-

_dalam setiap kata yang kau baca,
selalu ada huruf yang hilang
kelak kau pasti akan kembali menemukanya
di sela kenangan penuh ilalang__


Senin, 15 September 2014

NYANYI SUNYI SASTRA INDONESIA ( Sastra di Tengah Budaya Layar dan Merayakan Matinya Kemanusiaan) *



**dimuat dalam buku kumpulan esai Nyanyi Sunyi Sastra Indonesia, Terbitan balai Bahasa 2014

A.    PENGANTAR
           
Maju mundur tiada terdaya
Sempit bumi dunia raya
Runtuh ripuk astana cuaca
Kureka gembira di lapangan dada

(Amir Hamzah, dari karya puisi Insaf)

Beberapa waktu yang lalu, saya makan di sebuah rumah makan di Kota Yogyakarta. Ada satu kejadian yang menganggu kenikmatan makan saya. Seorang anak kecil, sepertinya masih tingkat sekolah dasar. Sedang duduk di depan televisi, dan senyum-senyum sendiri. Tanganya cekatan menganti channel ke acara yang dia sukai. Anak itu sudah menemukan channel yang tepat. Sebuah acara talkshow, tentang desas-desus selebritis. Saya kembali melihat anak itu asik senyum-senyum,  sambil matanya konsentrasi penuh pada layar kaca.
Sebenarnya kejadian itu bukanlah sesuatu yang aneh. Dalam keseharian saya, juga mungkin keseharian kita semua. Sering kita jumpai orang-orang yang asik dengan layar kaca. Baik itu gedget ataupun bentuk teknologi layar lainya. Dan sudah lama, hal itu kita anggap sebagai sebentuk kewajaran saja.
Tapi bagaimana jika kesibukan di depan layar kaca itu dilakukan oleh seorang anak kecil? Apalagi yang sedang dilihat adalah sesuatu yang kurang tepat.  Sekali lagi, itu semua juga tidak terlalu menjadi masalah yang besar. Kehidupan kebudayaan sehari-hari kita secara umum, memang mengijikan itu sebagai sesuatu yang wajar saja.
Cerita pada paragraf di atas hanya saya maksudkan sebagai sebuah pengantar. Semacam jalan awal, untuk kita masuk secara lebih dalam ketika melihat fenomena sejenis di atas. Tidak mengijinkan kejadian di atas sebagai bentuk konskuensi wajar globalisasi dan dominasi budaya layar. Tapi bagaimana, identitas kemanusiaan kita telah dibentuk dan sekaligus dibunuh berlahan oleh dominasi budaya yang menawakan segalanya dalam bentuk kecepatan.
Sebuah dominasi budaya kecepatan. Bentuk paling menakutkanya adalah teknologi, fungsinya sebagai perpanjangan panca indra manusia untuk mempermudah kehidupan berubah. Alat-lat itu menjadi panca indra kita, dan kita tidak mampu mengendalikan geraknya. Dalam kondisi kehidupan budaya yang seperti itu, kita bisa bertanya lantas di mana posisi kesusastraan kita? Untuk apa menghadapkan semua persoalan di atas di depan muka kesusastraan kita? Kenapa harus sastra?
Dalam dunia sastra semuanya serba berlahan-lahan. Tidak ada yang instan. Orang harus meluangkan waktu untuk membaca ataupun mencipta karya sastra. Sastra mengajak kita masuk dalam alam penghayatan. Maka menjadi menarik menghadapan dua persoalan antara dominasi budaya layar dengan kesusastraan. Dua bentuk kebudayaan yang sangat berbeda karakter. Dimana yang satu, dalam kondisi kontemporer sekarang sedang sangat digandrungi dan meluas tanpa batas. Sementara yang satunya lagi, mungkin hanya bisa kita dengar sunyi nyanyiannya.
Esai terbatas ini hanya ingin mengajak, sejenak kita mendengar suara sunyi sastra Indonesia. Suara sunyi di tengah hiruk pikuk kehidupan kebudayaan layar kita yang penuh dengan keindahan dan kebisingan artifisial. Sambil lalu bertanya, apakah kita masih menjadi manusia? Setelah setiap saat diburu waktu. Setiap saat dituntut mengkonsumsi berbagai hal tanpa pernah melihat nilai guna. Dituntut secara tidak sadar untuk duduk di café, berganti-ganti gedget, menerobos batas-batas ruang dan waktu melalui koneksi, mencari hiburan-hiburan yang sejenak bisa melupakan kepenatan, sejenak saja tapi.
Sambil lalu juga, kita bisa bertanya apa yang ditawarkan sastra Indonesia dengan kesunyiannya?  Sebagai sebentuk budaya tandingan atas dominasi budaya layar. Jika itu semua kita lihat sebagai sebentuk keseriusan komitmen budaya. Kita tidak bisa memfikirkanya sambil lalu saja.
B.                 MERAYAKAN  KEDATANGAN BUDAYA LAYAR,  MELUPAKAN SASTRA

Secara umum kita bisa berpegang pada pemahaman, kebudayaan sebagai suatu proses keberlangsungan hidup sehari-hari manusia dalam dunianya. Atas pemahaman tersebut lantas dalam sebuah kelangsungan kehidupan budaya, jelas menuntut partisipasi manusia sebagai individu maupun kelompok. Membaca kebudayaan adalah membaca keseharian kehidupan kita. Lantas, cerita yang saya tulis sebagai pembuka esai ini, menjadi relevan untuk kita gunakan membaca kondisi kehidupan budaya kita.
Sebuah kondisi budaya yang pada titik awalnya bermula dari ambisi manusia. Ambisi untuk menerjang segala keterbatasan dalam dirinya. Pada puncaknya yang paling ambisius, melahirkan abad teknologi. Sebuah zaman, ketika realitas didominasi oleh jaringan-jaringan rumit, khas teknologi tingkat tinggi, yang itu semua pada tesis awalnya bertujuan mulia, “memudahkan kehidupan manusia”.
Globalisasi informasi, khususnya perkembangan mutakhir teknologi internet. Semua itu telah membawa perubahan besar dan mendasar pada tatanan sosial dan budaya dalam skala global. Pengertian-pengertian konvensional tentang masyarakat, komunitas, komunikasi, interaksi sosial serta budaya, mendapatkan tantangan besar dengan telah memasyarakatnya teknologi informasi yang berbasis layar itu. Realitas-realitas sosial dan budaya yang ada mendapatkan tandingan dari budaya layar, yang pada akhirnya mengaburkan perbedaan mana realitas yang nyata, dan mana yang virtual. [1]
Kondisi dominasi budaya layar tersebut juga berpengaruh bagi individu. Budaya layar baik sistem jaringan internet, televisi maupun yang lainya, telah menciptakan perubahan mendasar terhadap pemahaman kita tentang identitas. Tegasnya, media komunikasi yang berbasis layar telah melenyapkan batas-batas indentitas manusia sebagai individu. Di dalamnya setiap orang bisa berpura-pura menjadi orang lain. Kita digiring berlahan untuk mengalami kekacauan indentitas kemanusiaan kita, yang pada puncaknya adalah kematian identitas kemanusiaan.
Pada saat seseorang memegang remote control, sesunguhnya bukan berarti ia sedang mengendalikan suatu acata TV. Akan tetapi, ia sedang memproyeksikan dirinya untuk menjadi seperti apa yang ada di layar kaca. Nilai-nilai yang tanpa batas, dengan konsepsi hidup menjadi sesuatu proses yang serba mungkin. Berbelanja tanpa mengenal tanggal tua, seperti dilakukan Si Doel dan Mandra. Doraemon sedang mengajarkan anak-anak di tanah air untuk berfikir hidup ini gampang, nothing imposible[2].
Jika, realitas zaman ini telah didominasi oleh segala sesuatu yang bertumpu pada layar virtual. Dari sanalah manusia dilahirkan, dari layar-layar teknologi tingkat tinggi, dari sistem jaringan web rumit yang menerjang segala batas ruang dan waktu.
Atas semua kondisi tersebut, kita tidak pernah menganggapnya sebagai permasalahan yang serius. Buktinya, kita tetap membiarkan anak-anak menonton televisi tanpa henti, berselancar di dunia maya tanpa batasan, dan kadang kita juga ikut melakukan itu dan berada di samping mereka. Maka menjadi relevan jika kedatangan budaya layar saya sebut sebagai sesuatu yang harus kita rayakan. Kita tidak pernah merasa sedang ditundukkan di bawah budaya layar, dimatikan dimensi-dimensi kemanusiaan kita, kita nikmat sekali menggeluti budaya layar. Lalu kata apa yang paling pas digunakan selain “merayakan” untuk mengambarkan sikap kita tersebut.
Kini kita bisa dengan mudah menemukan orang yang sedang sibuk dengan layar kaca di tangan. Baik itu hand phone, tab, dan berbagai jenis gadget lainya. Dalam kondisi tersebut dimana sastra kita berada?
Mungkin kita bisa memahami bahwa mencipta karya sastra memerlukan bakat, atau paling tidak kemampuan dan keseriusan yang ekstra. Tapi membaca karya sastra bukankah hal yang mudah? Asal setiap orang bisa membaca, dan bersedia meluangkan waktunya. Menyisakan sedikit waktu dari kesibukan mereka, untuk membaca. Tapi hal itu terbukti sangatlah sulit, tetapi bukan berarti tidak bisa.
Dalam arah kehidupan kita yang didominasi orientasi pragmatis dan kapital yang muaranya jika kita telusuri adalah materialisme. Lebih mudah melupakan sastra. Untuk apa membaca sastra, lebih baik berselancar di dunia maya, memperluas jaringan bisnis, memuaskan hasrat kita akan kecepatan koneksi tanpa henti dalam jejaring sosial virtual.
Sastra tidak memberikan manfaat yang jelas secara material akan kehidupan manusia. Lalu untuk apa kita membacanya. Kita bisa berasumsi bahwa anggapan itulah yang telah menjangkiti masyarakat kita. Anggapan itu lagi-lagi diperparah dengan perkembangan teknologi layar virtual, juga kapitalisme dalam berbagai dimensi kehidupan.
Perkembangan budaya layar mempermudah urusan manusia. Sampai pada titiknya yang paling ekstrim manusia menjadi manja. Tidak lagi membutuhkan bertemu orang lain secara langsung karena semua telah terhubungan koneksi data internet. Tidak lagi membutuhkan waktu senggang untuk menghayati kemanusiaanya.
Kebutuhan mendesak manusia adalah keasikan hiburan berselancar dalam dunia maya, menonton televisi, dan asik dengan layar HP. Konskuensi dari itu semua, sastra harus dilupakan. Lebih mudah dan nikmat berselancar dalam dunia hiburan budaya layar. Menikmati ektase yang meriah dalam koneksi kecepatan data internet dan hiburan artifisial televisi. Dalam kemeriahan dunia budaya layar, pada hakikatnya manusia sendiri dalam kesepian identitas, akan tetapi, ia bisa menerobos ruang dan waktu kesendirianya, melupa dalam nikmat ektase hiburan-hiburan layar, yang sejenak saja melupakan manusia dari kepenatan kehidupannya.
Di depan itu semua sastra menjadi tidak menarik, dan harus dilupakan. Tapi apakah dengan itu semua kita sudah cukup, dan telah menjadi benar-benar manusia yang otentik? Dunia dengan budaya layar telah melepaskan manusia dari realitas budaya dan sosialnya. Membuat manusia tidak peka, termasuk juga dengan kebutuhanya akan perenungan atas kemanusiaanya.
Berikut puisi Goenawan Mohammad mungkin bisa lebih menyentuh relung estetik kita, kaitanya dengan persoalan yang telah dipaparkan
         Kepada Kota
Apabila engkaulah cinta, lepaskanlah, kota
Dari guhamu beribu gema
Hindarkan saat-saat senyap: udara mengertap
Deru mobil dan huruf-huruf berlampu kerjap

Apabila engkaulah setia, tenangkanlah cinta, kota
Hatimu yang mendengar semesta dunia
Biarkan kini kita terjaga
Biarkan bumi semakin bergesa

C.    RUANG SUNYI SASTRA:  SEBUAH TAWARAN UNTUK KEMANUSIAAN

Segala dimensi dalam kehidupan manusia, prilaku, sistem sosial, tata nilai, seni, dan ekonomi,  adalah sebuah proses yang lahir dari keterlibatan manusia dengan lingkungan budayanya. Lingkungan budaya dibentuk sekaligus juga membentuk manusia. Begitupun karya sastra, adalah produk yang dibentuk manusia dan juga akan membentuk manusia.
Karya sastra mempunyai kedudukan yang penting dalam kebudayaan maupun peradaban. Dalam sebuah diskusi yang diselenggarakan Universitas Paramadina, Prof.Abdul Hadi WM menyinggung masalah otentisitas produk dari suatu peradaban kebudayaan. Abdul Hadi, mengatakan bahwa yang otentik sebagai suatu pembeda dari sebuah produk peradaban yang satu dengan lainya, adalah sastra dan filsafat. Pemikiran filosofis dan karya sastra dari berbagai belahan dunia pasti berbeda-beda.
Karya sastra dibentuk dan pada akhirnya akan membentuk manusia. Hubungan dialektik antara proses membentuk dan dibentuk dalam kebudayaan adalah sesuatu yang kehadiranya tidak bisa dipisahkan satu sama lain. Hal tersebut terkait dengan sebuah irama dalam kehidupan manusia. Irama yang sangat menentukan dalam usaha pencapaian pribadi manusia yang unggul.
Irama yang dimaksudkan adalah sebuah proses saling ganti-mengganti. Irama tersebut secara nyata terwujud dalam dua proses.  Pertama,  keharusan manusia keluar dari dirinya sendiri, bergaul dengan manusia dan masyarakat dunia. Pada titik inilah manusia membentuk realitas budayanya. Kedua, keharusan manusia kembali pada dirinya sendiri. Melakukan perenungan atas hubungannya dengan dunia luar. Kedua irama ini saling mempengaruhi, saling menentukan. Seandainya manusia tidak keluar untuk berjumpa dengan dunia, maka kehampaan dan kesepian menjadi nasibnya. Sebaliknya, bila manusia tidak pulang pada dirinya sendiri, maka manusia akan terasing dari dirinya.[3]
Dua irama dialektik tersebut apakah masih bisa berjalan dengan sempurna? Ketika kehidupan budaya kita telah didominasi budaya layar. Sebuah budaya yang secara hakiki menawarkan segala bentuk kemudahan dan kenyamanan.
Manusia harus kembali pada dirinya. Masuk dalam suasana hening penghayatan akan kedirianya, juga perenungan akan aktivitas yang telah dilakukannya. Pada proses dialektika kedua inilah sastra dengan dimensi kesunyiannya yang dalam dan subtil seharusnya mengambil peran.
Bila manusia hendak melakukan penghayatan atas dirinya. Kembali pada dirinya. Setelah terlibat dalam keriuhan realitas budaya layar. Manusia hendaknya pulang. Akan tetapi ketika manusia pulang, dunia yang ia tinggalkan tetap melekat pada dirinya. Kita pulang dengan membawa oleh-oleh, kesan-kesan. Proses kembalinya manusia pada perenungan atas dirinya sendiri, memerlukan cermin, semacam batu loncatan untuk lebih mudah menjalankan proses kedua dalam dialektika kehidupanya tersebut. [4]
Romo Dick Hartoko, megungkapkan bahwa salah satu cermin yang bisa digunakan manusia dalam proses kedua itu ialah buku. Terutama buku yang dengan intuisi seorang penyair, menafsirkan hidup manusia dengan dunianya.[5]
Pada titik inilah sastra mendapat kedudukan yang pas. Sebagai sebuah budaya tanding atas dominasi budaya layar. Buku-buku sastra diperlukan manusia. Akan tetapi yang lebih penting adalah kesediaan untuk meluangkan waktu. Tentu kita tidak ingin anak-anak negeri ini yang masih kecil kecanduan layar, dan menjadi budak televisi. Jika memang benar seperti itu kita harus memulai itu semua dari diri kita.
Memang harus diakui bahwa sastra adalah pergulatan manusia dengan kehidupanya, yang dibentuk menjadi semacam ramuan ajaib yang secara sekilas hanya sunyi yang ditawarkanya. Tidak ada keriuhan artifisial dalam membaca maupun mencipta karya sastra. Tidak ada kenikmatan-kenikmatan fisik dan materi yang benar-benar berarti dari kegiatan sastra. Karena, memang bidikan sastra bukanlah semua itu.  Bidikan sastra adalah kekuatan jiwa dan mental manusia. Kadang untuk mencapai bidikan itu fisik dan materi kita harus benar-benar sengsara dan terkuras habis.
Segala gerakan manusia tidak bisa terlepas dari ruang dan waktu. Membaca karya sastra, maupun mencipta karya sastra adalah berhenti pada satu titik ruang dan waktu tertentu. Setelah realitas kita didominasi oleh budaya layar yang meringkas segalanya dengan kecepatan yang maha. Maka waktu hanya kita hayati sebagai 24 titik mekanis jarum jam yang seolah sangat cepat. Bahkan penghayatan kita akan waktu telah mati, karena koneksi dalam budaya layar bisa menerobos segala dimensi ruang maupun waktu.
Sebagai sebuah alternatif untuk menghayati kemanusiaan. Sastra telah jelas memiliki keunggulan. Akan tetapi kita dihadapkan lagi pada persoalan teknis. Bagaimana meluangkan waktu dalam gerak budaya yang serba terlipat dan terburu-buru ini? Jangankan untuk sekadar meluangkan waktu, bahkan persepsi dan orientasi kita tentang waktu telah begitu kacau, akibat pemapatan ruang dan waktu yang terjadi melalui koneksi yang maha tinggi dalam kebudayaan layar.
Saya teringat, seoang filsuf prancis Gaston Bachelard. Mantan guru fisika dan kimia yang pada periode awal pemikiranya banyak menulis tentang filsafat ilmu pengetahuan. Sampai pada suatu waktu dia merasa benar benar telah bosan terjebak dalam rutinitas akademis. Seorang muridnya dalam sebuah kuliah berkata “dunia Bachelard adalah dunia yang dipasteurisir” (ajeg dan steril). Sejak itu ia mulai tertarik pada dunia seni khususnya masalah tentang poetika, -imaji-imaji dalam sastra- yang melepaskan manusia dari segala bentuk kotak-kotak filosofis dikotomis.
Sepertinya kita bisa berasumsi, - tentu anda punya hak  tidak setuju dengan asumsi saya-  bahwa kehidupan kita sekarang telah begitu steril dan ajeg. Jika Gaston terjebak dalam rutinitas akademik yang ketat. Kita sedang terjebak dalam dunia yang disterilkan oleh budaya layar. Budaya layar dan kapitalisme, dalam bentuk paling ekstrim teknologi telah melipat-lipat dunia kita. Kapitalisasi dalam selaga aspek kehidupan, menuntut kita untuk berekerja terus tanpa libur, bergerak dan bergerak. Kehidupan kita disterilkan dalam layar-layar produk teknologi. Dan kita bahagia.
Menjadikan manusia terjebak dalam kecepatan yang mengasikkan. Kemanusiaan kita berlahan dibunuh, dengan cara yang sangat nikmat dan memanjakan. Nikmat dan manja dalam keahagiaan semu.  Beralih dari FB, Twitter hingga video call. Dari Fried chicken ke bergunung-gunung makanan siap saji lainya. Dari satu tempat hiburan ke tempat hiburan yang lain. Mari kita lihat suasana kota kita, jam berapakah jalanan benar-benar sepi tanpa kendaraan?.  Waktu hanya kita fahami 24 titik yang berputar menakutkan di jarum jam itu. Kamar di rumah tempat tinggal kita sekadar ruang singgah sebentar saja. Dan kita harus bergerak!, kita harus berlari!, jangan diam!, sunyi itu menakutkan!!. Puisi Romo Mudji Sutrisno cocok untuk  melukiskan keadaan tersebut.
Mesti bergegas dalam tubuh-tubuh tergesa
Tanpa hening proses
Perang. Piring berhemburan pecah dalam keping hati
Dia ditikam gegas langkah
Tanpa renung arah
Di zaman ini yang layak berarti dan disebut berguna adalah kecepatan itu sendiri. Karya seni dengan segala bentuk keberlahan-lahananya tidak ada guna. Karya seni khususnya sastra membutuhkan penghayatan dalam menikmatinya. Hendak dengan dalil apa, kita berkata dalam kecepatan yang merajalela ada penghayatan. Kita berlari mencipta tanda-tanda –produk budaya- yang mengagumkan, tapi dibalik itu kosong. Gerak kecepatan kita didekte oleh produk-produk yang menciptakan hasrat tanpa henti. Logika yang kita gunakan dalam konsumsi produk-produk adalah membeli kepuasan memperoleh ketidakpuasan. Saat meilhat layar kita melihat keterpesonaan tapi kita memperoleh kehampaan. Maka di depanya kita harus faham, sangat sulit untuk melawan. – sengaja saya gunakan kata tunjuk kita, karena saya juga sedang hidup dan bergumul dalam zaman kecepatan itu-.
Dihadapan karya sastra kita harus diam. Menghayati waktu antropologis – gagasan filsuf Maurice Marleu Ponty-, bukan lagi waktu mekanis dalam gerak jarum jam. Waktu antopologis yang muncul karena kehadiran kita sebagai subjek. Ketika apa yang di depan kita, merangkum segala yang terjadi di masa lalu, dan sekaligus yang akan datang. Misal, ketika membaca novel, yang kita baca bukan saja sebuah tulisan yang berbentuk material dalam buku itu. Tetapi dengan satu cara kita juga melihat tulisan lama yang pernah ada dan tidak terlihat lagi, dalam diri kita. Serentak juga ada gambaran tentang tulisan-tulisan yang akan datang –semacam proyeksi makna-.
Penghayatan waktu antropologis adalah titik awal kita, untuk mencapai ruang sunyi bersama buku sastra. Jika telah pada titik itu, sastra bisa kita gunakan untuk mempertanyakan dan menghayati dimensi kemanusiaan kita yang maha luas dan rumit.
D.    PENUTUP  
Budaya layar yang menawarkan segalanya dalam bentuk instan. Manusia dicetak menjadi mahluk-mahluk mati, dengan hasrat konsumsi hiburan dan kecepatan data yang tak terbendung. Segala usaha dasariah dari sifat manusia untuk memertanyakan jati diri kemanusiaannya berusaha dimatikan. Rasionalitas dan kepekaan jiwa kita dimatikan melalui koneksi-koneksi dan kemudahan-kemudahan yang menuntut kita terus bergerak, berpacu, tanpa henti.
Sastra hanya terdengar nyanyi sunyinya,itupun hanya bagi mereka yang sedia untuk meluangkan waktu. Mundur dari rutinitas kecepatan. Kembali pada dirinya sendiri. Menghayati kedirianya mencari celah ruang sunyi di tengah hiruk pikuk artifisial budaya layar.
Dalam kondisi yang seperti sekarang, kita tidak dituntut melawan dengan berteriak. Melawan dengan diam. Melawan dengan sastra. Melawan dengan kemanusiaan. Dalam sunyi penjara Pramoedya Ananta Toer, melawan dengan kemanusiaan dan jiwanya. Pram diam tetapi jiwanya yang terpantulkan lewat karya sastranya, bergriliya menyentil relung-relung kemanusiaan manusia zaman itu hingga sekarang.
Tetapi lagi-lagi kelakone ilmu kanthi laku. Bukankah begitu ?



Daftar Pustaka
Dick Hartoko. 1986. Tonggak Perjalanan Budaya. Yogyakarta: Kanisius
 Irwan Abdullah. 2006. Konstruksi dan Reproduksi Kebudayaan. Yogyakarta: Pustaka Pelajar
Yasraf Amir Piliang. 2004. Dunia yang Berlari Mencari Tuhan-tuhan Digital.  Jakarta: Grasindo



[1] Lih, Yasraf Amir Piliang. Dunia yang Berlari Mencari Tuhan-tuhan Digital. (Jakarta: Grasindo, 2004) p. 64
[2] Lih, Irwan Abdullah. Konstruksi dan Reproduksi Kebudayaan. (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2006) p. 54
[3] Lih. Dick Hartoko. Tonggak Perjalanan Budaya. (Yogyakarta: Kanisius, 1986), p. 45.

[4] Lih, Ibid, p.46-47
[5] Lih, Ibid, p. 47

1 komentar: