-

_dalam setiap kata yang kau baca,
selalu ada huruf yang hilang
kelak kau pasti akan kembali menemukanya
di sela kenangan penuh ilalang__


Selasa, 09 September 2014

Perempuan dalam Ruang Antara





  
(gambar "Tepi", gambar saya sendiri, Pencil on Papper)


Ah tubuh kita, ah laki-laki, ah apa makna hidup dalam keterkucilan perempuan yang membrontak melawan takdirnya.



yang sudah jelas
tulis sajak itu
antara menyingkap dan sembunyi
antara munafik dan jatidiri.__Toeti Heraty Noerhadi. R



Aku benci menjadi seoarang perempuan. Kalimat tersebut akan sering sekali kita temu ketika membaca memoar seorang dokter perempuan. Sebuah kalimat pembrontakan. Sebuah puncak kesadaran eksistensial.
Kebencianya dimulai ketika dia menyadari tentang tubuhnya. Payudara yang menonjol, kenapa tidak sama dnegan laki-laki. Kenapa ketika berhadapan dengan laki-laki mata mereka selalu mengarah pada bagian dada.
Membaca novel ini kita benar diajak menelusuri perjalanan perempuan. Perjalanan yang diungkapkan dalam bahasa yang lugas, bahkan terkadang terlalu lugas.
“ aku sungguh sedih dengan tubuhku yang semakin tinggi dan langsing, karena itu aku suka bersedekap, merentangkan lengan di atas dadaku untuk menyembunyikan dadaku, dan dengan hati pilu kupandangi suadara laki-lakilu beserta teman-temanya apabila mereka bermain”
            Itulah titik awal perjalanan nawal el sadaawi, titik eksistensial, semacam sebuah cara berada yang berbentuk penegasian atas tubuhnya sendiri. Dari titik tersebutlah lantas dia memasuki kenyataan sosial yang dia lihat benar-benar memojokkan perempuan. Menyembunyikanya dalam rumah, mengurusi dapur, menjaga anak, mematikan intelektualitas karena mitos perempuan lebih unggul dalam aspek emosional. Satu-satunya yang berhak dirunggu oleh perempuan adalah pernikahan. Begitulah ibunya berkata.
Untuk keluar dari kondisi tersebut, jalan satu-satunya adalah menunjukkan dan menerima diri bahwa dia perempuan, dan mampu. Untuk itu lantas dia masuk fakultas kedokteran sebagai satu-satunya mahasiswi. Pengetahuan adalah satu-satunya harapan yang dia pegang dan yakini bisa mengantarkan keluar dari jerat kegelisahan dan keterpojokan sosial sebagai perempuan. Akhirnya dia sukses menjadi dokter, mengabdi di desa-desa plosok mesir. Dan akhirnya menikah dengan laki-laki yang keliru. Seorang laki-laki lemah yang merindukan sosok perempuan sebagai ibu. Pernikahan tersebut gagal, dan cintanya berlabuh kembali pada sosok seorang seniman. Seorang yang memahami kedokteran juga sebagai sebuah seni, seorang yang mengingnkan wanita yang penuh kejujuran
###
Secara keseluruhan kesan yang saya tangkap atas novel nawaal adalah sebuah rasa ketegangang eksistensial. Ketegangan dalam ruang antara. Di satu sisi dia menyadari bahwa dia seorang perempuan akan tetapi disisi lain, ada keinginanan melawan takdir. Melawan realitas sosialnya yang memojokkan perempuan, akan tetapi dia perempuan yang sudah sejak awal seperti dikutuk mitos menjadi manusia lemah.
Akhirnya kehidupan perempuan yang disajikan dengan rasa sastra yang baik dalam karya nawaal kali ini, adalah sebuah kehidupan yang penuh dengan tarik ulur. Sebuah ekpresi ketegangan antara. Haruskah dia menjadi perempuan seperti umumnya yang gembira dengan tubuhnya yang dilekati serba banyak atribut yang katanya menambah kecantikan. Akan tetapi melupakan segi kemampuan intelektualitas .
Cerita belum selesi, kita hanya diajak dari awal hingga akhir menelusuri ketegangan seorang perempuan dalam ruang antara. Pilihan antara sikap feminis ataukah feminine. Yang pertama menolak keterbatasan kodrat, yang kedua menerima kodrat sebagai landasan fungsional. Memilih yang manakah perempuan dalam cerita nawaal. Saya tidak tahu.

Cerita diakhiri dengan sebuah pertanyaan. Pun pada akhirnya setelah saya diam semoga ada sedikit pertanyaan dalam benak kalian. Entah terkatakan atau tidak. Selebihnya silakan baca novelnya. Begitulah.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar