Filsafat dan toleransi berfikir
Minggu kemarin adalah
kuliah filsafat pertama yang saya jalani. Cukup mengasikkan. Dosen-dosennya
mencerahkan. Semuanya berbeda dengan apa yang saya dapat saat di aliyah. Semoga
saja dunia baru ini benar-benar akan mengantarkan saya kepada tujuan saya. Tujuan
yang mungkin bagi sebagian orang agak aneh atau memang aneh. Tujuan menjadi
manusia. Memangnya selama ini apakah saya belum menjadi manusia?. Menjadi
manusia yang saya maksud adalah adalah bisa menjadi figur manusia yang paling
manusia, manusia yang mengerti manusia, manusia yang memanusiakan manusia.
Ada beberapa kesan
penting yang saya dapatkan ketika minggu pertama kuliah ini. Tetapi kesan yang
paling berarti bagi saya adalah meneguhkan kembali prinsip untuk tidak menilai
pemikiran atau pendapat kita adalah yang paling benar. Kenapa saya sebut
peneguhan kembali?. Karena selama ini saya mempelajari sikap-sikap untuk tidak
menang sendiri itu lebih dulu sebelum saya belajar secara formal di fakultas
filsafat. Dari tulisan-tulisan gus dur, gus mus, cak nur dan lain-lain saya
belajar untuk menghargai setiap pemikiran seseorang. Inilah mungkin sikap yang
sangat sulit diterapkan pada diri kita semua. Kita cenderung selalu
mengunggulkan diri kita diatas orang lain. Tak pernah ada toleransi berfikir.
Semuanya ingin pemikirannya diakui sebagai sesuatu yang paling benar. Dan
menurut saya akar semua masalah di indonesia adalah tidak adanya toleransi
berfikir. Setiap kelompok ataupun individu selalu ingin manjadi pembicara bukan
menjadi pendengar yang baik. Bahkan ketika kita mencoba menjadi pendengar kita
keburu tidak terima, menyangkal ataupun sikap-sikap lain yang pada intinya kita
tidak menghargai pendapat orang lain. Akibat ini semua adalah tidak adanya
kompromi gagasan, semuanya berfikiran sempit. Semuanya mengandalkan ego
berfikir masing-masing. Bisa kita bayangkan jika dalam taraf penyusunan gagasan
saja tidak ada dialog atau kompromi antar kelompok atau individu maka bagaimana
dalam taraf realisasi gagasan.
Mari kita sejenak
beranologi, ada sebuah bunga mawar berwarna putih, lalu ada 2 orang kita suruh
memberikan tanggapannya tentang bunga mawar tersebut. Orang pertama bicara
bahwa bunga mawar putih adalah lambang kesucian cinta dan ketulusan pengabdian.
Sementara itu orang kedua mengatakan bahwa bunga mawar putih adalah lambang
kesucian hati seseorang ketika hendak menghadap tuhanya. Satu bunga mawar putih
bisa memberikan arti yang berbeda-beda bagi setiap orang. Lantas apakah kita
akan mengatakan bahwa bunga mawar putih yang di deskripasikan oleh si a sebagai
sesuatu yang salah, hanya karena si a berbeda pendapat dengan kita. Contoh
tersebut hanyalah masalah kecil dalam kehidupan sehari-hari kita. Lantas
bagaimana jika itu menyangkut realisasi tujuan kemajuan bangsa. Setiap orang
punya pendapatnya tentang ketuhanan yang maha esa, setiap orang punya fersinya
tentang keadilan sosial, setiap orang punya langkah-langkah yang berbeda untuk
merealisasikan kesejahteraan sosial yang merata. Ini semua harus didialogkan.
Tujuan kita sama yaitu membawa indonesia ke arah yang lebih baik. Tetapi kita
mempunyai definisi yang bermacam-macam tentang kebaikan yang seperti apa yang
cocok untuk indonesia. Disinilah letak urgent nya dialog, untuk mengutarakan
semua definisi-definisi kita untuk mencari titik temu. Kita tidak bisa menjadi
bangsa yang maju jika kita tak pernah berfikiran terbuka terhadap setiap
pemikiran orang lain. Disinilah filsafat mengajari untuk menghargai setiap
pemikiran karena dari setiap pemikiran itu pasti ada sisi baiknya. Kita harus
bisa menjauh dari sikap-sikap yang terkungkung pada sekat-sekat SARA. Kita
harus bisa berfikiran bebas dalam artian yang positif. Kita harus terus
belajar-belajar dan belajar. Tidak ada atau belum ada sesuatu yang final.
Semuanya harus terus kita pelajari. Dengan begitu semoga kita bisa menjadi
individu yang berfikiran terbuka terhadap semua gagasan, menghargai setiap
gagasan, mengahrgai proses dialog. Menarik meresapi kata-kata dari kh mustofa
bisri
Kebenaran kita
kemungkinan salah
Kesalahan orang lain
kemungkinan benar
Hanya kebenaran Tuhan
yang benar.benar-benar.
Filsafat dan
kemandirian berfikir.
Seorang filsuf sejati
haruslah bisa merumuskankan filsafatnya sendiri. Kalimat itu adalah kesimpulan
kedua yang saya dapat dari kuliah saya pertama minggu ini. Dalam dunia filsafat
kita akan bertemu dengan sangat banyak gagasan-gagasan dari filsuf-filsuf
besar. Bagaiamana kita menyikapi gagasan-gagasan itu adalah salah satu sikap
yang akan menentukan jalan fikiran kita kedepannya. Menarik yang saya dapat
minggu ini. Saya menyebut ini sebagai sebuah kemandirian berfikir. Apa itu
kemadirian berfikir. Dalam konsep saya kemandirian berfikir adalah sikap untuk
melakukan filteriasi terhadap pendapat-pendapat filsuf. Kita tidak harus atau
bangkan tidak boleh selalu setuju dengan gagasan seoarang filsuf. Kita harus
bisa berposisi berlainan. Dengan sikap seperti itu kita akan mengkritisi setiap
gagasan filsuf dalan selanjutnya kita akan bisa menciptakan filsafat menurut
diri kita sendiri. Jadi berbeda pendapat dengan sebuah pemikiran adalah sebuah
keniscayaan yang harus kita lakukan. Tujuanya agar kita bisa memiliki
kemandirian dalam berfilsafat. Setiap gagasan filsuf ada baik dan juga ada
buruknya. Kita harus bisa memilih mana yang baik dan mana yang buruk menurut
kita. Dan selanjutnya kita bisa berfilsafat menurut diri kita sendiri. Dan ini
tidak mudah semoga saya bisa.
10-9-2012 Dikamar kost tercinta
Tidak ada komentar:
Posting Komentar