Muslim, Hindu, Kristen Aku tak peduli
Syiah, Sunni. NU atau Muhammadiyah
Kau manusia, karena itu pandang pula aku sebagai manusia
Baru lihat embel-embelnya
(Sajak Kelahiran,karya Abdul Hadi WM.)
Hidup di negeri yang sangat plural dalam segala hal itu tidak mudah. Berbagai tantangan harus siap dihadapi kaitanya dengan pluralitas. Akhir-akhir ini kesatuan dan pluralitas di negeri kita sedang diuji. Berbagai tindakan kriminalitas yang menyangkut keyakinan agama semakin marak. Mulai dari kasus penyerangan dan penuntutan pembubaran ahmadiyah, kasus pembekaran gereja, bom gereja hingga yang paling segar di inggatan kita adalah kasus penyerangan komunitas syiah di Madura.
Semakin banyak kelompok yang dengan lantang
mengatakan bahwa keyakinan yang dianut adalah paling benar. Maka setiap
keyakinan apapun yang berbeda dinggap salah. Saya sangat miris melihat
hal ini, sekitar dua miggu yang lalu saat saya berdiskusi dengan
komunitas syiah di Yogyakarta. Komunitas syiah itu menceritakan
bagaimana penderitaan saudara-saudara syiah di Madura, yang di
deskriminasi lahir batin. Setelah diskusi itu yang ada dalam benak saya
hanya satu pertanyaan, apa yang terjadi pada diri saya andaikan saya
seoarang syiah?. Di dalam esai ini saya akan berusaha menempatkan diri
saya sebagai seseorang syiah. Namun tanpa bermaksud mengurangi
netralitas dalam tulisan saya ini (meskipun jelas konten esai lebih
cenderung kepada subjektivitas).
Jika saya menjadi seoarang syiah berikut adalah kemungkinan-kemungkinan kejadian yang akan saya alami. 1)
saya pasti akan dilihat sebelah mata, karena selama ini mayoritas
masyarakat Islam di Indonesia menggap komunitas syiah sesat. Hanya
karena syiah berbeda dengan mayoritas aliran Islam di Indonesia lantas
komunitas saya dianggap sesat. Apakah parameter sesat hanya karena
perbedaan?. 2) jika saya seorang syiah pasti
saya harus beribadah dengan dijaga polisi, atau paling tidak harus
beribadah dengan penuh ketakutan jika sewaktu-waktu komunitas saya
diserang, seperti yang terjadi di Madura. Selain itu saya harus siap
menerima berbagai tindakan-tindakan kriminal. Pembunuhan, kekerasan,
pengusuran seperti yang sudah terjadi pada komunitas syiah di Madura. 3)
jika saya menjadi syiah, pasti saya akan menjadi komunitas yang
terkucil dari pergaulan masyarakat di Indonesia. Dalam sebuah berita
seoarang ulama garis keras menyatakan bahwa syiah kafir, sesat dan
menyesatkan. Akibat fatwa ulama itu pasti akan membuat saya dijahui
dalam kehidupan bermasyarakat. Bahkan mungkin bagi mereka darah saya
halal, karena saya orang kafir. Hal tersebut juga akan mengakibatkan
sulitnya saya mengakses berbagai fasilitas umum. Sebenarnya masih banyak
lagi kemungkina kejadian yang akan saya alami jika saya menjadi seoarng
syiah.
Jika kita amati berbagai kasus konflik atas nama
agama, sebenarnya semuanya mengarah kepada satu hal yaitu kriminalisasi
perbedaan. Setiap orang yang berbeda dengan mayoritas dinggap sesat, dan
cap sesat ini pasti akan berakhir dengan tindakan anarkis, dan
kriminal. Contohnya saja dalam internal agama Islam, kasus label sesat
Ahmadiyah, dan Syiah, menunjukkan bahwa yang disebut Islam kian hari
kian sempit. Semboyan bhineka tunggal ika sudah kita hianati.
Kita selama ini hanya sebatas tahu bahwa Indonesia adalah negeri dengan
berbagai keberagaman. Tetapi kita sebagai mayoritas tetap membuat bahkan
membangun skat yang lebih tinggi untuk pembeda kita dengan komunitas
mayoritas. Sudah waktunya kita sadar kebenaran milik semua orang, semakin banyak perbedaan semakin banyak pula yang bisa kita pelajari.
Kalau kerja kita hanya sesat-menyesatkan saya
hawatir, tidak hanya syiah atau ahmadiyah yang kita cap sebagai
komunitas sesat yang harus dibubarkan. Bahwa label sesat dari manusia
tidak bisa dijadikan dalil untuk membasmi suatu keyakinan, keyakinan
adanya di hati dan tidak bisa dibubarkan. Kita harus segera menyudahi
episode pembenaran kelompok dan diri sendiri. Sudah saatnya kita
menunduk memandang diri sendiri, sudahkan kita menjadi manusia yang
paling manusia, manusia yang mengerti manusia dan manusia yang
memanusiakan manusia?.
Sudah saatnya kita mulai belajar melihat manusia karena kemanusiaanya, bukan karena embel-embelnya.
Dengan begitu kita akan mudah mencitai manusia bukan karena, agama,
suku, ras. Saya juga sedang belajar untuk mencintai manusia karena
kemanusiaanya, mari kita belajar bersama.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar