-

_dalam setiap kata yang kau baca,
selalu ada huruf yang hilang
kelak kau pasti akan kembali menemukanya
di sela kenangan penuh ilalang__


Minggu, 30 Desember 2012

JIKA SAYA SEORANG SYIAH (Belajar Mencintai Manusia karena Kemanusianya)

Muslim, Hindu, Kristen Aku tak peduli
Syiah, Sunni. NU atau Muhammadiyah
Kau manusia, karena itu pandang pula aku sebagai manusia
Baru lihat embel-embelnya
(Sajak Kelahiran,karya  Abdul Hadi WM.)





Hidup di negeri yang sangat plural dalam segala hal itu tidak mudah. Berbagai tantangan harus siap dihadapi kaitanya dengan pluralitas. Akhir-akhir ini kesatuan dan pluralitas di negeri kita sedang diuji. Berbagai tindakan kriminalitas yang menyangkut keyakinan agama semakin marak. Mulai dari kasus penyerangan dan penuntutan pembubaran ahmadiyah, kasus pembekaran gereja, bom gereja hingga yang paling segar di inggatan kita adalah kasus penyerangan komunitas syiah di Madura.
Semakin banyak kelompok yang dengan lantang mengatakan bahwa keyakinan yang dianut adalah paling benar. Maka setiap keyakinan apapun yang berbeda dinggap salah. Saya sangat miris melihat hal ini, sekitar dua miggu yang lalu saat saya berdiskusi dengan komunitas syiah di Yogyakarta. Komunitas syiah itu menceritakan bagaimana penderitaan saudara-saudara syiah di Madura, yang di deskriminasi lahir batin. Setelah diskusi itu yang ada dalam benak saya hanya satu pertanyaan, apa yang terjadi pada diri saya andaikan saya seoarang syiah?. Di dalam esai ini saya akan berusaha menempatkan diri saya sebagai seseorang syiah. Namun tanpa bermaksud mengurangi netralitas dalam tulisan saya ini (meskipun jelas konten esai lebih cenderung kepada subjektivitas).
Jika saya menjadi seoarang syiah berikut adalah kemungkinan-kemungkinan kejadian yang akan saya alami. 1) saya pasti akan dilihat sebelah mata, karena selama ini mayoritas masyarakat Islam di Indonesia menggap komunitas syiah sesat. Hanya karena syiah berbeda dengan mayoritas aliran Islam di Indonesia lantas komunitas saya dianggap sesat. Apakah parameter sesat hanya karena perbedaan?. 2) jika saya seorang syiah pasti saya harus beribadah dengan dijaga polisi, atau paling tidak harus beribadah dengan penuh ketakutan jika sewaktu-waktu komunitas saya diserang, seperti yang terjadi di Madura. Selain itu saya harus siap menerima berbagai tindakan-tindakan kriminal. Pembunuhan, kekerasan, pengusuran seperti yang sudah terjadi pada komunitas syiah di Madura. 3) jika saya menjadi syiah, pasti saya akan menjadi komunitas yang terkucil dari pergaulan masyarakat di Indonesia. Dalam sebuah berita seoarang ulama garis keras menyatakan bahwa syiah kafir, sesat dan menyesatkan. Akibat fatwa ulama itu pasti akan membuat saya dijahui dalam kehidupan bermasyarakat. Bahkan mungkin bagi mereka darah saya halal, karena saya orang kafir. Hal tersebut juga akan mengakibatkan sulitnya saya mengakses berbagai fasilitas umum. Sebenarnya masih banyak lagi kemungkina kejadian yang akan saya alami jika saya menjadi seoarng syiah.
Jika kita amati berbagai kasus konflik atas nama agama, sebenarnya semuanya mengarah kepada satu hal yaitu kriminalisasi perbedaan. Setiap orang yang berbeda dengan mayoritas dinggap sesat, dan cap sesat ini pasti akan berakhir dengan tindakan anarkis, dan kriminal. Contohnya saja dalam internal agama Islam, kasus label sesat Ahmadiyah, dan Syiah, menunjukkan bahwa yang disebut Islam kian hari kian sempit. Semboyan bhineka tunggal ika sudah kita hianati. Kita selama ini hanya sebatas tahu bahwa Indonesia adalah negeri dengan berbagai keberagaman. Tetapi kita sebagai mayoritas tetap membuat bahkan membangun skat yang lebih tinggi untuk pembeda kita dengan komunitas mayoritas. Sudah waktunya kita sadar kebenaran milik semua orang, semakin banyak perbedaan semakin banyak pula yang bisa kita pelajari.
Kalau kerja kita hanya sesat-menyesatkan saya hawatir, tidak hanya syiah atau ahmadiyah yang kita cap sebagai komunitas sesat yang harus dibubarkan. Bahwa label sesat dari manusia tidak bisa dijadikan dalil untuk membasmi suatu keyakinan, keyakinan adanya di hati dan tidak bisa dibubarkan. Kita harus segera menyudahi episode pembenaran kelompok dan diri sendiri. Sudah saatnya kita menunduk memandang diri sendiri, sudahkan kita menjadi manusia yang paling manusia, manusia yang mengerti manusia dan manusia yang memanusiakan manusia?.
Sudah saatnya kita mulai belajar melihat manusia karena kemanusiaanya, bukan karena embel-embelnya. Dengan begitu kita akan mudah mencitai manusia bukan karena, agama, suku, ras. Saya juga sedang belajar untuk mencintai manusia karena kemanusiaanya, mari kita belajar bersama.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar