(SEBUAH SURAT UPAYA MEMAHAMI GAGASAN TOETI HERATY)
Oleh: danang t.p
*disampaikan sebagai pengantar " forum diskusi catatan kaki"
Filsafat
tidak bisa sibuk dengan dirinya sendiri. Kalimat itu rasanya paling pas saya
pakai untuk mengambarkan kesan mendalam saya atas buku orasi guru besar Prof Toeti
Heraty. Dialog filsafat dengan ilmu-ilmu
pengetahuan, suatu pengantar meta-metodologi. Sebuah orasi guru besar yang
pendek kata tapi mendalam makna. Sebuah upaya mengusik kedudukan filsafat
dengan ilmu pengetahuan. Maka tulisan singkat ini, saya tulis sebagai sebuah
surat upaya untuk memahami gagasan Ibu Toety. Selayaknya sebuah surat upaya
maka kesalahan pemahaman, atau bisa kita sebut saja reduksi bisa sangat mungkin
terjadi. Maka solusi terbaik, mungkin anda harus membaca sendiri tulisan Ibu
Toety.
-------
Kita sudah faham tentu dengan berbagai pujian
atau semacam predikat yang melekat pada filsafat. Induk ilmu pengetahuan, dasar
segala kepastian-kepastian epistemologis pada ilmu-ilmu lain. Sebagai induk
apakah tugas filsafat hanya melahirkan anak-anak –baca ilmu lain-. Lalu
filsafat akan sibuk dengan dirinya sendiri lagi. Senggama terus menerus untuk
melahirkan anak-anak baru. Setelah itu cuci tangan atas kehidupan anak-anaknya.
Saya teringgat kata Gibran, anak-anakmu bukanlah anak-anakmu. Tapi kalimat itu
tidak lahir dalam rangka memberikan pembenaran sikap cuci tangan filsafat
terhadap anak-anaknya.
Filsafat
sebagai sebuah ilmu spekulatif, memang memiliki kecenderuangan untuk bermonolog
dengan dirinya sendiri. Lalu ada keraguan tentang kemampuan filsafat berdialog
dengan limu-ilmu lain. Bercengkrama dengan perkembangan ilmu pengetahuan
kontemporer yang semarak dengan ledakan teknologi dan kecenderuangan
saintismenya.
Akar
permasalahanya adalah filsafat dalam perkembanganya di Indonesia sudah didudukkan
sebagai cabang ilmu disamping ilmu-ilmu lain. Lalu dalam kedudukan itu
bagaimana filsafat berdialog dengan ilmu-ilmu lain. Kita dituntut dengan
kerendahan hati dan kecermatan menentukan relevansi filsafat dengan ilmu
pengetahuan lain. Sebagai titik tolak dialog itu adalah filsafat ilmu
pengetahuan, tetapi kemudian terkait secara fungsional dengan epistemology,
dengan logika, dan kemudian dengan metodologi khususnya meta-metodoogi.
------
Secara
sistematis tubuh besar filsafat biasa kita bagi merunut pada tiga bagian besar.
Menyangkut tentang kenyataan, atau dasar segala realitas yang dapat kita indra,
metafisika generalis (ontology) dan yang tidak dapat kita indra (metafisika
spesialis). Selanjutnya mnegnai bidang nilai aksiologi, yang berpokok pada
estetika dan etikaa. Wilayah terakhir adalah yang menyangkut prosedur tentang
sah atau tidaknya pengetahuan, epistemologi. Yang ketiga ini bisa kita dasarkan
atas pertanyaan Imanuel Kant “ wa kann ich wissen” apa yang dapat diketahui?.
Tiga bidang itu buakn sebuah pemilahan kaku, yang menghendaki sebuah
batas-batas ketat dan jelas. Aakn tetapi ketiganya saling kelindan, pembahasan
satu bidang pasti gayung bersambut denagn bidang lainya.
Pada
bidang ketiga yang menjadi titik tumpu adalah epistemology, yaitu teori
pengetahuan yang menjadi dasar hakikat pengetahuan. Sedang filsafat ilmu
pengetahuan adalah menyangkut kajian-kajian filosofis tentang ilmu-ilmu khusus.
Cara-cara yang ditempuh ilmu-ilmu khusus untuk mencapai tataran yang ilmiah.
Mengenai cara-cara itu kita mengenal metodologi. Metodologi pada akhirnya
gayung bersambut dengan bidang logika mengenai cara-cara penalaran yang tepat.
Lantas
atas bidang ketiga tersebut kiat bisa mengajukan pertanyaan, bukankah setiap
ilmu sudah ditentukan dengan jelas objek penelitian serta metode penelitianya?.
Atas kemapanan objek dan metode penelitian dalam pembagian ilmu-ilmu khusus
bisa diajukan lagi sebuah pertanyaan meta-metodologi. Sejauh mana ilmu-ilmu
khusus mempunyai titik tolak metodologis yang sama? Jawaban atas pertanyaan itu
adalah sebuah penjelasan historis filsafat tentang awal mula pendasan metode
ilmu-ilmu khusus. Lantas atas kedudukan masing-masing ilmu itu, kita bisa
bertanya bagaimana sifat pembedaan antara kelompok-kelompok ilmu dengan disiplin
ilmu yang berbeda-beda. Benarkan kita dapat bertumpu pada apa yang disebut unified science yang monometodologis dan
menghendaki objentivitas universal dalam ilmu. Ataukah kita hendak bergerak
pada arah kebebasan metodologi dalam plurimetodologi pada ilmu-ilmu sebagai
keseluruhan.
-----
Dialog
dengan relevansi metodolis antara filsafat modern dengan ilmu pengetahuan
modern bisa kita temukan pada karta risalah tentang metode dari Descartes.
Descartes aadalah sosok yang dengan adagium cogito ergo sum nya meulai babakan
baru yang kiat kenang sebagai modernisme. Sebuah babakan baru yang meninggalkan
tradisi berfikir lama. Sebuah cara pembuktian eksistensial manusia melalui
kesangsian kesadaran. Gagasan Descartes itu memulai cara meyakinkan diri dengan
gaya baru. Jika dahulu meyakinkan bisa dilakukan dengan meneror, menyuap,
menghasut dan lain-lain. Maka secak zaman pencerahan di eropa meyakinkan bisa
dilakukan dengan bernalar, Cogito. Penalaran
yang cermat hanya bisa dilakukan denagn pembuktian matematik, Descartes adalah
ahli matematika yang kemudian menerapkan gagasanya pada filsafat.
Ternyata
secara tidak langsung gaya penalaran Descartes tidak hanya diterapkan pada
filsafat, tetapi juga atas ilmu-ilmu lain. Ditulisnya Makalah tentang Dunia,
Risalah tentang Metode. Bagian pertama tidak jadi diterbitkan karena ketakutan
atas kondisi zaman. Pada saat itu Galileo yang mengungkapkan gagasan dunia yang
mengitari matahari, dihukum mati karena dia menyangsikan tradisi yang sudah
lama dipegang dan diyakini kebenaranya. Descartes yang isi karya pertamanya
tentang dunia mendukung pendapat Galileo, takut bernasib sama. Dia tidak jadi
menerbitkan karyanya. Kemudian dia memilih menulis denagn cara yang lebih halus
Risalah tentang Metode. Mengkaji dan menjabarkan metode dinggapnya lebih aman
karena abstrak. Memang pokok bahasanya tidak jauh dari karya pertama yang gagal
terbit, bahasanya tetap tentang dunia, tuhan dan jiwa tetapi denagn
menyangsikan pengetahuan terdahulu. Risalah tentang Metode penuh nada
penyelamatan diri dan basa-basi kehati-hatian. Jangan menyingung orang lain
walaupun merasa menemukan sesuatu yang baru.
Bisa
disimak 59 halaman risalah tentang metode yang terdiri dari enam bagian,
berikut akan diringkas gagasan utama setiap bagian. Bagian pertama membahas
masalah ilmu-ilmu dengan menyebutkan akal sehat yang dimiliki semua manusia
dengan intensitas yang berbeda-beda. Akan tetapi itu tidak menjadi masalah,
yang terpenting kemampuan itu digunakan. Descartes tida menggap dirinya lebih
unggul dari yang lain, dia bersukur diberi kesempatan merumuskan metode tentang
kemampuan daya nalar manusia, dalam hidup yang pendek ini. Sikapnya pada
ilmu-ilmu ditunjukan dalam bagian ini. Pengetahuan budaya tetap kabur,
pengetahuan bahasa memang berguna, puisi memang indah tetapi memerlukan bakat,
tetapi kekagumanya tetap pada matematika yang dianggapnya belum dimanfaatkan
kemungkinannya secara cemerlang. Filsafat memang rancu dnegan gagasan-gagasan
yang bertentangan. Kahirnya dia memutuskan akan belajar dari alam raya dan dirinya
sendiri.
Bagian
kedua, menjelaskan tentang kaidah pokok metode.
Penjabaranya adalah bahwa yang dikerjakan satu orang lebih utama dari yang
patungan. Cotohnya dari arsitektur, aturan kebudayaan dan tatanegara, tidak
perlu ditirukan. Lebih baik mencabut akar semua pendpaat orang lain, dan
mengikuti pendapat sendiri. Metode aljabar dan geometri perlu dilengkapi
ddengan metod elain yang memiliki kelebihan. 1) tidak menerima apapun sebagai
benar, kecuali diyakini sendiri. 2) memilah masalah menjadi bagian terkecil
agar mudah diselesaikan. 3) berfikir runtut, sedikit-sedikit, dari sederhana
sampai yang rumit. 4) perincian lengkap dan menyeluruh perlu supaya tidak ada
yang terlupakan. Demikian Descartes menerapkan aljabar dan geometri ssambil
menambal kekuranganya dengan obsesi metodenya bisa diterapkan untuk segala
sesuatu, sehingga objek penelitian menjadi jelas dan terang.
Bagian
ketiga, menyebutkan beberapa kaidah moral yang menajdi
pegangan baik sebagai penerapan metode di atas maupun sebagai landan metode.
Bagian
keempat,
menyatakan pengabdianya pada kebenaran, dan kesalahanya yang sering terkecoh
secara indrawi. Kebenaran eksistensial bahwa Descartes benar-benar ada dan
eksistensinya sempurna, karena keberadaanya berdasar pada pengyangsian.
Bagian
kelima, mengungkapan tegas dualitasnya atas tubuh dan
jiwa. Segala sesuatu yang ada dalam tubuh manusia dan alam dikerjakan secara
mekanis. Tubuh sebagai mesin ciptaan tuhan yang memiliki kelebihan. Yang
penting dalam bagian ini, jiwa sebagai seuatu yang bernalar menyangsikan adalah
abadi. Jiwa tidak mungkin mati bersama badan.
Bagian
keenam,
mengungkapkan keharusan untuk membuka semua pengetahuan yang dimiliki untuk
menajid pengetahuan umum. Pengetahuan spekulatif tentang kemampuan api, air,
udara, dan planet-planet, dapat menjadi pengetahuan praktis. Dengan pengetahuan
itu kita akan menajid penguasa dan pemilik alam.
Dari
keenam bagian tersebut dapat disimpulkan, pengtingnya pengetahuan spekulatif
untuk selanjutnya dibuktikan dalam eksperimen-eksperimen. Descartes memulai
gaya berfikir rasionalitas axiomatic yang diturunkan dari logika dan
matematika. Penglihatanya atas pengetahuan adalah segi instrumentalisnya untuk
mewujudkan manusia yang dapat menguasai alam dengan rasionalitas instrumental
yang ditopang keyakinan pada tuhan. Demikian Descartes dengan risalah tentang
metode mengungkapkan kote etik atau metodologi umum bagi ilmu-ilmu, meta-metodologi.
----
Dualitas
Descartes antara subjek manusia yang bercirikan kesadaran dengan objek fisik
yang diteliti, adalah dasar semua pandanganya. Sebuah bentuk penjarakan atas
dunia. Lalu bagaimana kedudukan ilmu-ilmu yang bukan berupa objek fisik dapat
dibenarkan? Bagaimana pula keabsahan metode yang ahrus ditempuhnya. Descartes
mnegisolasi subjek hanya sebagai yang melakukan pengamatan, tidak sebagai bjek
penelitian. Lalu jiwa memang harus didudukkan pada posisi nyaman subjek sebagai
pengamat. Hal tersebut ditegaskan oleh Kant, karena memang jiwa bukanlah
fenomena (yang tertangkap oleh ruang dan waktu, serta mencangkup akal denagn
kategori kausalitas). Kant memisahkan objek fenomena dengan nomena (wilayah
kebebasan manusia yang bermoralitas. Lalu bagaimana dunia batin bisa dijadikan
objek pengetahuan. Setelah kant dan Descartes mendudukankanya pada posisi
mantap nomena.
Hal
tersebut kemudian mendapat tanggapan dari hegel dan dilthey. Hegel denagn roh
objektif, berusaha menyelamatkan roh yang menurutnya empiric dan dapat
diteliti, karena telah terobjektivikasi. Melalui pembagian dilthey atas ilmu
nature dan geist. Maka perkembangan itu menuntut metode baru. Dilthey
merumuskan keprihatinannya berdasar pada esai-esai yang Scopenhauer.
Historisisme yang digagas dilthey belum matang, maka Scopenhauer mengungkapkan.
1) ilmu metupakan konsep umum sehingga selalu melibatkan spesies, sedang
sejarah selalu bicara tentang hal
individual particular 2) sejarah merupakan objek lampau yang tidak dapat
di uji melalui eksperimen. 3) sejarah sebagai keseluruhan peristiwa lampau,
hanya bisa difahami sebagai urutan.
Hal
tersebut oleh dilthey ditanggapi, bahwa memang sejarah harus ditunggu
kelengkapanya. Dengan menggabung minat filsafat dan sejarah dilhey membedakan
dua kelompok filsuf, yaitu yang di kutub ilmu matematika fisika, dan ilmu
historis politis. Karya dilthey mengcangkup masalah filsafat psikologis, seni
dan estetika. Kesemuannya itu menuntut pemahaman diri melalui apa yang disebut
historisisme. Pada titik ini jiwa manusia sebagai sesuatu yang unik mendapatkan
tempat khusus. Selanjutnya pendasaran atas kedudukan khusus jiwa manusia dalam
sejarah filsafat sesuai bagan berikut.
|
FILSAFAT
|
EPISTEMOLOGI
|
METODOLOGI
|
|
Filsafat
dualistic Descartes, dikotomi subjek-objek
|
Epistemology
objek dengan jaminan kebenaran ilahi
Fenomen
1 kant (ruang waktu dan ketegori kausalitas)
Triade
Sangsi-kesadaran-kebenaran
|
Logika
Deduksi-matematis
Hipotesis-spekulatif
|
|
Romantisme
Schleiermacher denagn otonomi dunia emosi subjek
Lebensfilosofie
dilthey emosi+tindakan
|
Understanding
and the other, sebagai subjek kreatif= lewat naskah
Objek
=naskah klasik
Sastra
teologi jurisprudensi
Erlebnis-ekspressien-vestehen
|
Metode
understanding dalam filologi
Understanding
membedakan nature and geist
|
|
Rasio
neokantianisme windelband
Rickert
|
Neo
Kantian dengan dua metode
dijabarkan
menurut prinsip formal dan material
|
Natur=nomotetis=generalisasi
dan hukum
Kultur
=ideografis=enigmalig
Generalisasi
natur
Individualisasi
geist
|
|
Linguistic
of being gadamer
|
Dasein
haidegger menjadi terfahami lewat bahasa dalam konteks tradisi dan otoriras
melihat
Triade
bahasa-eksistensi-pemahaman
|
Interpretasi
dasein lewat kebahasaan disanggah habermas bahasa adalah dominasi
|
Lalu
bagaimana kaitan subjek dalam kedudukanya sebagai manusia yang memiliki
dorongan dan kebutuhan utilitarian? Bagiaman kepentingan utilitarian atas ilmu
memiliki pendasaran metodologisnya?
Pendudukan
Descartes atas subjek sebagai pengamat, dan pendudukan berikutnya subjek sebagai
objek penelitian. Apakah dua pendudukan metodologis itu akan berjalan
sendiri-sendiri? Lalu bagaimana perkembangan ilmu dengan teknologi dan politik
bisa mendapatkan pendasaran metodologisnya?
Lalu
kualitas apakah dari manusia yang hendak kita lihat setelah kita dilengkapi
metode itu?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar