-

_dalam setiap kata yang kau baca,
selalu ada huruf yang hilang
kelak kau pasti akan kembali menemukanya
di sela kenangan penuh ilalang__


Rabu, 03 September 2014

DICK HARTOKO DAN KABAR TENTANG PENDERITA LEUKIMIA ILMIAH


Awal Agustus yang lalu saya mendapatkan sebuah paket berisi bundel majalah basis edisi tahun 1994. Majalah bekas dengan kertas yang telah menguning di banyak sisi. Rasanya ingin sekali segera menuntaskan membaca bundel majalah tersebut. Akan tetapi, karena beberapa hal yang seolah mengijinkan saya untuk menunda keinginan bersegera menuntaskan membaca bundel majalah basis, akhirnya saya pun membaca bundel majalah tersebut dengan sangat lamban.
Ketika membuka lembar demi lembar majalah bekas tersebut. Anggan dan imajinasi saya malah membayangkan kebesaran sang Begawan kebudayaan  alm- Romo Dick Hartoko yang mengasuh dan membesarkan majalah basis. Membayangkan malam-malam yang dilalui Romo Dick ketika menulis sebuah kolom pembuka: tanda-tanda zaman. Semacam pengantar redaksi yang mengambarkan refleksi  penglihatan romo dick atas berbagai kahanan realitas yang terjadi ketika itu.
Majalah bekas tersebut, bagi saya menjadi berharga karena di dalamnya saya bisa menjumpai sosok Begawan Dick Hartoko melalui tulisanya, tanda-tanda zaman. Tulisan tanda-tanda zaman, tidak panjang. Akan tetapi, kedalamanya benar-benar mengambarkan kemampuan Sang Begawan untuk mbedar sabdo, memberi petuah-petuah tentang berbagai persoalan. Kemampuan sang Begawan salah satunya ditunjukkan pada edisi majalah basis bulan april tahun 1994. Begawan Dick Hartoko melihat persoalan buruknya fasilitas perpustakaan di universitas-universitas di Indonesia kala itu.
 Syahdan ketika itu sedang populer demonstrasi mahasiswa di Universitas Gadjah Mada. Kejadian tersebut dekade 1994. Romo Dick membuka tanda-tanda zaman dengan sebuah seruan dari Prof. A.Teeuw. Menanggapi demonstrasi mahasiswanya di UGM, Teeuw tidak menyerukan untuk jangan berdemonstrasi, dan kembalilah ke ruang kelas. Teeuw malah berkata “ Lakukanlah demonstrasi, untuk menuntut perpustakaan-perpustakaan yang lebih memadai, sehingga kalian bisa menunaikan studi dengan lebih baik” .
Lantas dalam bagian akhir tanda-tanda zaman, sang Begawan menulis. “Perpustakaan itu dapat disamakan dengan paru-paru. Sayang di kebanyakan universitas di Indonesia paru-paru tersebut kurang berfungsi, sehingga mahasiswa menderita leukemia ilmiah”.
Para mahasiswa menderita leukemia ilmiah karena kurang memadainya perpustakaan. Begitulah kabar yang saya terima  tentang kondisi tahun 1994 dari Begawan Dick Hartoko. Sebuah kabar dari tahun yang telah lalu. Suara dari seorang Begawan Kebudayaan yang telah beristirahat bersama Tuhan junjunganya
. Duapuluh tahun setelah sabdanya di tanda-tanda zaman, ternyata keaadaan kita tidak kunjung membaik. Buktinya, beberapa waktu yang lalu saya dengan seorang teman harus bersusah payah tanpa hasil ketika mencari buku-buku Kuntowijoyo di Perpustakaan Pusat UGM. Kegagalan saya mencari buku kuntowijoyo di perpustakaan UGM yang megah, bisa jadi karena kelalaian sistem komputer memasukan data base buku. Bisa juga karena kemalasan saya untuk mencari satu-persatu disetiap deret rak buku.
Akan tetapi, berkat kemajuan dalam berbagai hal, kini kondisi perpustakaan dan fasilitas baca lainya cukup baik. Perpustakaan universitas kita bisa dikunjungi dari pagi hingga malam hari. Akses internet 24 jam tersedia, memungkinkan kita mengunduh dan mebaca buku dari berbagai bahasa dan belahan dunia.
 Mahasiswa filsafat tidak perlu lagi kebingungan untuk mendapatkan kitab babon para filsuf. Sebuah web di internet telah menyediakan fasilitas gratis untuk kita dapat mengunduh kitab-kitab tersebut. Dunia, dan tekhnologi telah menawarkan kemudahan-kemudahan. Jelas, itu semua sangat sulit dilakukan ketika Romo Dick Hartoko masih menghalau kantuk setiap malamnya, di sebuah sudut perpustakaan Kolese Ignatius, Jl. Abu Bakar Ali.
Jelas zaman telah berubah, setelah 20 tahun tulisan romo dick, dan sang Begawan pun juga telah bersantai di surga. Lantas kita yang masih di dunia  dihadapkan pada pokok soal yang semakin rumit. Jika dahulu penyebab leukemia ilmiah adalah perpustakaan, kini penyakit itu kita  datangkan dalam diri kita sendiri, melalui diri kita sendiri, dan syukurlah beberapa dari kita tidak kunjung sadar dirinya penyakitan.
Setidaknya itu yang saya rasakan –tentu bisa jadi anda berbeda dari saya-. Saya sendiri tidak kunjung membaca jika belum dibentur-benturkan oleh kenyataan minimnya wawasan saya sebagai mahasiswa filsafat. Tidak kunjung membaca jika hati ini belum dicabik hingga berdarah-darah oleh wawasan kefilsafatan dan ilmu dari beberapa dosen dan teman-teman dekat saya.
Seorang teman sering berujar pada saya “ membaca itu tidak hanya membaca buku yang tertulis di atas kertas, tetapi membaca kehidupan sehari-hari yang kita hayati”. Tentu tidak ada kepantasan bagi saya untuk menyanggah ujaran teman saya tersebut, karena memang benar adanya seperti itu. Akan tetapi dalam kehidupan dunia yang semakin ruwet, sausana dunia yang sering digambarkan dalang dalam pewayangan dengan menyitir Prabu Jayabaya, donyo lan menungso koyo gabah den interi. Dunia dan manusia bagaikan biji padi di atas nampan yang di putar-putar.
Dalam kondisi yang seperti itu. Dapatkah kita sebagai mahasiswa filsafat melihat dunia lantas membacanya dengan jernih?, Tidak tertipu oleh yang kasat mata. Bisa masuk ke dalam inti realitas. Kalau saya kok ya tidak kunjung mampu. Karena itu saya perlu membaca buku sebagai kaca mata, yang tentu sangat membantu saya membaca dan menghayati kehidupan di sekitar saya. Bahwa pada akhirnya hasrat membaca saya masih timbul tenggelam, dan lebih sering saya dikuasai leukemia ilmiah. Hal tersebut menjadi tangungan saya sendiri untuk menyembuhkan diri saya sendiri.
Adakah rumah sakit atau dokter yang menyediakan obat penyakit leukemia ilmiah ini?.Leukemia ilmiah yang saya derita, tidak juga sembuh hanya karena ujaran “ keterampilan mahasiswa filsafat itu ya membaca dan menulis”. Kalimat yang sering terdengar tapi tidak kunjung mengendap di dasar hati. Kita –lagi-lagi ini termasuk saya-  masih lebih memilih duduk kongkow-kongkow, berbicara tidak tentu arah di sebuah kafe. Daripada menyendiri di pojok perpustakaan untuk membaca buku. Lebih memilih membeli berbagai trend baju dan gadget terbaru daripada membeli sebuah buku.  
 Membaca dan terus belajar adalah semacam dorongan kesadaran yang tan keno kinoyo ngopo tidak bisa dibicarakan. Maka saya harus lekas diam dan menyerah pada Sejatining ngelmu kelakone kathi laku, kebenaran sebuah ilmu jika telah dilaksanakan.
Sebagai penderita leukemia ilmiah. Semoga tulisan ini bukan sebuah kelancangan.




  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar