-

_dalam setiap kata yang kau baca,
selalu ada huruf yang hilang
kelak kau pasti akan kembali menemukanya
di sela kenangan penuh ilalang__


Senin, 15 September 2014

DIALOG FILSAFAT DENGAN ILMU PENGETAHUAN *


(SEBUAH SURAT UPAYA MEMAHAMI GAGASAN TOETI HERATY) 
Oleh: danang t.p
*disampaikan sebagai pengantar " forum diskusi catatan kaki"


Filsafat tidak bisa sibuk dengan dirinya sendiri. Kalimat itu rasanya paling pas saya pakai untuk mengambarkan kesan mendalam saya atas buku orasi guru besar Prof Toeti Heraty. Dialog filsafat dengan ilmu-ilmu pengetahuan, suatu pengantar meta-metodologi. Sebuah orasi guru besar yang pendek kata tapi mendalam makna. Sebuah upaya mengusik kedudukan filsafat dengan ilmu pengetahuan. Maka tulisan singkat ini, saya tulis sebagai sebuah surat upaya untuk memahami gagasan Ibu Toety. Selayaknya sebuah surat upaya maka kesalahan pemahaman, atau bisa kita sebut saja reduksi bisa sangat mungkin terjadi. Maka solusi terbaik, mungkin anda harus membaca sendiri tulisan Ibu Toety.
-------
 Kita sudah faham tentu dengan berbagai pujian atau semacam predikat yang melekat pada filsafat. Induk ilmu pengetahuan, dasar segala kepastian-kepastian epistemologis pada ilmu-ilmu lain. Sebagai induk apakah tugas filsafat hanya melahirkan anak-anak –baca ilmu lain-. Lalu filsafat akan sibuk dengan dirinya sendiri lagi. Senggama terus menerus untuk melahirkan anak-anak baru. Setelah itu cuci tangan atas kehidupan anak-anaknya. Saya teringgat kata Gibran, anak-anakmu bukanlah anak-anakmu. Tapi kalimat itu tidak lahir dalam rangka memberikan pembenaran sikap cuci tangan filsafat terhadap anak-anaknya.
Filsafat sebagai sebuah ilmu spekulatif, memang memiliki kecenderuangan untuk bermonolog dengan dirinya sendiri. Lalu ada keraguan tentang kemampuan filsafat berdialog dengan limu-ilmu lain. Bercengkrama dengan perkembangan ilmu pengetahuan kontemporer yang semarak dengan ledakan teknologi dan kecenderuangan saintismenya.  
Akar permasalahanya adalah filsafat dalam perkembanganya di Indonesia sudah didudukkan sebagai cabang ilmu disamping ilmu-ilmu lain. Lalu dalam kedudukan itu bagaimana filsafat berdialog dengan ilmu-ilmu lain. Kita dituntut dengan kerendahan hati dan kecermatan menentukan relevansi filsafat dengan ilmu pengetahuan lain. Sebagai titik tolak dialog itu adalah filsafat ilmu pengetahuan, tetapi kemudian terkait secara fungsional dengan epistemology, dengan logika, dan kemudian dengan metodologi khususnya meta-metodoogi.
------
Secara sistematis tubuh besar filsafat biasa kita bagi merunut pada tiga bagian besar. Menyangkut tentang kenyataan, atau dasar segala realitas yang dapat kita indra, metafisika generalis (ontology) dan yang tidak dapat kita indra (metafisika spesialis). Selanjutnya mnegnai bidang nilai aksiologi, yang berpokok pada estetika dan etikaa. Wilayah terakhir adalah yang menyangkut prosedur tentang sah atau tidaknya pengetahuan, epistemologi. Yang ketiga ini bisa kita dasarkan atas pertanyaan Imanuel Kant “ wa kann ich wissen” apa yang dapat diketahui?. Tiga bidang itu buakn sebuah pemilahan kaku, yang menghendaki sebuah batas-batas ketat dan jelas. Aakn tetapi ketiganya saling kelindan, pembahasan satu bidang pasti gayung bersambut denagn bidang lainya.
Pada bidang ketiga yang menjadi titik tumpu adalah epistemology, yaitu teori pengetahuan yang menjadi dasar hakikat pengetahuan. Sedang filsafat ilmu pengetahuan adalah menyangkut kajian-kajian filosofis tentang ilmu-ilmu khusus. Cara-cara yang ditempuh ilmu-ilmu khusus untuk mencapai tataran yang ilmiah. Mengenai cara-cara itu kita mengenal metodologi. Metodologi pada akhirnya gayung bersambut dengan bidang logika mengenai cara-cara penalaran yang tepat.
Lantas atas bidang ketiga tersebut kiat bisa mengajukan pertanyaan, bukankah setiap ilmu sudah ditentukan dengan jelas objek penelitian serta metode penelitianya?. Atas kemapanan objek dan metode penelitian dalam pembagian ilmu-ilmu khusus bisa diajukan lagi sebuah pertanyaan meta-metodologi. Sejauh mana ilmu-ilmu khusus mempunyai titik tolak metodologis yang sama? Jawaban atas pertanyaan itu adalah sebuah penjelasan historis filsafat tentang awal mula pendasan metode ilmu-ilmu khusus. Lantas atas kedudukan masing-masing ilmu itu, kita bisa bertanya bagaimana sifat pembedaan antara kelompok-kelompok ilmu dengan disiplin ilmu yang berbeda-beda. Benarkan kita dapat bertumpu pada apa yang disebut unified science yang monometodologis dan menghendaki objentivitas universal dalam ilmu. Ataukah kita hendak bergerak pada arah kebebasan metodologi dalam plurimetodologi pada ilmu-ilmu sebagai keseluruhan.
-----
Dialog dengan relevansi metodolis antara filsafat modern dengan ilmu pengetahuan modern bisa kita temukan pada karta risalah tentang metode dari Descartes. Descartes aadalah sosok yang dengan adagium cogito ergo sum nya meulai babakan baru yang kiat kenang sebagai modernisme. Sebuah babakan baru yang meninggalkan tradisi berfikir lama. Sebuah cara pembuktian eksistensial manusia melalui kesangsian kesadaran. Gagasan Descartes itu memulai cara meyakinkan diri dengan gaya baru. Jika dahulu meyakinkan bisa dilakukan dengan meneror, menyuap, menghasut dan lain-lain. Maka secak zaman pencerahan di eropa meyakinkan bisa dilakukan dengan bernalar, Cogito. Penalaran yang cermat hanya bisa dilakukan denagn pembuktian matematik, Descartes adalah ahli matematika yang kemudian menerapkan gagasanya pada filsafat.
Ternyata secara tidak langsung gaya penalaran Descartes tidak hanya diterapkan pada filsafat, tetapi juga atas ilmu-ilmu lain. Ditulisnya Makalah tentang Dunia, Risalah tentang Metode. Bagian pertama tidak jadi diterbitkan karena ketakutan atas kondisi zaman. Pada saat itu Galileo yang mengungkapkan gagasan dunia yang mengitari matahari, dihukum mati karena dia menyangsikan tradisi yang sudah lama dipegang dan diyakini kebenaranya. Descartes yang isi karya pertamanya tentang dunia mendukung pendapat Galileo, takut bernasib sama. Dia tidak jadi menerbitkan karyanya. Kemudian dia memilih menulis denagn cara yang lebih halus Risalah tentang Metode. Mengkaji dan menjabarkan metode dinggapnya lebih aman karena abstrak. Memang pokok bahasanya tidak jauh dari karya pertama yang gagal terbit, bahasanya tetap tentang dunia, tuhan dan jiwa tetapi denagn menyangsikan pengetahuan terdahulu. Risalah tentang Metode penuh nada penyelamatan diri dan basa-basi kehati-hatian. Jangan menyingung orang lain walaupun merasa menemukan sesuatu yang baru.  
Bisa disimak 59 halaman risalah tentang metode yang terdiri dari enam bagian, berikut akan diringkas gagasan utama setiap bagian. Bagian pertama membahas masalah ilmu-ilmu dengan menyebutkan akal sehat yang dimiliki semua manusia dengan intensitas yang berbeda-beda. Akan tetapi itu tidak menjadi masalah, yang terpenting kemampuan itu digunakan. Descartes tida menggap dirinya lebih unggul dari yang lain, dia bersukur diberi kesempatan merumuskan metode tentang kemampuan daya nalar manusia, dalam hidup yang pendek ini. Sikapnya pada ilmu-ilmu ditunjukan dalam bagian ini. Pengetahuan budaya tetap kabur, pengetahuan bahasa memang berguna, puisi memang indah tetapi memerlukan bakat, tetapi kekagumanya tetap pada matematika yang dianggapnya belum dimanfaatkan kemungkinannya secara cemerlang. Filsafat memang rancu dnegan gagasan-gagasan yang bertentangan. Kahirnya dia memutuskan akan belajar dari alam raya dan dirinya sendiri.
Bagian kedua, menjelaskan tentang kaidah pokok metode. Penjabaranya adalah bahwa yang dikerjakan satu orang lebih utama dari yang patungan. Cotohnya dari arsitektur, aturan kebudayaan dan tatanegara, tidak perlu ditirukan. Lebih baik mencabut akar semua pendpaat orang lain, dan mengikuti pendapat sendiri. Metode aljabar dan geometri perlu dilengkapi ddengan metod elain yang memiliki kelebihan. 1) tidak menerima apapun sebagai benar, kecuali diyakini sendiri. 2) memilah masalah menjadi bagian terkecil agar mudah diselesaikan. 3) berfikir runtut, sedikit-sedikit, dari sederhana sampai yang rumit. 4) perincian lengkap dan menyeluruh perlu supaya tidak ada yang terlupakan. Demikian Descartes menerapkan aljabar dan geometri ssambil menambal kekuranganya dengan obsesi metodenya bisa diterapkan untuk segala sesuatu, sehingga objek penelitian menjadi jelas dan terang.
Bagian ketiga, menyebutkan beberapa kaidah moral yang menajdi pegangan baik sebagai penerapan metode di atas maupun sebagai landan metode.
Bagian keempat, menyatakan pengabdianya pada kebenaran, dan kesalahanya yang sering terkecoh secara indrawi. Kebenaran eksistensial bahwa Descartes benar-benar ada dan eksistensinya sempurna, karena keberadaanya berdasar pada pengyangsian.
Bagian kelima, mengungkapan tegas dualitasnya atas tubuh dan jiwa. Segala sesuatu yang ada dalam tubuh manusia dan alam dikerjakan secara mekanis. Tubuh sebagai mesin ciptaan tuhan yang memiliki kelebihan. Yang penting dalam bagian ini, jiwa sebagai seuatu yang bernalar menyangsikan adalah abadi. Jiwa tidak mungkin mati bersama badan.
Bagian keenam, mengungkapkan keharusan untuk membuka semua pengetahuan yang dimiliki untuk menajid pengetahuan umum. Pengetahuan spekulatif tentang kemampuan api, air, udara, dan planet-planet, dapat menjadi pengetahuan praktis. Dengan pengetahuan itu kita akan menajid penguasa dan pemilik alam.
Dari keenam bagian tersebut dapat disimpulkan, pengtingnya pengetahuan spekulatif untuk selanjutnya dibuktikan dalam eksperimen-eksperimen. Descartes memulai gaya berfikir rasionalitas axiomatic yang diturunkan dari logika dan matematika. Penglihatanya atas pengetahuan adalah segi instrumentalisnya untuk mewujudkan manusia yang dapat menguasai alam dengan rasionalitas instrumental yang ditopang keyakinan pada tuhan. Demikian Descartes dengan risalah tentang metode mengungkapkan kote etik atau metodologi umum bagi ilmu-ilmu, meta-metodologi.
----
Dualitas Descartes antara subjek manusia yang bercirikan kesadaran dengan objek fisik yang diteliti, adalah dasar semua pandanganya. Sebuah bentuk penjarakan atas dunia. Lalu bagaimana kedudukan ilmu-ilmu yang bukan berupa objek fisik dapat dibenarkan? Bagaimana pula keabsahan metode yang ahrus ditempuhnya. Descartes mnegisolasi subjek hanya sebagai yang melakukan pengamatan, tidak sebagai bjek penelitian. Lalu jiwa memang harus didudukkan pada posisi nyaman subjek sebagai pengamat. Hal tersebut ditegaskan oleh Kant, karena memang jiwa bukanlah fenomena (yang tertangkap oleh ruang dan waktu, serta mencangkup akal denagn kategori kausalitas). Kant memisahkan objek fenomena dengan nomena (wilayah kebebasan manusia yang bermoralitas. Lalu bagaimana dunia batin bisa dijadikan objek pengetahuan. Setelah kant dan Descartes mendudukankanya pada posisi mantap nomena.
Hal tersebut kemudian mendapat tanggapan dari hegel dan dilthey. Hegel denagn roh objektif, berusaha menyelamatkan roh yang menurutnya empiric dan dapat diteliti, karena telah terobjektivikasi. Melalui pembagian dilthey atas ilmu nature dan geist. Maka perkembangan itu menuntut metode baru. Dilthey merumuskan keprihatinannya berdasar pada esai-esai yang Scopenhauer. Historisisme yang digagas dilthey belum matang, maka Scopenhauer mengungkapkan. 1) ilmu metupakan konsep umum sehingga selalu melibatkan spesies, sedang sejarah selalu bicara tentang hal  individual particular 2) sejarah merupakan objek lampau yang tidak dapat di uji melalui eksperimen. 3) sejarah sebagai keseluruhan peristiwa lampau, hanya bisa difahami sebagai urutan.
Hal tersebut oleh dilthey ditanggapi, bahwa memang sejarah harus ditunggu kelengkapanya. Dengan menggabung minat filsafat dan sejarah dilhey membedakan dua kelompok filsuf, yaitu yang di kutub ilmu matematika fisika, dan ilmu historis politis. Karya dilthey mengcangkup masalah filsafat psikologis, seni dan estetika. Kesemuannya itu menuntut pemahaman diri melalui apa yang disebut historisisme. Pada titik ini jiwa manusia sebagai sesuatu yang unik mendapatkan tempat khusus. Selanjutnya pendasaran atas kedudukan khusus jiwa manusia dalam sejarah filsafat sesuai bagan berikut.
FILSAFAT
EPISTEMOLOGI
METODOLOGI
Filsafat dualistic Descartes, dikotomi subjek-objek
Epistemology objek dengan jaminan kebenaran ilahi
Fenomen 1 kant (ruang waktu dan ketegori kausalitas)
Triade
Sangsi-kesadaran-kebenaran
Logika
Deduksi-matematis
Hipotesis-spekulatif
Romantisme Schleiermacher denagn otonomi dunia emosi subjek

Lebensfilosofie dilthey emosi+tindakan
Understanding and the other, sebagai subjek kreatif= lewat naskah
Objek =naskah klasik
Sastra teologi jurisprudensi

Erlebnis-ekspressien-vestehen
Metode understanding dalam filologi



Understanding membedakan nature and geist
Rasio neokantianisme windelband


Rickert 
Neo Kantian dengan dua metode



dijabarkan menurut prinsip formal dan material
Natur=nomotetis=generalisasi dan hukum
Kultur =ideografis=enigmalig

Generalisasi natur
Individualisasi geist
Linguistic of being gadamer
Dasein haidegger menjadi terfahami lewat bahasa dalam konteks tradisi dan otoriras melihat
Triade bahasa-eksistensi-pemahaman
Interpretasi dasein lewat kebahasaan disanggah habermas bahasa adalah dominasi

Lalu bagaimana kaitan subjek dalam kedudukanya sebagai manusia yang memiliki dorongan dan kebutuhan utilitarian? Bagiaman kepentingan utilitarian atas ilmu memiliki pendasaran metodologisnya?
Pendudukan Descartes atas subjek sebagai pengamat, dan pendudukan berikutnya subjek sebagai objek penelitian. Apakah dua pendudukan metodologis itu akan berjalan sendiri-sendiri? Lalu bagaimana perkembangan ilmu dengan teknologi dan politik bisa mendapatkan pendasaran metodologisnya?
Lalu kualitas apakah dari manusia yang hendak kita lihat setelah kita dilengkapi metode itu?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar