/1/
Dia, semacam keindahan yang gagal
dicatat dalam buku kuliah. Dia mempunyai kuasa atas segala bahasa. Sering menghanyutkanmu
dalam suasana. Dia endapan yang sangat syahdu dari setiap pengalamanmu. Dia sesuatu
yang telah hilang: hendak kau hadirkan kembali. Dia tak bisa dipaksa mengikuti
langkah kakimu. Kau yang harus setia mengikutinya. Merawatnya, atau bahkan
menyembunyikannya rapat-rapat dari bahasa. Dia kesyahduan yang maha. Lembut tetapi
menyentak. Lirih tapi selalu bergema. Dilupakan tetapi selalu di inggat. Dia adalah
kejujuran yang membrontak dari kata-kata. Tak ada yang bisa menampungnya.
Dia
bisa saja dirimu yang tertelungkup kaku dalam sunyi ruang hidupmu. Tapi dia
bukan dirimu yang menyeru dengan dalil-dalil hantu. Dia samar, suaranya
lamat-lamat saja, tidak jelas, bahkan sangat lirih. Siapkan telingamu untuk
mendengarnya. Dia tidak selalu berwujud dalam kata dan bahasa. Dia adalah
kesunyian. Atau penjaga kesunyian: tempat kesehatan hidup dirawat. Dia hidup
tidak dengan nyawa, tapi kehidupanya melebihi 1000 nyawa. Kekuatanya syahdu,
tenaganya menekanmu: kembali, dan sunyi. Dia bukan gelak tawa tanpa ampun. Dia bukan
ambisi. Temui dia segera.
Dia
tidak beralamat dalam kata. Dia bisa saja senja yang hendak kau tikam dengan
kata. Tapi kesyahduanya membunuhmu sejak kali pertama ingin mengabadikanya. Dia
seperti juga senja yang tak bisa kau ringkus dalam satu kali gores: bait-bait
indah. Dia menawarkanmu ruang dan waktu yang lain: dunia lain. Dunia lain:
tempat segalanya hanya permainan. Dunia yang jauh, masuklah dan lihat dirimu
disana yang semakin lusuh dan angkuh. Pesonya adalah kejujuran dan bahasanya
adalah kesyahduan tak terkata. Lagi-lagi tak terkata, tetapi penuh rasa. Ingat kau
bisa mati karenanya!!
/2/
Tidak ada komentar:
Posting Komentar