-

_dalam setiap kata yang kau baca,
selalu ada huruf yang hilang
kelak kau pasti akan kembali menemukanya
di sela kenangan penuh ilalang__


Selasa, 08 Februari 2011

Sekalipun nasib memberi kita umur yang panjang, jika kita tetap diam dan tidak melawan maka keadaan kita akan tetap beku. Karena kita hanya diam sebagai budak penurut, tidak ikut memusnahkan sebab kebekuan itu sendiri

66 Tahun, sejak kebebasan itu kita raih bersama. Sang waktu telah berjalan begitu cepat, tak terasa darah untuk kebebasan itu mungkin sudah kering atau bahkan hilang tanpa jejak. 1945 para pejuang, telah merebut hal yang selama ini dikurung, kemerdekaan,kebebasan setiap manusia, kini telah kembali. Dan indonesia merdeka, berkat keberanian mereka untuk menentang,membrontak demi kebebasan dan kemerdekaan. Keberanian mereka membrontak dan melawan kesewenang-wenangan telah membuat rakyat indonesia bebas.

Sekarang semua bebas, setiap individu memiliki hak untuk kebebasannya. Dan semua berjalan lancar, semua orang bisa bicara tanpa harus takut di teror, semua orang bisa menulis tanpa harus takut dicekal, semua orang bisa melawan kebijakan pemerintah yang sewenang-wenang tanpa harus takut ditembak mati. Dan kini aku melihat jalan-jalan penuh lautan manusia, berteriak, bahkan melempar batu, dengan membentangkan kain bertuliskan ejekan untuk setiap yang yang tidak sesuai dengan idealisme mereka. Rakyat berani bersuara. Tapi saya rasa tak semuannya faham.

Kebeasan bukan berarti kita menentang semuanya, tetapi kita harus berani terhadap semua yang tidak sesuai dengan prinsip yang benar. Berani menentang, berani bersuara, dengan jalan kita masing-masing. Prinsip kebenaran tidak datang dengan sendirinya, bahwa kebenaran tidak datang dari langit, kebenaran mesti diperjuangkan menjadi benar, begitu kata Pramoedya Ananta Toer, penulis indonesia yang sangat berani menentang kesewenang-wenangan, dengan konsekuensi apapun, akibat perbuatannya.

Di tengah uforia kebebasan itu, Akhirnya aku sadar masih ada kebebasanku yang terkurung, mungkin lebih tepatnya bukan kebebasanku saja tapi kebebasan aku dan teman-temanku sesama pelajar. Selama ini tak kusadari bahwa ada guru yang selalu menuntut muridnya sesuai dengan apa yang mereka inginkan. Dan ini telah merenggut kebebasan seorang murid. Ini sedikit ceritaku. Ketika saya sukses dengan sebuah bidang yang tidak biasa, sebuah bidang yang mungkin menurut sebagaian guru tidak ada hubungannnya dengan pelajaran. Tapi bidang tersebut bisa mengantarkan saya seorang murid mencapai kesuksesan dan pencapaian impian.

Disinilah letak masalah itu, dimana seorang guru tersebut memaksa saya (murid) mengikuti impiannya, nilai bagus, dan doktrin pemaksaan untuk menyukai pelajaran yang beliau ajarkan itu yang ada dipikiran seorang guru yang saya maksut, tapi apakah arti sebuah nilai, nilai bermanfaat banyak kah bagi orang lain. Itu masih menjadi tanda tanya sangat besar, yang saya herankan kenapa seorang guru tersebut memaksa dengan keras muridnya untuk sesuai dengan pemikirannya. Apakah guru tersebut tidak pernah tahu fakta bahwa setiap orang memiliki perbedaan, tujuan, impian, dan cara tersendiri untuk kesuksesannya. Atau jangan-jangan guru terrsebut buta akan perbedaan setiap manusia. Dan saya tekankan bahwa murid manusia yang memiliki kebebasan untuk memilih. Dan dalam setiap pilihan itu konsekuensinya buruk maupun baik, yang menangung adalah si murid sendiri. Fahamkah itu kau guruku. Bahwa rasa hormat kami kepada engkau guruku, adalah rasa hormat biasa, rasa hormat seoarang murid kepada orang yang mentransferkannya ilmu, tak lebih dari itu. Maka kau guruku tak sedikitpun mempunyai hak untuk mengekang kebebasan kami, dan membuat kami seperti pemikiranmu yang tak pernah keluar dari tempurung kelapa.

Kami mempunyai dunia sendiri, dan dunia anak seperti saya dan yang lain lebih luas,. Tidak hanya dunia yang selama ini kau jalani monoton, dunia yang hanya mengejar nilai, yang manfaatnya belum jelas. Ketika saya mulai berani menentang semua pemikiran seorang guru tersebut, akibatnya dalam setiap kelas beliau, sindiran atau mungkin lebih tepatnya cemoohan setiap hari saya terima. Mungkin itu cara anda perhatian kepada saya dengan mengingatkan saya, bahwa saya keluar jalur yang seharusnya. Saya rasa mengingatkan tidak harus dengan kata-kata ejekan yang diulang setiap pertemuan. Dan saya juga bukan kerbau dunggu yang perlu terus diingatkan. Anda bukan hanya mengingatkan tapi dengan cara anda seperti itu, anda telah memaksa saya, dan ini berarti anda memotong kebebasan saya sebagai murid. Tapi karena saya faham itu hak anda guruku, sebagai manusia yang juga memiliki kebebasan, tapi yang perlu anda ketahui wahai guruku cara anda mengunakan kebebasan telah memotong hak kebebasan orang lain, selama ini kata-kata anda hanya melintas ditelingga saya, tak lebih dari itu, sebuah kesia-sian jika kata-kata anda membatu dalam hati saya, karena saya pikir kata-kata itu tak ubahnya suara katak disiang bolong.

Saya sebagai murid bukan budak yang selalu menuruti perkataanmu wahai anda guruku. Ketika anda selalu bilang bahwa bahwa sukses itu ....seperti ini,,,seperti itu....ya itu jalan anda. Saya sebagai murid mempunyai jalan sendiri. Dan tugas anda hanya mendidik saya, mencapai jalan yang saya inginkan. Bukan malah memaksa saya mengikuti jalan anda. Saya bukan kerbau ataupun budak yang selalu mengikuti majikannya. Dan kau guruku, kau bukan malaikat yang selalu benar, dengan jalanmu sendiri. Bahwa saya berani menentang anda karena saya yakin saya dengan tujuan,impian, dan cara saya adalah benar, dan kebenaran saya akan saya perjuangkan.

Saya sadar sepenuhnya itu memang kewajiban saya sebagai murid untuk belajar. Tapi bukan berarti saya belajar untuk menyamakan pemikiran dengan anda guruku. Bahwa saya mempunyai kebebasan. Dan anda juga mempunyai kebebasan. Saya rasa anda telah mengebiri kebesan saya sebagai murid. Saya tidak butuh nilai, nilai bukan paramater kebermanfaatan manusia untuk manusia lain. Tak selamanya budak akan menjadi budak dan tak selamanya malaikat akan terus benar.

Kita mempunyai kebebasan, Kita selamanya akan menjadi budak, Jika kita tidak berani membrontak dan melawan, guru bukan Tuhan yang setiap perkataannya harus kita turuti


Danang tri p

Yogyakarta 31 1 11

1 komentar: