Awal
Agustus yang lalu saya mendapatkan sebuah paket berisi bundel majalah basis
edisi tahun 1994. Majalah bekas dengan kertas yang telah menguning di banyak
sisi. Rasanya ingin sekali segera menuntaskan membaca bundel majalah tersebut.
Akan tetapi, karena beberapa hal yang seolah mengijinkan saya untuk menunda
keinginan bersegera menuntaskan membaca bundel majalah basis, akhirnya saya pun
membaca bundel majalah tersebut dengan sangat lamban.
Ketika
membuka lembar demi lembar majalah bekas tersebut. Anggan dan imajinasi saya
malah membayangkan kebesaran sang Begawan kebudayaan alm- Romo Dick Hartoko yang mengasuh dan
membesarkan majalah basis. Membayangkan malam-malam yang dilalui Romo Dick
ketika menulis sebuah kolom pembuka: tanda-tanda zaman. Semacam pengantar
redaksi yang mengambarkan refleksi
penglihatan romo dick atas berbagai kahanan
realitas yang terjadi ketika itu.
Majalah
bekas tersebut, bagi saya menjadi berharga karena di dalamnya saya bisa
menjumpai sosok Begawan Dick Hartoko melalui tulisanya, tanda-tanda zaman. Tulisan
tanda-tanda zaman, tidak panjang. Akan tetapi, kedalamanya benar-benar
mengambarkan kemampuan Sang Begawan untuk mbedar
sabdo, memberi petuah-petuah tentang berbagai persoalan. Kemampuan sang
Begawan salah satunya ditunjukkan pada edisi majalah basis bulan april tahun
1994. Begawan Dick Hartoko melihat persoalan buruknya fasilitas perpustakaan di
universitas-universitas di Indonesia kala itu.
Syahdan ketika itu sedang populer demonstrasi
mahasiswa di Universitas Gadjah Mada. Kejadian tersebut dekade 1994. Romo Dick
membuka tanda-tanda zaman dengan sebuah seruan dari Prof. A.Teeuw. Menanggapi
demonstrasi mahasiswanya di UGM, Teeuw tidak menyerukan untuk jangan
berdemonstrasi, dan kembalilah ke ruang kelas. Teeuw malah berkata “ Lakukanlah demonstrasi, untuk menuntut
perpustakaan-perpustakaan yang lebih memadai, sehingga kalian bisa menunaikan
studi dengan lebih baik” .
Lantas
dalam bagian akhir tanda-tanda zaman, sang Begawan menulis. “Perpustakaan itu
dapat disamakan dengan paru-paru. Sayang di kebanyakan universitas di Indonesia
paru-paru tersebut kurang berfungsi, sehingga mahasiswa menderita leukemia
ilmiah”.
Para
mahasiswa menderita leukemia ilmiah karena kurang memadainya perpustakaan.
Begitulah kabar yang saya terima tentang
kondisi tahun 1994 dari Begawan Dick Hartoko. Sebuah kabar dari tahun yang
telah lalu. Suara dari seorang Begawan Kebudayaan yang telah beristirahat
bersama Tuhan junjunganya
.
Duapuluh tahun setelah sabdanya di tanda-tanda zaman, ternyata keaadaan kita
tidak kunjung membaik. Buktinya, beberapa waktu yang lalu saya dengan seorang
teman harus bersusah payah tanpa hasil ketika mencari buku-buku Kuntowijoyo di
Perpustakaan Pusat UGM. Kegagalan saya mencari buku kuntowijoyo di perpustakaan
UGM yang megah, bisa jadi karena kelalaian sistem komputer memasukan data base
buku. Bisa juga karena kemalasan saya untuk mencari satu-persatu disetiap deret
rak buku.
Akan
tetapi, berkat kemajuan dalam berbagai hal, kini kondisi perpustakaan dan
fasilitas baca lainya cukup baik. Perpustakaan universitas kita bisa dikunjungi
dari pagi hingga malam hari. Akses internet 24 jam tersedia, memungkinkan kita
mengunduh dan mebaca buku dari berbagai bahasa dan belahan dunia.
Mahasiswa filsafat tidak perlu lagi
kebingungan untuk mendapatkan kitab babon
para filsuf. Sebuah web di internet telah menyediakan fasilitas gratis untuk
kita dapat mengunduh kitab-kitab tersebut. Dunia, dan tekhnologi telah
menawarkan kemudahan-kemudahan. Jelas, itu semua sangat sulit dilakukan ketika
Romo Dick Hartoko masih menghalau kantuk setiap malamnya, di sebuah sudut
perpustakaan Kolese Ignatius, Jl. Abu Bakar Ali.
Jelas
zaman telah berubah, setelah 20 tahun tulisan romo dick, dan sang Begawan pun
juga telah bersantai di surga. Lantas kita yang masih di dunia dihadapkan pada pokok soal yang semakin rumit.
Jika dahulu penyebab leukemia ilmiah adalah perpustakaan, kini penyakit itu
kita datangkan dalam diri kita sendiri,
melalui diri kita sendiri, dan syukurlah beberapa dari kita tidak kunjung sadar
dirinya penyakitan.
Setidaknya
itu yang saya rasakan –tentu bisa jadi anda berbeda dari saya-. Saya sendiri
tidak kunjung membaca jika belum dibentur-benturkan oleh kenyataan minimnya
wawasan saya sebagai mahasiswa filsafat. Tidak kunjung membaca jika hati ini
belum dicabik hingga berdarah-darah oleh wawasan kefilsafatan dan ilmu dari
beberapa dosen dan teman-teman dekat saya.
Seorang
teman sering berujar pada saya “ membaca itu tidak hanya membaca buku yang
tertulis di atas kertas, tetapi membaca kehidupan sehari-hari yang kita
hayati”. Tentu tidak ada kepantasan bagi saya untuk menyanggah ujaran teman
saya tersebut, karena memang benar adanya seperti itu. Akan tetapi dalam
kehidupan dunia yang semakin ruwet, sausana
dunia yang sering digambarkan dalang dalam pewayangan dengan menyitir Prabu
Jayabaya, donyo lan menungso koyo gabah
den interi. Dunia dan manusia bagaikan biji padi di atas nampan yang di
putar-putar.
Dalam
kondisi yang seperti itu. Dapatkah kita sebagai mahasiswa filsafat melihat
dunia lantas membacanya dengan jernih?, Tidak tertipu oleh yang kasat mata.
Bisa masuk ke dalam inti realitas. Kalau saya kok ya tidak kunjung mampu. Karena itu saya perlu membaca buku
sebagai kaca mata, yang tentu sangat membantu saya membaca dan menghayati
kehidupan di sekitar saya. Bahwa pada akhirnya hasrat membaca saya masih timbul
tenggelam, dan lebih sering saya dikuasai leukemia ilmiah. Hal tersebut menjadi
tangungan saya sendiri untuk menyembuhkan diri saya sendiri.
Adakah
rumah sakit atau dokter yang menyediakan obat penyakit leukemia ilmiah ini?.Leukemia
ilmiah yang saya derita, tidak juga sembuh hanya karena ujaran “ keterampilan
mahasiswa filsafat itu ya membaca dan menulis”. Kalimat yang sering terdengar
tapi tidak kunjung mengendap di dasar hati. Kita –lagi-lagi ini termasuk
saya- masih lebih memilih duduk
kongkow-kongkow, berbicara tidak tentu arah di sebuah kafe. Daripada menyendiri
di pojok perpustakaan untuk membaca buku. Lebih memilih membeli berbagai trend
baju dan gadget terbaru daripada membeli sebuah buku.
Membaca dan terus belajar adalah semacam
dorongan kesadaran yang tan keno kinoyo
ngopo tidak bisa dibicarakan. Maka saya harus lekas diam dan menyerah pada Sejatining ngelmu kelakone kathi laku,
kebenaran sebuah ilmu jika telah dilaksanakan.
Sebagai
penderita leukemia ilmiah. Semoga tulisan ini bukan sebuah kelancangan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar