ini kutulis untukmu chairil,
karena setiap malam kau selalu datang
mengetuk kamarku
dan memamerkan sepi dan sunyi yang kau pegang di jemari indahmu
Hidup seribu
tahun lagi, impian chairil...tak ada setengah abad hidup raganya. Tapi
impiannya hidup seribu tahun lagi ,meniup kemana saja. Masuk ke ubun-ubun dan
menjadi nyawa-nyawa yang menghidupkan banyak raga.
2
Oh chairil hendaknya
memang kau ajari aku menantang segalanya. Menantang tuhan, untuk seribu tahun
lagi. Tapi aku tak berdaya ketika melihat kau di karet juga akhirnya. Bakan
setitik, sangat titik untuk mencapai angka seribu.
3
Oh chairil,
ajari aku tipa malam menantang sunyi. Menyelami keindahan dan kepedihan sepi.
Hingga suatu waktu kita akan biarkan diri kita berlayar berdua, diatas laut tak
bernama. Menuju pulau yang fatamorgana. Untuk selanjutnya kita berdua
terkekeh-kekeh tertawa, memandang langit. “ aku ingin hidup seribu tahun lagi”
ah puas rasanya jika aku bisa berteriak itu bersamamu. Kita sama, berkawan
rangka saja.
4
Oh chairil tapi
maukah kau berjalan didepanku. Sedang aku bukan apa-apa. Di depanmu sepi
tertunduk malu tergilas gelora gemuruh jiwamu. Tapi di depanku aku mati
berulang kali di koyak koyak sepi.
5
Oh chairil, dari
seribu tahun lagi yang kau katakan. Aku berani menulis ini. Untuk selanjutnya
melihat lembaran nyawa yang berkibar-kibar layaknya kupu-kupu diatas ubunku.
6
Oh chairil dari
seribu tahun lagi katamu. Aku berani atau mungkin masih mencoba berani
mengikutimu. Walau ku tahu tak juga kau tolehkan wajahmu ke belakang, melihat
nanar bahagiaku. Tak juga ku bisa terbitkan duka dari daging-daging yang setiap
hari kupuja. Sementara kau sudah sejak awal, tak peduli segalanya.
Oh chairil....oh
chairil...oh chairil
Ajak aku
berlayar,
.jpg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar