3 hari ini saya berganti 3 kali sandal jepit. Dengan mudahnya
sandal jepit itu saya gonta-ganti. Dimulai saat kumpul di HMI sampai pada saat
acaranya cak nun. Karena memang dalam acara-cara itu cukup banyak orang,
sehingga saya pun waton sarampang sandal, sekenanya saya pakai. Tidak lucu
kalau saya harus mencari sandal jepit milik saya diantara lautan sandal jepit.
Akhirnya ya, sekenanya saja saya ambil dan pakai yang penting sandal jepit.
Kalau dahulu di pesantren kelakukan ini disebut nGosop, yang jelas saya agak
keberatan jika kelakuan ini disebut mencuri, bagaimana bisa ini hanyalah model
pertukaran sama nilai antar manusia, sandal jepit ditukar dengan sandal jepit.
Tak ada yang lebih, sama-sama rendah mungkin hanya beda sangat sedikit mengenai
ketebalan masing-masing sandal, yang jelas jika sandal jepit itu (di)ungkan tak
akan bernialai apapun. Sangat beruntung jika ditengah bangsa yang kemaruk duwit
ini ada orang yang mau membeli sandal jepit bekas, jika memang ada luar biasa bangsa
ini, tapi saya kok ya haqqul yakin tidak akan ada yang mau.
Walapaun 3 kali berganti sandal jepit, ya ternyata rasanya
tetap sama, tak ada keistemewaannya. Beda dengan ganti-ganti yang lain, kalau
ganti istri mungkin tiap istri rasanya beda –mungkin, saya juga belum pernah mencobanya- yang jelas
nikmat memakai sandal jepit adalah nikmat luar biasa. Sandal jepit adalah
simbol penjara yang paling bebas, bagaimana bisa kaki kita dipenjara sandal,
tapi lihatlah si jempol atau jentik mu masih bisa tengok kanan-kiri tanpa malu.
Inilah kehebatan mutakhir teknologi bangsa kita!!. Kaki kita ibarat jiwa kita,
yang karena gerak dan langkahnyalah kualitas hidup kita ditentukan, sandal
jepit adalah raga fisik yang memenjara jiwa.
Pelajaran besar dari
sandal jepit, sandal jepit begitu lentur mengikuti kemauan kaki kita, itulah
sharusnya hidup kita. Seharusnya jiwa yang baik lah yang mengerakkan raga fisik
kita, tapi dibangsa ini semuanya sudah mapan dengan budaya wolak-walik. Kita yang seharusnya dikendalikan jiwa malah kuwalik raga fisik yang mengendalikan
diri kita. Kita telah lama dikuasai fisik kita, kita bahkan telah menindas jiwa
kita hingga pada titik yang paling rendah. Kita telah membiarkan sandal jepit
mengendalikan kaki kita. -Kalau boleh pinjam istilah gus mus,- Kita tak lebih
dari budak-budak perut dan klamin –ingat kita disini termasuk semuanya, termasuk
diri yang nulis tulisan ini- . Tampaknya sangat indah jika kita bisa menjadikan
raga fisik kita seperti normalnya sandal jepit yang penuh dikendalikan oleh
kaki kita secara lentur.
Lalu bagaimana dengan masalah awal, gonta-ganti sandal
jepit. Sebenarnya itu tidak begitu penting. Saya masih yakin bahwa dalam
batas-batas tertentu ngosop itu diperbolehkan. Batas apakah itu?, batas dimana
barang yang kita gosop setara dengan barang yang kita korbankan untuk juga
nanti digosop orang. Cerita pertukaran sandal jepit tak lebih hanya sebuah
pengantar, agar kita-kita ini manusia yang mulia mau belajar dari si sandal
jepit. Agar kita tidak lupa bahwa dirikita sebenarnya adalah miniatur kaki dan
sandal jepit. Kita tahu dan sudah sangat faham bahwa sandal dan kaki letaknya
adalah dibawah, dan biasanya tidak terperhatikan. Memangnya ada calon suami
yang jatuh cinta pada pandangan kaki istri yang pertama, memangnya ada calon
pegawai negeri yang dilihat kakinya saat tes. Kita ini begitu rendah serendah
sandal jepit, kalau masih ada yang meninggikan diri, kenapa tidak menyusun
proposal saja pada Gustiallah untuk merubah kakinya menjadi diatas, pasti akan
sangat lucu.
Tidak ada ciptaan gustiallah di dunia ini yang sia-sia,
termasuk sandal jepit.
Yogyakarta 19-12-12.
menjelang malam
akan sangat bermanfaat (mungkin), bila berbagai ideologi di pertemukan dan menghasilkan suatu sintesa yang baru, yang fresh dan lebih fleksibel serta lebih baik (walau kadang tidak) (walau arti 3 kata tadi, menurut banyak orang masih berbeda-beda)
BalasHapus4 thumbs for my friend, Danang -->(the man who became great philospoher, and give the new way for muslim "habbits")..
http://sebuahpemikiranbiasa.blogspot.com/
saya belum mahir untuk gabung-gabung ideologi, ...tapi kalau gabung-gabung mkanan insyallah mahir :D
Hapusmatur sembah nuwun komentarnya.
saya rasa ngosop gak akan ada masalah selama masyarakat yang ada sama-sama memiliki paham dan kesepakatan yang sama. tentu ngosop itu tadi tidak dapat diterapkan di sembarang tempat.
BalasHapus