak ada komentar:
Posting Komentar