-

_dalam setiap kata yang kau baca,
selalu ada huruf yang hilang
kelak kau pasti akan kembali menemukanya
di sela kenangan penuh ilalang__


Kamis, 27 Desember 2012

KITA DAN SANDAL JEPIT


3 hari ini saya berganti 3 kali sandal jepit. Dengan mudahnya sandal jepit itu saya gonta-ganti. Dimulai saat kumpul di HMI sampai pada saat acaranya cak nun. Karena memang dalam acara-cara itu cukup banyak orang, sehingga saya pun waton sarampang sandal, sekenanya saya pakai. Tidak lucu kalau saya harus mencari sandal jepit milik saya diantara lautan sandal jepit. Akhirnya ya, sekenanya saja saya ambil dan pakai yang penting sandal jepit. Kalau dahulu di pesantren kelakukan ini disebut nGosop, yang jelas saya agak keberatan jika kelakuan ini disebut mencuri, bagaimana bisa ini hanyalah model pertukaran sama nilai antar manusia, sandal jepit ditukar dengan sandal jepit. Tak ada yang lebih, sama-sama rendah mungkin hanya beda sangat sedikit mengenai ketebalan masing-masing sandal, yang jelas jika sandal jepit itu (di)ungkan tak akan bernialai apapun. Sangat beruntung jika ditengah bangsa yang kemaruk duwit ini ada orang yang mau membeli sandal jepit bekas, jika memang ada luar biasa bangsa ini, tapi saya kok ya haqqul yakin tidak akan ada yang mau.
Walapaun 3 kali berganti sandal jepit, ya ternyata rasanya tetap sama, tak ada keistemewaannya. Beda dengan ganti-ganti yang lain, kalau ganti istri mungkin tiap istri rasanya beda –mungkin,  saya juga belum pernah mencobanya- yang jelas nikmat memakai sandal jepit adalah nikmat luar biasa. Sandal jepit adalah simbol penjara yang paling bebas, bagaimana bisa kaki kita dipenjara sandal, tapi lihatlah si jempol atau jentik mu masih bisa tengok kanan-kiri tanpa malu. Inilah kehebatan mutakhir teknologi bangsa kita!!. Kaki kita ibarat jiwa kita, yang karena gerak dan langkahnyalah kualitas hidup kita ditentukan, sandal jepit adalah raga fisik yang memenjara jiwa.
 Pelajaran besar dari sandal jepit, sandal jepit begitu lentur mengikuti kemauan kaki kita, itulah sharusnya hidup kita. Seharusnya jiwa yang baik lah yang mengerakkan raga fisik kita, tapi dibangsa ini semuanya sudah mapan dengan budaya wolak-walik. Kita yang seharusnya dikendalikan jiwa malah kuwalik raga fisik yang mengendalikan diri kita. Kita telah lama dikuasai fisik kita, kita bahkan telah menindas jiwa kita hingga pada titik yang paling rendah. Kita telah membiarkan sandal jepit mengendalikan kaki kita. -Kalau boleh pinjam istilah gus mus,- Kita tak lebih dari budak-budak perut dan klamin –ingat kita disini termasuk semuanya, termasuk diri yang nulis tulisan ini- . Tampaknya sangat indah jika kita bisa menjadikan raga fisik kita seperti normalnya sandal jepit yang penuh dikendalikan oleh kaki kita secara lentur.
Lalu bagaimana dengan masalah awal, gonta-ganti sandal jepit. Sebenarnya itu tidak begitu penting. Saya masih yakin bahwa dalam batas-batas tertentu ngosop itu diperbolehkan. Batas apakah itu?, batas dimana barang yang kita gosop setara dengan barang yang kita korbankan untuk juga nanti digosop orang. Cerita pertukaran sandal jepit tak lebih hanya sebuah pengantar, agar kita-kita ini manusia yang mulia mau belajar dari si sandal jepit. Agar kita tidak lupa bahwa dirikita sebenarnya adalah miniatur kaki dan sandal jepit. Kita tahu dan sudah sangat faham bahwa sandal dan kaki letaknya adalah dibawah, dan biasanya tidak terperhatikan. Memangnya ada calon suami yang jatuh cinta pada pandangan kaki istri yang pertama, memangnya ada calon pegawai negeri yang dilihat kakinya saat tes. Kita ini begitu rendah serendah sandal jepit, kalau masih ada yang meninggikan diri, kenapa tidak menyusun proposal saja pada Gustiallah untuk merubah kakinya menjadi diatas, pasti akan sangat lucu.
Tidak ada ciptaan gustiallah di dunia ini yang sia-sia, termasuk sandal jepit.


Yogyakarta 19-12-12. menjelang malam 

3 komentar:

  1. akan sangat bermanfaat (mungkin), bila berbagai ideologi di pertemukan dan menghasilkan suatu sintesa yang baru, yang fresh dan lebih fleksibel serta lebih baik (walau kadang tidak) (walau arti 3 kata tadi, menurut banyak orang masih berbeda-beda)
    4 thumbs for my friend, Danang -->(the man who became great philospoher, and give the new way for muslim "habbits")..

    http://sebuahpemikiranbiasa.blogspot.com/

    BalasHapus
    Balasan
    1. saya belum mahir untuk gabung-gabung ideologi, ...tapi kalau gabung-gabung mkanan insyallah mahir :D

      matur sembah nuwun komentarnya.

      Hapus
  2. saya rasa ngosop gak akan ada masalah selama masyarakat yang ada sama-sama memiliki paham dan kesepakatan yang sama. tentu ngosop itu tadi tidak dapat diterapkan di sembarang tempat.

    BalasHapus