-

_dalam setiap kata yang kau baca,
selalu ada huruf yang hilang
kelak kau pasti akan kembali menemukanya
di sela kenangan penuh ilalang__


Minggu, 23 September 2012

KULIAH FILSAFAT PERTAMA


Filsafat dan toleransi berfikir
Minggu kemarin adalah kuliah filsafat pertama yang saya jalani. Cukup mengasikkan. Dosen-dosennya mencerahkan. Semuanya berbeda dengan apa yang saya dapat saat di aliyah. Semoga saja dunia baru ini benar-benar akan mengantarkan saya kepada tujuan saya. Tujuan yang mungkin bagi sebagian orang agak aneh atau memang aneh. Tujuan menjadi manusia. Memangnya selama ini apakah saya belum menjadi manusia?. Menjadi manusia yang saya maksud adalah adalah bisa menjadi figur manusia yang paling manusia, manusia yang mengerti manusia, manusia yang memanusiakan manusia.
Ada beberapa kesan penting yang saya dapatkan ketika minggu pertama kuliah ini. Tetapi kesan yang paling berarti bagi saya adalah meneguhkan kembali prinsip untuk tidak menilai pemikiran atau pendapat kita adalah yang paling benar. Kenapa saya sebut peneguhan kembali?. Karena selama ini saya mempelajari sikap-sikap untuk tidak menang sendiri itu lebih dulu sebelum saya belajar secara formal di fakultas filsafat. Dari tulisan-tulisan gus dur, gus mus, cak nur dan lain-lain saya belajar untuk menghargai setiap pemikiran seseorang. Inilah mungkin sikap yang sangat sulit diterapkan pada diri kita semua. Kita cenderung selalu mengunggulkan diri kita diatas orang lain. Tak pernah ada toleransi berfikir. Semuanya ingin pemikirannya diakui sebagai sesuatu yang paling benar. Dan menurut saya akar semua masalah di indonesia adalah tidak adanya toleransi berfikir. Setiap kelompok ataupun individu selalu ingin manjadi pembicara bukan menjadi pendengar yang baik. Bahkan ketika kita mencoba menjadi pendengar kita keburu tidak terima, menyangkal ataupun sikap-sikap lain yang pada intinya kita tidak menghargai pendapat orang lain. Akibat ini semua adalah tidak adanya kompromi gagasan, semuanya berfikiran sempit. Semuanya mengandalkan ego berfikir masing-masing. Bisa kita bayangkan jika dalam taraf penyusunan gagasan saja tidak ada dialog atau kompromi antar kelompok atau individu maka bagaimana dalam taraf realisasi gagasan.
Mari kita sejenak beranologi, ada sebuah bunga mawar berwarna putih, lalu ada 2 orang kita suruh memberikan tanggapannya tentang bunga mawar tersebut. Orang pertama bicara bahwa bunga mawar putih adalah lambang kesucian cinta dan ketulusan pengabdian. Sementara itu orang kedua mengatakan bahwa bunga mawar putih adalah lambang kesucian hati seseorang ketika hendak menghadap tuhanya. Satu bunga mawar putih bisa memberikan arti yang berbeda-beda bagi setiap orang. Lantas apakah kita akan mengatakan bahwa bunga mawar putih yang di deskripasikan oleh si a sebagai sesuatu yang salah, hanya karena si a berbeda pendapat dengan kita. Contoh tersebut hanyalah masalah kecil dalam kehidupan sehari-hari kita. Lantas bagaimana jika itu menyangkut realisasi tujuan kemajuan bangsa. Setiap orang punya pendapatnya tentang ketuhanan yang maha esa, setiap orang punya fersinya tentang keadilan sosial, setiap orang punya langkah-langkah yang berbeda untuk merealisasikan kesejahteraan sosial yang merata. Ini semua harus didialogkan. Tujuan kita sama yaitu membawa indonesia ke arah yang lebih baik. Tetapi kita mempunyai definisi yang bermacam-macam tentang kebaikan yang seperti apa yang cocok untuk indonesia. Disinilah letak urgent nya dialog, untuk mengutarakan semua definisi-definisi kita untuk mencari titik temu. Kita tidak bisa menjadi bangsa yang maju jika kita tak pernah berfikiran terbuka terhadap setiap pemikiran orang lain. Disinilah filsafat mengajari untuk menghargai setiap pemikiran karena dari setiap pemikiran itu pasti ada sisi baiknya. Kita harus bisa menjauh dari sikap-sikap yang terkungkung pada sekat-sekat SARA. Kita harus bisa berfikiran bebas dalam artian yang positif. Kita harus terus belajar-belajar dan belajar. Tidak ada atau belum ada sesuatu yang final. Semuanya harus terus kita pelajari. Dengan begitu semoga kita bisa menjadi individu yang berfikiran terbuka terhadap semua gagasan, menghargai setiap gagasan, mengahrgai proses dialog. Menarik meresapi kata-kata dari kh mustofa bisri
Kebenaran kita kemungkinan salah
Kesalahan orang lain kemungkinan benar
Hanya kebenaran Tuhan yang benar.benar-benar.

Filsafat dan kemandirian berfikir.
Seorang filsuf sejati haruslah bisa merumuskankan filsafatnya sendiri. Kalimat itu adalah kesimpulan kedua yang saya dapat dari kuliah saya pertama minggu ini. Dalam dunia filsafat kita akan bertemu dengan sangat banyak gagasan-gagasan dari filsuf-filsuf besar. Bagaiamana kita menyikapi gagasan-gagasan itu adalah salah satu sikap yang akan menentukan jalan fikiran kita kedepannya. Menarik yang saya dapat minggu ini. Saya menyebut ini sebagai sebuah kemandirian berfikir. Apa itu kemadirian berfikir. Dalam konsep saya kemandirian berfikir adalah sikap untuk melakukan filteriasi terhadap pendapat-pendapat filsuf. Kita tidak harus atau bangkan tidak boleh selalu setuju dengan gagasan seoarang filsuf. Kita harus bisa berposisi berlainan. Dengan sikap seperti itu kita akan mengkritisi setiap gagasan filsuf dalan selanjutnya kita akan bisa menciptakan filsafat menurut diri kita sendiri. Jadi berbeda pendapat dengan sebuah pemikiran adalah sebuah keniscayaan yang harus kita lakukan. Tujuanya agar kita bisa memiliki kemandirian dalam berfilsafat. Setiap gagasan filsuf ada baik dan juga ada buruknya. Kita harus bisa memilih mana yang baik dan mana yang buruk menurut kita. Dan selanjutnya kita bisa berfilsafat menurut diri kita sendiri. Dan ini tidak mudah semoga saya bisa.

10-9-2012  Dikamar kost tercinta

Tidak ada komentar:

Posting Komentar