(gambar "Tepi", gambar saya sendiri, Pencil on Papper)
Ah
tubuh kita, ah laki-laki, ah apa makna hidup dalam keterkucilan perempuan yang
membrontak melawan takdirnya.
yang
sudah jelas
tulis
sajak itu
antara
menyingkap dan sembunyi
antara
munafik dan jatidiri.__Toeti Heraty Noerhadi. R
Aku
benci menjadi seoarang perempuan. Kalimat tersebut akan sering sekali kita temu
ketika membaca memoar seorang dokter perempuan. Sebuah kalimat pembrontakan.
Sebuah puncak kesadaran eksistensial.
Kebencianya
dimulai ketika dia menyadari tentang tubuhnya. Payudara yang menonjol, kenapa
tidak sama dnegan laki-laki. Kenapa ketika berhadapan dengan laki-laki mata
mereka selalu mengarah pada bagian dada.
Membaca
novel ini kita benar diajak menelusuri perjalanan perempuan. Perjalanan yang
diungkapkan dalam bahasa yang lugas, bahkan terkadang terlalu lugas.
“ aku sungguh sedih dengan tubuhku
yang semakin tinggi dan langsing, karena itu aku suka bersedekap, merentangkan
lengan di atas dadaku untuk menyembunyikan dadaku, dan dengan hati pilu
kupandangi suadara laki-lakilu beserta teman-temanya apabila mereka bermain”
Itulah titik awal perjalanan nawal
el sadaawi, titik eksistensial, semacam sebuah cara berada yang berbentuk
penegasian atas tubuhnya sendiri. Dari titik tersebutlah lantas dia memasuki
kenyataan sosial yang dia lihat benar-benar memojokkan perempuan.
Menyembunyikanya dalam rumah, mengurusi dapur, menjaga anak, mematikan
intelektualitas karena mitos perempuan lebih unggul dalam aspek emosional.
Satu-satunya yang berhak dirunggu oleh perempuan adalah pernikahan. Begitulah
ibunya berkata.
Untuk
keluar dari kondisi tersebut, jalan satu-satunya adalah menunjukkan dan
menerima diri bahwa dia perempuan, dan mampu. Untuk itu lantas dia masuk
fakultas kedokteran sebagai satu-satunya mahasiswi. Pengetahuan adalah
satu-satunya harapan yang dia pegang dan yakini bisa mengantarkan keluar dari
jerat kegelisahan dan keterpojokan sosial sebagai perempuan. Akhirnya dia
sukses menjadi dokter, mengabdi di desa-desa plosok mesir. Dan akhirnya menikah
dengan laki-laki yang keliru. Seorang laki-laki lemah yang merindukan sosok
perempuan sebagai ibu. Pernikahan tersebut gagal, dan cintanya berlabuh kembali
pada sosok seorang seniman. Seorang yang memahami kedokteran juga sebagai
sebuah seni, seorang yang mengingnkan wanita yang penuh kejujuran
###
Secara
keseluruhan kesan yang saya tangkap atas novel nawaal adalah sebuah rasa
ketegangang eksistensial. Ketegangan dalam ruang antara. Di satu sisi dia
menyadari bahwa dia seorang perempuan akan tetapi disisi lain, ada keinginanan
melawan takdir. Melawan realitas sosialnya yang memojokkan perempuan, akan
tetapi dia perempuan yang sudah sejak awal seperti dikutuk mitos menjadi
manusia lemah.
Akhirnya
kehidupan perempuan yang disajikan dengan rasa sastra yang baik dalam karya
nawaal kali ini, adalah sebuah kehidupan yang penuh dengan tarik ulur. Sebuah
ekpresi ketegangan antara. Haruskah dia menjadi perempuan seperti umumnya yang
gembira dengan tubuhnya yang dilekati serba banyak atribut yang katanya
menambah kecantikan. Akan tetapi melupakan segi kemampuan intelektualitas .
Cerita
belum selesi, kita hanya diajak dari awal hingga akhir menelusuri ketegangan
seorang perempuan dalam ruang antara. Pilihan antara sikap feminis ataukah
feminine. Yang pertama menolak keterbatasan kodrat, yang kedua menerima kodrat
sebagai landasan fungsional. Memilih yang manakah perempuan dalam cerita nawaal.
Saya tidak tahu.
Cerita
diakhiri dengan sebuah pertanyaan. Pun pada akhirnya setelah saya diam semoga
ada sedikit pertanyaan dalam benak kalian. Entah terkatakan atau tidak.
Selebihnya silakan baca novelnya. Begitulah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar