-

_dalam setiap kata yang kau baca,
selalu ada huruf yang hilang
kelak kau pasti akan kembali menemukanya
di sela kenangan penuh ilalang__


Tampilkan postingan dengan label catatanku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label catatanku. Tampilkan semua postingan

Kamis, 08 Oktober 2015

Sedikit Saja

                Ini bagiku sangat lucu,

 kita sama-sama terluka

 dan berjihad melawan trauma




(FOTO: kamar kost, waktu masih suka lukis-lukis gak jelas

Sabtu, 20 September 2014

Sajak (1)



/1/
            Dia, semacam keindahan yang gagal dicatat dalam buku kuliah. Dia mempunyai kuasa atas segala bahasa. Sering menghanyutkanmu dalam suasana. Dia endapan yang sangat syahdu dari setiap pengalamanmu. Dia sesuatu yang telah hilang: hendak kau hadirkan kembali. Dia tak bisa dipaksa mengikuti langkah kakimu. Kau yang harus setia mengikutinya. Merawatnya, atau bahkan menyembunyikannya rapat-rapat dari bahasa. Dia kesyahduan yang maha. Lembut tetapi menyentak. Lirih tapi selalu bergema. Dilupakan tetapi selalu di inggat. Dia adalah kejujuran yang membrontak dari kata-kata. Tak ada yang bisa menampungnya.
Dia bisa saja dirimu yang tertelungkup kaku dalam sunyi ruang hidupmu. Tapi dia bukan dirimu yang menyeru dengan dalil-dalil hantu. Dia samar, suaranya lamat-lamat saja, tidak jelas, bahkan sangat lirih. Siapkan telingamu untuk mendengarnya. Dia tidak selalu berwujud dalam kata dan bahasa. Dia adalah kesunyian. Atau penjaga kesunyian: tempat kesehatan hidup dirawat. Dia hidup tidak dengan nyawa, tapi kehidupanya melebihi 1000 nyawa. Kekuatanya syahdu, tenaganya menekanmu: kembali, dan sunyi. Dia bukan gelak tawa tanpa ampun. Dia bukan ambisi. Temui dia segera.
Dia tidak beralamat dalam kata. Dia bisa saja senja yang hendak kau tikam dengan kata. Tapi kesyahduanya membunuhmu sejak kali pertama ingin mengabadikanya. Dia seperti juga senja yang tak bisa kau ringkus dalam satu kali gores: bait-bait indah. Dia menawarkanmu ruang dan waktu yang lain: dunia lain. Dunia lain: tempat segalanya hanya permainan. Dunia yang jauh, masuklah dan lihat dirimu disana yang semakin lusuh dan angkuh. Pesonya adalah kejujuran dan bahasanya adalah kesyahduan tak terkata. Lagi-lagi tak terkata, tetapi penuh rasa. Ingat kau bisa mati karenanya!!
/2/


Selasa, 09 September 2014

Perempuan dalam Ruang Antara





  
(gambar "Tepi", gambar saya sendiri, Pencil on Papper)


Ah tubuh kita, ah laki-laki, ah apa makna hidup dalam keterkucilan perempuan yang membrontak melawan takdirnya.



yang sudah jelas
tulis sajak itu
antara menyingkap dan sembunyi
antara munafik dan jatidiri.__Toeti Heraty Noerhadi. R



Aku benci menjadi seoarang perempuan. Kalimat tersebut akan sering sekali kita temu ketika membaca memoar seorang dokter perempuan. Sebuah kalimat pembrontakan. Sebuah puncak kesadaran eksistensial.
Kebencianya dimulai ketika dia menyadari tentang tubuhnya. Payudara yang menonjol, kenapa tidak sama dnegan laki-laki. Kenapa ketika berhadapan dengan laki-laki mata mereka selalu mengarah pada bagian dada.
Membaca novel ini kita benar diajak menelusuri perjalanan perempuan. Perjalanan yang diungkapkan dalam bahasa yang lugas, bahkan terkadang terlalu lugas.
“ aku sungguh sedih dengan tubuhku yang semakin tinggi dan langsing, karena itu aku suka bersedekap, merentangkan lengan di atas dadaku untuk menyembunyikan dadaku, dan dengan hati pilu kupandangi suadara laki-lakilu beserta teman-temanya apabila mereka bermain”
            Itulah titik awal perjalanan nawal el sadaawi, titik eksistensial, semacam sebuah cara berada yang berbentuk penegasian atas tubuhnya sendiri. Dari titik tersebutlah lantas dia memasuki kenyataan sosial yang dia lihat benar-benar memojokkan perempuan. Menyembunyikanya dalam rumah, mengurusi dapur, menjaga anak, mematikan intelektualitas karena mitos perempuan lebih unggul dalam aspek emosional. Satu-satunya yang berhak dirunggu oleh perempuan adalah pernikahan. Begitulah ibunya berkata.
Untuk keluar dari kondisi tersebut, jalan satu-satunya adalah menunjukkan dan menerima diri bahwa dia perempuan, dan mampu. Untuk itu lantas dia masuk fakultas kedokteran sebagai satu-satunya mahasiswi. Pengetahuan adalah satu-satunya harapan yang dia pegang dan yakini bisa mengantarkan keluar dari jerat kegelisahan dan keterpojokan sosial sebagai perempuan. Akhirnya dia sukses menjadi dokter, mengabdi di desa-desa plosok mesir. Dan akhirnya menikah dengan laki-laki yang keliru. Seorang laki-laki lemah yang merindukan sosok perempuan sebagai ibu. Pernikahan tersebut gagal, dan cintanya berlabuh kembali pada sosok seorang seniman. Seorang yang memahami kedokteran juga sebagai sebuah seni, seorang yang mengingnkan wanita yang penuh kejujuran
###
Secara keseluruhan kesan yang saya tangkap atas novel nawaal adalah sebuah rasa ketegangang eksistensial. Ketegangan dalam ruang antara. Di satu sisi dia menyadari bahwa dia seorang perempuan akan tetapi disisi lain, ada keinginanan melawan takdir. Melawan realitas sosialnya yang memojokkan perempuan, akan tetapi dia perempuan yang sudah sejak awal seperti dikutuk mitos menjadi manusia lemah.
Akhirnya kehidupan perempuan yang disajikan dengan rasa sastra yang baik dalam karya nawaal kali ini, adalah sebuah kehidupan yang penuh dengan tarik ulur. Sebuah ekpresi ketegangan antara. Haruskah dia menjadi perempuan seperti umumnya yang gembira dengan tubuhnya yang dilekati serba banyak atribut yang katanya menambah kecantikan. Akan tetapi melupakan segi kemampuan intelektualitas .
Cerita belum selesi, kita hanya diajak dari awal hingga akhir menelusuri ketegangan seorang perempuan dalam ruang antara. Pilihan antara sikap feminis ataukah feminine. Yang pertama menolak keterbatasan kodrat, yang kedua menerima kodrat sebagai landasan fungsional. Memilih yang manakah perempuan dalam cerita nawaal. Saya tidak tahu.

Cerita diakhiri dengan sebuah pertanyaan. Pun pada akhirnya setelah saya diam semoga ada sedikit pertanyaan dalam benak kalian. Entah terkatakan atau tidak. Selebihnya silakan baca novelnya. Begitulah.



Rabu, 03 September 2014

DICK HARTOKO DAN KABAR TENTANG PENDERITA LEUKIMIA ILMIAH


Awal Agustus yang lalu saya mendapatkan sebuah paket berisi bundel majalah basis edisi tahun 1994. Majalah bekas dengan kertas yang telah menguning di banyak sisi. Rasanya ingin sekali segera menuntaskan membaca bundel majalah tersebut. Akan tetapi, karena beberapa hal yang seolah mengijinkan saya untuk menunda keinginan bersegera menuntaskan membaca bundel majalah basis, akhirnya saya pun membaca bundel majalah tersebut dengan sangat lamban.
Ketika membuka lembar demi lembar majalah bekas tersebut. Anggan dan imajinasi saya malah membayangkan kebesaran sang Begawan kebudayaan  alm- Romo Dick Hartoko yang mengasuh dan membesarkan majalah basis. Membayangkan malam-malam yang dilalui Romo Dick ketika menulis sebuah kolom pembuka: tanda-tanda zaman. Semacam pengantar redaksi yang mengambarkan refleksi  penglihatan romo dick atas berbagai kahanan realitas yang terjadi ketika itu.
Majalah bekas tersebut, bagi saya menjadi berharga karena di dalamnya saya bisa menjumpai sosok Begawan Dick Hartoko melalui tulisanya, tanda-tanda zaman. Tulisan tanda-tanda zaman, tidak panjang. Akan tetapi, kedalamanya benar-benar mengambarkan kemampuan Sang Begawan untuk mbedar sabdo, memberi petuah-petuah tentang berbagai persoalan. Kemampuan sang Begawan salah satunya ditunjukkan pada edisi majalah basis bulan april tahun 1994. Begawan Dick Hartoko melihat persoalan buruknya fasilitas perpustakaan di universitas-universitas di Indonesia kala itu.
 Syahdan ketika itu sedang populer demonstrasi mahasiswa di Universitas Gadjah Mada. Kejadian tersebut dekade 1994. Romo Dick membuka tanda-tanda zaman dengan sebuah seruan dari Prof. A.Teeuw. Menanggapi demonstrasi mahasiswanya di UGM, Teeuw tidak menyerukan untuk jangan berdemonstrasi, dan kembalilah ke ruang kelas. Teeuw malah berkata “ Lakukanlah demonstrasi, untuk menuntut perpustakaan-perpustakaan yang lebih memadai, sehingga kalian bisa menunaikan studi dengan lebih baik” .
Lantas dalam bagian akhir tanda-tanda zaman, sang Begawan menulis. “Perpustakaan itu dapat disamakan dengan paru-paru. Sayang di kebanyakan universitas di Indonesia paru-paru tersebut kurang berfungsi, sehingga mahasiswa menderita leukemia ilmiah”.
Para mahasiswa menderita leukemia ilmiah karena kurang memadainya perpustakaan. Begitulah kabar yang saya terima  tentang kondisi tahun 1994 dari Begawan Dick Hartoko. Sebuah kabar dari tahun yang telah lalu. Suara dari seorang Begawan Kebudayaan yang telah beristirahat bersama Tuhan junjunganya
. Duapuluh tahun setelah sabdanya di tanda-tanda zaman, ternyata keaadaan kita tidak kunjung membaik. Buktinya, beberapa waktu yang lalu saya dengan seorang teman harus bersusah payah tanpa hasil ketika mencari buku-buku Kuntowijoyo di Perpustakaan Pusat UGM. Kegagalan saya mencari buku kuntowijoyo di perpustakaan UGM yang megah, bisa jadi karena kelalaian sistem komputer memasukan data base buku. Bisa juga karena kemalasan saya untuk mencari satu-persatu disetiap deret rak buku.
Akan tetapi, berkat kemajuan dalam berbagai hal, kini kondisi perpustakaan dan fasilitas baca lainya cukup baik. Perpustakaan universitas kita bisa dikunjungi dari pagi hingga malam hari. Akses internet 24 jam tersedia, memungkinkan kita mengunduh dan mebaca buku dari berbagai bahasa dan belahan dunia.
 Mahasiswa filsafat tidak perlu lagi kebingungan untuk mendapatkan kitab babon para filsuf. Sebuah web di internet telah menyediakan fasilitas gratis untuk kita dapat mengunduh kitab-kitab tersebut. Dunia, dan tekhnologi telah menawarkan kemudahan-kemudahan. Jelas, itu semua sangat sulit dilakukan ketika Romo Dick Hartoko masih menghalau kantuk setiap malamnya, di sebuah sudut perpustakaan Kolese Ignatius, Jl. Abu Bakar Ali.
Jelas zaman telah berubah, setelah 20 tahun tulisan romo dick, dan sang Begawan pun juga telah bersantai di surga. Lantas kita yang masih di dunia  dihadapkan pada pokok soal yang semakin rumit. Jika dahulu penyebab leukemia ilmiah adalah perpustakaan, kini penyakit itu kita  datangkan dalam diri kita sendiri, melalui diri kita sendiri, dan syukurlah beberapa dari kita tidak kunjung sadar dirinya penyakitan.
Setidaknya itu yang saya rasakan –tentu bisa jadi anda berbeda dari saya-. Saya sendiri tidak kunjung membaca jika belum dibentur-benturkan oleh kenyataan minimnya wawasan saya sebagai mahasiswa filsafat. Tidak kunjung membaca jika hati ini belum dicabik hingga berdarah-darah oleh wawasan kefilsafatan dan ilmu dari beberapa dosen dan teman-teman dekat saya.
Seorang teman sering berujar pada saya “ membaca itu tidak hanya membaca buku yang tertulis di atas kertas, tetapi membaca kehidupan sehari-hari yang kita hayati”. Tentu tidak ada kepantasan bagi saya untuk menyanggah ujaran teman saya tersebut, karena memang benar adanya seperti itu. Akan tetapi dalam kehidupan dunia yang semakin ruwet, sausana dunia yang sering digambarkan dalang dalam pewayangan dengan menyitir Prabu Jayabaya, donyo lan menungso koyo gabah den interi. Dunia dan manusia bagaikan biji padi di atas nampan yang di putar-putar.
Dalam kondisi yang seperti itu. Dapatkah kita sebagai mahasiswa filsafat melihat dunia lantas membacanya dengan jernih?, Tidak tertipu oleh yang kasat mata. Bisa masuk ke dalam inti realitas. Kalau saya kok ya tidak kunjung mampu. Karena itu saya perlu membaca buku sebagai kaca mata, yang tentu sangat membantu saya membaca dan menghayati kehidupan di sekitar saya. Bahwa pada akhirnya hasrat membaca saya masih timbul tenggelam, dan lebih sering saya dikuasai leukemia ilmiah. Hal tersebut menjadi tangungan saya sendiri untuk menyembuhkan diri saya sendiri.
Adakah rumah sakit atau dokter yang menyediakan obat penyakit leukemia ilmiah ini?.Leukemia ilmiah yang saya derita, tidak juga sembuh hanya karena ujaran “ keterampilan mahasiswa filsafat itu ya membaca dan menulis”. Kalimat yang sering terdengar tapi tidak kunjung mengendap di dasar hati. Kita –lagi-lagi ini termasuk saya-  masih lebih memilih duduk kongkow-kongkow, berbicara tidak tentu arah di sebuah kafe. Daripada menyendiri di pojok perpustakaan untuk membaca buku. Lebih memilih membeli berbagai trend baju dan gadget terbaru daripada membeli sebuah buku.  
 Membaca dan terus belajar adalah semacam dorongan kesadaran yang tan keno kinoyo ngopo tidak bisa dibicarakan. Maka saya harus lekas diam dan menyerah pada Sejatining ngelmu kelakone kathi laku, kebenaran sebuah ilmu jika telah dilaksanakan.
Sebagai penderita leukemia ilmiah. Semoga tulisan ini bukan sebuah kelancangan.




  

Minggu, 08 Desember 2013

INGATAN

“ sampai kapan kau akan disini?” suara itu tiba-tiba saja terdengar begitu jelas. seolah benar-benar terbisikan dengan jarak 5 cm dari daun telingaku.
Kadang ingatan-ingatan benar menyusahkanku. Dia datang begitu saja, dan ketika aku menyuruhnya pergi, dia malah semakin dekat. Aku benar-benar tak berkuasa apapun di depan ingatan. Duniaku bisa dia lipat dengan cepat. Aku sudah berjalan di ujung sebuah kertas putih panjang, tetapi ingatan datang dan melipat jarak panjang yang kutempuh, sehingga yang aku tahu tiba-tiba saja aku duduk di tempat aku pertama berjalan.
Sekarang pun aku sedang disiksa oleh mahluk yang bernama ingatan itu. “sampai kapan kau akan disini?”. Tak ada yang bisa menjawab pertanyaan ingatan dengan jelas dan panjang. jawaban apapun tak bisa memuaskan ingatan. Teteapi aku sudah cukup berpengalaman bercengkrama dengan ingatan. Jawaban yag memuaskan ingatan hanyalah, bahwa aku harus berhenti, diam dan mungkin duduk menekuk lutut. Setelah itu aku akan membiarkan diriku berjalan-jalan bersama ingatan, menjelajahi waktu yang sudah berada di belakangku.
“sampai kapan kau akan disini”
“sampai langait benar-benar bercerita kepadaku”
“itu tak mungkin” gadis disampingku menjawab ketus.
“aku tak peduli”
“kau gila” gadis itu semakin ketus
“aku tak peduli”
Aku merasakan gadis itu sekarang sangat dekat disampingku. Dia yang dari tadi berdiri sekarang sudah duduk menekuk lutut disamping punggungku.
“kenapa kau diam” aku sengaja membuka pembicaraan lagi dengan gadis itu
“ aku menunggu langit benar-benar bercerita kepadaku” jawabnya santai
“ kau meniruku”
“terserah”jawab gadis itu ketus
Aku merasakan langit tergangu sejak kedatangan gadis itu disampingku. Tapi mau bagaimana lagi. Dia juga bagian dari ingatanku. Akhirnya kami berdua benar-benar menunggu apa yang diceritakan angin. Tentang apa?. Kami berdua juga tak tahu. Hanya ingatan yang berkuasa menentukan apa yang akan diceritakan angin kepada kami berdua.
Malam semakin larut. Langit tak jung jua bercerita. Atau aku yang tak mendengarnya. Entah bagaimana dengan gadis dsampingku itu. Dia sama dneganku sejak obrolan terakhir kami, dia diam, aku juga diam. Diam kami berdua adalah isyarat bagi angin untuk segera bercerita. Tentang apapun, sesuai yang diperintahkan ingatan padanya.
Mata ku sudah tak kuat lagi. Akhirnya aku memutuskan memebaringkan diri. Yang kusadari saat itu hanya, lima menit setelah aku membaringkan diri, aku sudah terlelap. Gadis itu aku lihat masih duduk menekuk lutut. Aku sduha tak peduli dengan daun-daaun ilalang yang tajam ujung-ujungnya. Atau dengan ingatan masa kecilku disini adalah bekas kuburan cina yang sangat besar. Sampai sekarangpun, dibeberapa titik masih terlihat sarkofagus yang menyembul ketanah, bersama lisan-lisan, yang aku tak pernah tahu rangkaian huruf apa yang tertulis di bentanganya. 
“waktu itu langit bercerita apa kepadamu” tanyaku pada gadis itu.
Dia terdiam lama sekali, mungkin lupa. Wajar kejadian itu sudah dua minggu yang lalu, saat kami berdua duduk dipadang ilalang yang luas. Dan lalu aku tertidur begitu saja. Sekarang kami berdua telah meninggalkan kampung halaman kami. Libur semester memang kadang terasa pendek sekali. aku tak tahu apa yang  membuatnya terasa pendek. Akankah ini ulah ingatan lagi.
“tentang seorang lelaki yang belajar melupakan ingatan”
“bagaimana ceritanya?” tanyaku pada gadis itu, yang sekarang menyandarkan tubuhnya di dinding
“ laki-laki itu selalu merasa disiksa oleh ingatanya”
“ bagian mana dari ingatanya yang paling membuat laki-laki itu tersiksa?” tanyaku pada gadis itu, agar ia melanjutkan cerita
“20 tahun yang lalu ketika ia berumur 6 tahun ibunya mati, terserang penyakit TBC akut”
“ bukankah memang semua orang akan mati” tanyaku memutus ceritanya
“ia, tetapi ibu lelaki itu begitu berarti, lelaki itu tak bisa benar-benar jauh dari ibunya.”
“ kenapa tidak dibawa kedokter?”
“jangankan dokter untuk makan setiap hari saja keluarga itu kesusaha.” “sejak kematian ibunya laki-laki itu hanya tinggal seorang diri. Ayahnya lama meninggal sejak ia dalam kandungan.” Kata langit “ laki-laki itu sampai sekarang hidup sendiri. Dalam hati laki-laki itu, melakukan pencarian untuk menemukan separuh hatinya. Ia percaya pesan ibunya sebelum meninggal, bahwa kau harus temukan seorang perempuan yang memebawa separuh kebahagiaan kecil dari hatimu. Kecil seklai kebahagiaan itu. Sebenarnya kau hidup tanpanya bisa. Jika kau bisa membaca bahasa cinta yang disuarakan kebahagian-kebahagiaan kecil yang sedang bersembunyi disekitarmua” cerita gadis itu panjang padaku.
Aku mendengarkannya dengan penuh perhatian.
“Kenapa kau berhenti bercerita” tanyaku pada gadis itu yang sedang termanggu
“ hanya itu yang bisa kudengar dari bahasa angin”
“Terimakasih kau bercerita kepadaku”
“sama-sama, sampai jumpa lagi” gadis itu meninggalkanku, langkahnya kecil-kecil menapaki gugusan bungga yang dinatam berbentuk lingkaran.
Aku ditinggalkanya sediri, kini tinggal aku berdiri bersama ingatan. Setelah cerita gadis itu, tiba-tiba saja kepalaku terasa berat dan pening. Sekuat tenaga aku berusaha menopang tubuhku. Kucoba dengan tenaga yang tersisa melangkah menuju ruangan istirahat terdekat dari tempat ini.
***
Yang teakhir kuinggat adalah kakiku yang berhasil menjejak lima langkah dari tempatku berada dibawah pohon cemara besar. Aku juga masih ingat bagaimana gadis itu meninggalkanku dnegan langkah kecilnya. Memang ingatan selalu bisa berkuasa lebih atas sebagian kejadian hidupku.
Setelah lima langkah jejak kakiku, aku seperti memasuki salah satu bagia dunia yang sangat indah. Aku tak ingat itu dimana. Yang jelas aku berjalan terus saja, smabil terpesona melihat putik-putik melati yang merekah. Bau harumnya memancing ingatanku tentang ibu.
Benar saja, dikejauhan aku melihat ibu duduk dibawah pohon mangga yang sangat besar. Dari belakang aku sudah sangat mengenal perempuan itu, ia pasti ibuku. Rampaut yang digelung lalu dua sisipan bunga melati menghiasi gelungan rambutnya.
Begitu aku mendekat ibu menolehkan muka padaku.
“ anakku” sapa ibu
“iya bu” aku ingin memeluk ibuku tapi kenapa aku berdiri mematung di titik itu terus.
“kau telah dekat dengan pencarianmu, semua keputsan ada ditanganmu. Kau mau mendengarkan bahasa cinta yang banyak disuarakan kebahagian-kebahagiaan kecil dismapingmu. Atau kau ingin mencari separuh hatimu dalam kebagiaan kecil yang tersimpan di hati kecil gadis berambut kriting itu. Ibu percaya padamu”
***
Mataku memebuka dan tiba-tiba cahaya terang lampu 20 watt diatas ku benar-benar menganggu ruangan ini putih semua. Aku terbaring dengan tanan tersulur slang infus. Dari kejauhan, dibalik pintu kamar terlihat dengan jelas suster yang sedang berlalu-lalang.
Aku tersadar bahwa sebelum ini aku bermimpi bertemu ibuku. Setelah maut lama sekali memisahkan kita.
“kau telah dekat dengan kebahagiaan dan suara cinta kecil, yang selama ini kau cari”
Ingatan haruskah aku percaya bahasamu.


Rabu, 23 Januari 2013

SARA: KAPAN KITA BERANI MENGHAPUSNYA?


Akhir-akhir ini sering terjadi konflik di indonesia yang ditengarai sebabnya adalah pertentangan masalah Sara (Suku, Antar Golongan, Ras, Agama.) Tetapi ada sesuatu yang aneh, berbagai forum ruang publik seperti diskusi, seminar, kompetisi dan lain-lain, selalu memberikan batasan untuk tidak membahas masalah sara. Entah kapan tradisi pembatasan masalah sara itu selalu dicantumkan dalam berbagai kegiatan.
 Pengamatan saya, pembatasan untuk tidak menyingung masalah sara tidak pernah ada klarifikasi yang jelas. Tidak ada pejelasan lebih lanjut mengenai sebenarnya apa itu sara?, dan pembatasan sara itu yang seperti apa?. Sebenarnya ini menyangkut kebiasaan buruk dalam kehidupan kita, kita sering mengunakan banyak kata-kata dalam berinteraksi tanpa pernah menjelaskan dahulu sebenarnya arti kata itu apa. Asumsi kita bahwa semua orang yang berinteraksi dengan kita pemahamanya tentang kata yang kita gunakan sama dengan kita. Akibatnya kita sering bertengkar sengit dengan orang lain, gara-gara sesuatu yang sebenarnya sangat sepele, tapi karena pemahaman yang keliru yang sepele jadi terasa rumit.
Bagaimana kita mau bersikap menghargai sara orang lain dan terhindar dari konflik sara jika pemahaman tentang sara sendiri sangat minim. Pemahan kita tentang sara harus semakin kita tambah, rasanya selama ini kita hanya menjauhi apa yang sebetulnya belum kita fahami secara mendalam. Jangan-jangan banyak dari kita yang belum tahu sara adalah akronim dari (Suku, Antar Golongan, Ras, Agama.). Pemahaman yang mendalam tentang masalah sara inilah yang akan membuat kita bisa hidup rukun dan toleran di tengah pluralitas sara.  Saya kira perlu kita menghapus batasan untuk tidak membahas masalah sara dalam berbagai kegiatan dan ruang publik.

YOGYA AKHIR 2012

Minggu, 30 Desember 2012

MARI MISUH PADA DIRI SENDIRI


Misuh, kata ini cukup trend di daerah jawa timuran, entah sebenarnya secara etimologis atau terminologis misuh itu definisinya apa, saya belum tahu. Saya memahami kata misuh itu sebagai kalau dalam bahasa indonesia itu umpatan. Misuh itu biasanya dilakukan  ketika kita marah dengan seseorang, ada berbagai jenis kata yang biasanya digunakan untuk misuh dan cukup populer sebagai berikut, : dancuk, asu, bajingan, bangsat dan masih banyak lagi.
Misuh itu menurut saya adalah ekspresi budaya rakyat jelata kita terhadap berbagai tatanan kehidupan sosial yang merugikan dirinya. Ada pihak-pihak yang merusak tatanan sosial masyarakat dalam segala bidang baik ekonomi, budaya, dan lain-lain, pihak-pihak itulah yang biasanya menjadi sasaran pisuh-an masyarakat. Tetapi dewasa ini misuh sudah menjadi sesuatu yang biasa, kita dibohongi orang misuh, ban motor kita kempes di jalan juga kita misuh-misuh, sampai tetanga saya di kampung karena tak dapat BLT lalu berkata “ SBY ASU, Pemerintah bajingan”.
Banyak orang yang mengatakan misuh sebagai sebuah prilaku tak terpuji. Mungkin orang yang berkata begitu tidak pernah dihadapkan pada kenyataan sosial yang begitu menghimpit sehingga misuh adalah pelampiasan paling murah. Orang yang mengatakan misuh itu tak terpuji mungkin tak pernah merasakan sulitnya rakyat kecil dalam keterhimpitan indutrialisasi harus mencari sesuap nasi. Sulitnya tukang becak mencari penmupang ditengah menjamurnya Taxi dan angkutan umum bermesin lainya. Kalau memang kita terlahir sebagai keluarga yang secara ekonomi mapan, kita tak perlu ikut-ikut jadi tukang becak, kita hanya perlu melihat apa yang ada dibalik relitas, mata kita harus kita latih untuk lebih tajam melihat sebuah bingkai peristiwa. misuh itu adalah keseharian rakyat kecil kita, tukang becak, glandangan, preman, kernet, sopir bus, petani, buruh mereka sangat dekat dengan budaya misuh itu.
Kalau kata cak nun (ehma ainun nadjib) Agama memang mengajarkan pada kita untuk berkata yang baik-baik, tetapi dalam kondisi yang begitu tertekan misuh itu boleh . Yang harus dipersoalkan bukan misuhnya, tetapi apa yang mendorong misuh itulah yang harus kita lihat dengan cermat. Apakah kita akan menyalahkan dan mengharamkan prilaku misuh rakyat kecil kita yang termiskinkan oleh sistem negara yang tak pernah memihak pada rakyat. Bukankah negara yang tak memihak  pada rakyat itu dancuk namanya. Apakah kita akan menyalahkan rakyat yang mengatakan pemerintah itu dancuk, sementara dalam buktinya memang rakyat kecil kita seperti anak ayam tanpa bapak.
Sekarang ada inovasi dari saya, bagaimana kalau mulai sekarang kita (termasuk yg nulis) belajar untuk misuh i diri kita sendiri. Biasa kalau kita misuh atas kesalahan orang-orang lain disekitar kita. Mari kita coba belajar menyalahkan setiap perbuatan kita yang sangat bodoh. Saya sudah tahu kalau melihat gambar-gambar porno itu adalah keburukan dalam berbagai aspek, tetapi kadang-kadang saya juga masih mengulang melihat gambar porno. Bukankah ini sangat bodoh. Maka beranikah saya mengatakan bahwa saya ini DANCUK, ASU, BAJINGAN,. Kadang saya juga masih mengelak, bukankah melihat gambar porno itu manusiawi. Inilah manusia, inilah saya yang semakin hari semakin cerdas tetapi semakin sulit untuk menjadi manusia yang paling manusia. Jadi semakin saya cerdas semakin pula saya pandai membungkus keburukan menjadi kebaikan. Lalu beranikah saya berkata DANANG DANCUK TENAN, DANANG ASU TENAN. Sudah sangat jelas konsep bahwa bohong itu perbuatan tercela dan hina, tetapi saya kadang juga masih berbohong untuk menyembunyikan kejelekan saya. Bukankan saya asu dalam sikap itu.
 Memang butuh keberanian untuk kita dengan tegas menertawakan atau misuh-i semua kelakukan kita yang sangat lucu. Ini sangat akan bermanfaat jika koruptor berani misuh-i dirinya sendiri, KPK dan polisi tidak akan begitu aktif bertugas, jika koruptor setelah melakukan perbuatan korupnya dengan tegas berani misuh-i dirinya sendiri, WAH ASU TENAN AKU, TIKUS MALING DUWIT NEGORO. Tetapi kalau memang para koruptor berani misuh i dirinya sendiri saya kok khawatir anggota dpr masuk penjara semua ya. Lebih asik lagi kalau presiden kita berani misuh i dirinya sendiri, WAH DANCUK TENAN, AKU IKI PRESIDEN OPO MOSOK KEKAYAAN ALAM TAK KASIHKAN AMERIKA, AKU BISA DIKENDALIKAN IMF DAN AMERIKA, AKU IKI PRESIDEN ASU TENAN, MESAKKE RAKYATKU. Sudah-sudah mari kita belajar misuh-i diri kita sendiri, mari kita menunduk memandang diri sendiri dan selanjutnya berkata lantang ASU TENAN AKU INI. Semoga gustiallah memberikan nikmat agar kita dicurahkan keberanian untuk misuh-i kelakukan kita sendiri, agar kita bisa menertawakan kebodohan kita. Amin.

kediri 30-12-12. ditengah hasrat untuk misuh-misuh pada diri sendiri

Selasa, 08 Februari 2011

generasi out of the box * hikmah ikut OPSI 2010

Dunia penelitian siswa memang mengasikkan, segudang pengaalaman akan kita dapatkan ketika kita melakukan penelitian. Mulai dari sulit mencari ide, hingga masalah klasik yang sepertinya dihadapi semua teman yang memilih dunia penelitian siswa yaitu masalah sulitnya membagi waktu antara kegiatan penelitian dan pelajaran sekolah.

Dua Medali Emas OPSI untuk DIY

Dari hasil curhat beberapa teman saya dalam kontingen OPSI Olimpiade Penelitian Siswa Indonesia 2010 dari Provinsi DIY. Memang masalah membagi prioritas antara belajar pelajaran sekolah dan penelitian sangat sulit. Di satu sisi kita mempunyai beban nilai yang harus dituntaskan di sisi lain, kita menyukai penelitian yang artinya ini membutuhkan prioritas lebih dan khusus. Mungkin akibatnya nilai atau kegiatan belajar kita disekolah agak tergangu, dengan aktifitas kita sebagai peneliti muda. Kecuali bagi anak-anak yang dikarunia itelegensi yang lebih dan dapat mengelolanya dengan baik sehingga dapat menyeimbangkan dua hal tersebut. Tapi saya rasa sedikit.

Pilihan prioritas pelajaran atau penelitian memang harus dipilih. Dan sekarang saya memilih penelitian saya sadar betul konsekuensi yang harus saya tanggung akibat pilihan saya. Dan yang sudah terjadi saya harus rela ketinggalan berhari-hari pelajaran dikelas karena mengikuti lomba atau melakukan penelitian. Idealnya kerja ekstra harus wajib dilaksanakan untuk menyamakan kedudukan dengan teman yang selalu mengikuti pelajaran di kelas. Menurut pandangan saya anak-anak yang mempunyai bakat minta seperti saya hakikatnya adalah anak-anak yang sebenarnya siap untuk kuliah bukan jadi anak SMA. Anak-anak yang keluar dari sistem yang ada, guna memenuhi hasrat keingintahuan mereka. Selain itu tipe anak seperti kami adalah anak out of the box, yang selalu tidak puas dengan apa yang telah ada. Kegiatan penelitian yang saya dan teman-teman lain lakukan adalah cara kami menyukai ilmu pengetahuan.

Walaupun banyak kendala dan masalah, yang harus dihadapi ketika memilih dunia penelitian siswa. Sangat banyak juga manfaat yang dapat dirasakan, dari kegiatan penelitan ini. Dengan kita melakukan penelitian kita telah membuat loncatan besar, karena sesunguhnya penelitian meruapan makanan anak kuliah, jadi kita mencicil bekal kuliah. Penelitian juga akan menambah banyak wawasan keilmuan kita, yang tidak kita dapatkan di dunia sekolah biasa. Selain itu kita juga akan mencintai ilmu pengetahuan karena kita sekiranya faham bahwa proses penciptaan ilmu pengetahuan itu sulit.

Selain proses penelitian yang menghadirkan banyak manfaat, maka ketika penelitian kita diikutkan lomba manfaatnya pun juga sangat besar. Dari pengalaman yang pernah saya lalui. Selain kita dapat hadiah kita juga akan dapat banyak teman. Bahkan di OPSI 2010 kemarin semua finalis mendapat uang pembinaan sebesar 1 juta, bentuk penghargaan pemerintah atas penelitian siswa. Pengalaman berharga mulai dari bertemu dengan orang-orang penting di negeri ini. Bertemu dengan dosen-dosen universitas ternama yang selalu menjadi juri dalam lomba penelitian. Bahkan ada beberapa universitas yang langsung menerima para juara lomba penelitian tanpa tes.

Di ISPO 2010 yang saya ikuti ketika baru menginjakkan kaki di MAN Yogyakarta 3, para juara akan dikirim langsung ketingkat internasional, kebebrapa negara di Eropa, Timur Tengah, dan Amerika. Yang selalu menjadi tradisi dalam setiap lomba kita selalu di ajak jalan-jalan kebebrapa tempat wisata di Jakarta, TMII, Ancol, Dufan dll.

Foto Kontingen OPSI 2010 Prov DIY membawa juara umum

Penelitian siswa sangat banyak sekali manfaatnya sehingga terlalu panjang untuk diceritakan, agar merasakan manfaatnya langsung, mari kita mulai melakukan penelitian dari sekarang wa bil khusus adik-adik dan teman-teman di mayoga mari kita bangkitkan atmosfir penelitian siswa di sekolah kita tercinta, sangat menaruh harapan besar untuk KIR Mayoga dapat membudaya. FUN WITH KIR.

Sekalipun nasib memberi kita umur yang panjang, jika kita tetap diam dan tidak melawan maka keadaan kita akan tetap beku. Karena kita hanya diam sebagai budak penurut, tidak ikut memusnahkan sebab kebekuan itu sendiri

66 Tahun, sejak kebebasan itu kita raih bersama. Sang waktu telah berjalan begitu cepat, tak terasa darah untuk kebebasan itu mungkin sudah kering atau bahkan hilang tanpa jejak. 1945 para pejuang, telah merebut hal yang selama ini dikurung, kemerdekaan,kebebasan setiap manusia, kini telah kembali. Dan indonesia merdeka, berkat keberanian mereka untuk menentang,membrontak demi kebebasan dan kemerdekaan. Keberanian mereka membrontak dan melawan kesewenang-wenangan telah membuat rakyat indonesia bebas.

Sekarang semua bebas, setiap individu memiliki hak untuk kebebasannya. Dan semua berjalan lancar, semua orang bisa bicara tanpa harus takut di teror, semua orang bisa menulis tanpa harus takut dicekal, semua orang bisa melawan kebijakan pemerintah yang sewenang-wenang tanpa harus takut ditembak mati. Dan kini aku melihat jalan-jalan penuh lautan manusia, berteriak, bahkan melempar batu, dengan membentangkan kain bertuliskan ejekan untuk setiap yang yang tidak sesuai dengan idealisme mereka. Rakyat berani bersuara. Tapi saya rasa tak semuannya faham.

Kebeasan bukan berarti kita menentang semuanya, tetapi kita harus berani terhadap semua yang tidak sesuai dengan prinsip yang benar. Berani menentang, berani bersuara, dengan jalan kita masing-masing. Prinsip kebenaran tidak datang dengan sendirinya, bahwa kebenaran tidak datang dari langit, kebenaran mesti diperjuangkan menjadi benar, begitu kata Pramoedya Ananta Toer, penulis indonesia yang sangat berani menentang kesewenang-wenangan, dengan konsekuensi apapun, akibat perbuatannya.

Di tengah uforia kebebasan itu, Akhirnya aku sadar masih ada kebebasanku yang terkurung, mungkin lebih tepatnya bukan kebebasanku saja tapi kebebasan aku dan teman-temanku sesama pelajar. Selama ini tak kusadari bahwa ada guru yang selalu menuntut muridnya sesuai dengan apa yang mereka inginkan. Dan ini telah merenggut kebebasan seorang murid. Ini sedikit ceritaku. Ketika saya sukses dengan sebuah bidang yang tidak biasa, sebuah bidang yang mungkin menurut sebagaian guru tidak ada hubungannnya dengan pelajaran. Tapi bidang tersebut bisa mengantarkan saya seorang murid mencapai kesuksesan dan pencapaian impian.

Disinilah letak masalah itu, dimana seorang guru tersebut memaksa saya (murid) mengikuti impiannya, nilai bagus, dan doktrin pemaksaan untuk menyukai pelajaran yang beliau ajarkan itu yang ada dipikiran seorang guru yang saya maksut, tapi apakah arti sebuah nilai, nilai bermanfaat banyak kah bagi orang lain. Itu masih menjadi tanda tanya sangat besar, yang saya herankan kenapa seorang guru tersebut memaksa dengan keras muridnya untuk sesuai dengan pemikirannya. Apakah guru tersebut tidak pernah tahu fakta bahwa setiap orang memiliki perbedaan, tujuan, impian, dan cara tersendiri untuk kesuksesannya. Atau jangan-jangan guru terrsebut buta akan perbedaan setiap manusia. Dan saya tekankan bahwa murid manusia yang memiliki kebebasan untuk memilih. Dan dalam setiap pilihan itu konsekuensinya buruk maupun baik, yang menangung adalah si murid sendiri. Fahamkah itu kau guruku. Bahwa rasa hormat kami kepada engkau guruku, adalah rasa hormat biasa, rasa hormat seoarang murid kepada orang yang mentransferkannya ilmu, tak lebih dari itu. Maka kau guruku tak sedikitpun mempunyai hak untuk mengekang kebebasan kami, dan membuat kami seperti pemikiranmu yang tak pernah keluar dari tempurung kelapa.

Kami mempunyai dunia sendiri, dan dunia anak seperti saya dan yang lain lebih luas,. Tidak hanya dunia yang selama ini kau jalani monoton, dunia yang hanya mengejar nilai, yang manfaatnya belum jelas. Ketika saya mulai berani menentang semua pemikiran seorang guru tersebut, akibatnya dalam setiap kelas beliau, sindiran atau mungkin lebih tepatnya cemoohan setiap hari saya terima. Mungkin itu cara anda perhatian kepada saya dengan mengingatkan saya, bahwa saya keluar jalur yang seharusnya. Saya rasa mengingatkan tidak harus dengan kata-kata ejekan yang diulang setiap pertemuan. Dan saya juga bukan kerbau dunggu yang perlu terus diingatkan. Anda bukan hanya mengingatkan tapi dengan cara anda seperti itu, anda telah memaksa saya, dan ini berarti anda memotong kebebasan saya sebagai murid. Tapi karena saya faham itu hak anda guruku, sebagai manusia yang juga memiliki kebebasan, tapi yang perlu anda ketahui wahai guruku cara anda mengunakan kebebasan telah memotong hak kebebasan orang lain, selama ini kata-kata anda hanya melintas ditelingga saya, tak lebih dari itu, sebuah kesia-sian jika kata-kata anda membatu dalam hati saya, karena saya pikir kata-kata itu tak ubahnya suara katak disiang bolong.

Saya sebagai murid bukan budak yang selalu menuruti perkataanmu wahai anda guruku. Ketika anda selalu bilang bahwa bahwa sukses itu ....seperti ini,,,seperti itu....ya itu jalan anda. Saya sebagai murid mempunyai jalan sendiri. Dan tugas anda hanya mendidik saya, mencapai jalan yang saya inginkan. Bukan malah memaksa saya mengikuti jalan anda. Saya bukan kerbau ataupun budak yang selalu mengikuti majikannya. Dan kau guruku, kau bukan malaikat yang selalu benar, dengan jalanmu sendiri. Bahwa saya berani menentang anda karena saya yakin saya dengan tujuan,impian, dan cara saya adalah benar, dan kebenaran saya akan saya perjuangkan.

Saya sadar sepenuhnya itu memang kewajiban saya sebagai murid untuk belajar. Tapi bukan berarti saya belajar untuk menyamakan pemikiran dengan anda guruku. Bahwa saya mempunyai kebebasan. Dan anda juga mempunyai kebebasan. Saya rasa anda telah mengebiri kebesan saya sebagai murid. Saya tidak butuh nilai, nilai bukan paramater kebermanfaatan manusia untuk manusia lain. Tak selamanya budak akan menjadi budak dan tak selamanya malaikat akan terus benar.

Kita mempunyai kebebasan, Kita selamanya akan menjadi budak, Jika kita tidak berani membrontak dan melawan, guru bukan Tuhan yang setiap perkataannya harus kita turuti


Danang tri p

Yogyakarta 31 1 11