-

_dalam setiap kata yang kau baca,
selalu ada huruf yang hilang
kelak kau pasti akan kembali menemukanya
di sela kenangan penuh ilalang__


Rabu, 05 Februari 2014

Hujan Bibir Kita


Hujan. Sampai kapan kita akan puji sapardi. Tak ada yang lebih bijak dari hujan bulan juni katanya. Gadis kecil diseberangkan gerimis. Lirik-liriknya memukau kita. Iya kan, kau juga terpukau, saat kita sedang duduk menyatukan lutut pada dagu kita yang lelah. Kau terpukau kan. Akupun jug ia. Tapi sampai kapan kita kekalkan pukau ini, sayang. Sampai kapan. Pada hujan kita akan terpukau.

Sampai
          Kapan
Sayang
      Setelah
Sudah
Aku membaca
Gigilmu
Yang lucu itu
Dingin, iya kita kedinginan
Tapi
Bukan
Sebab
Hujan yang bijak itu

Hujan yang indah hanya dalam sajak
Tapi kita hidup di luar sajak

Memang hujan menghapus segalanya

Aku tak urung bisa menahanmu dengan kata-kataku
Kau sudah lama pergi, sayang

Tapi dusta dan pura-pura ku
Kekal dibawah hujan
Hujan
Tak
Menghapus
Dusta dan pura-pura

Ketika tiba tiba
Kau tekuk bibirku, dibawah bibirmu
Kita tak kuasa
Atau hanya aku yang tak kuasa Terpukau pada hujan
Saat gigil mulai Hilang
 ditekuk dua bibir yang gemulai



Tidak ada komentar:

Posting Komentar