(gambar: Denting by danang tp. pencil on kertas, awur-awuran)
Di jalan itu tinggal aku, kecepatan, jarum jam, dan kata-kata Marie.. begitulah khoiril maqin mengakhiri kalimat penutup dalam paragraph pertama cerita pendeknya “Marie”. Bagi saya kalimat tersebut kunci untuk mehami jalan pikiran Maqin sekaligus alur cerita pendeknya. Tentu dengan sangat penuh kesadaran bahwa pemahaman saya tidak pas, atau bahkan keliru. Tapi memang begitulah cerpen dan penulisnya memang tidak menuntut keshahihan tafsir yang mutlak. Permainan dengan ambiguitas justru malah mengasikkan.
Saya
rasa keberhasilan cerpen ini memukau para pembacanya, karena permainanya dengan
ambiguitas dan ketidakjelasan. Sebuah usaha menarik kekosongan sepi yang
melingkupi diri penulisnya, menjadi sebuah cerita, yang bisa jadi tidak pernah
terjadi, atau bahkan penuh ilusi.
Dimulai
dengan penggambaran tentang suasana yang telah berlalu. Mengingat masa-masa
dengan marie, sosok yang saya rasa sangat fiktif. Sang narator sedang berjalan
dalam kesepian malam, hening, hanya ada lampu-lampu kota , dan kecepatan motor.
Dalam suasana itulah sang narator teringat tuhan dan memerintahnya untuk “ tidak terburu-buru mengajaknya ke surga
atau tempat yang jauh di sana” .
Mengingat
tuhan juga mengingatkanya pada marie. Lampu-lampu kota dan deru kecepatan motor
membawa ingatan narator pada tuhan. Sementara notalgi dengan sosok marie
diingat melalui bait-bait sajak yang ditulis menggunakan tinta merah. Pada
akhirnya bait-bait sajak benar-benar terasa magis bagi narator, hingga sosok
marie yang entah berada di mana bisa hadir dalam nostalgi narator.
Ambiguitas
dalam cerpen ini cukup berhasil tersampaikan melalui sajak-sajak yang menghiasi
beberapa akhir paragraph cerpen. Sambil bermain-main dalam ruang sajak yang
sentimentil narator meloncat ke ruang nyata yang dia alami. Sebuah sepi yang
nyata di depan mata. Sepi yang damai dan mendesak, seperti juga sosok marie. “Aku kenal dia melalui sajak yang ia tulis
awal musim hujan, di stasiun kereta. Sajak damai, tapi mendesak”.
Marie
sosok wanita yang mungkin sekali hanya ilusi. Sosok wanita yang hadir melalui
sajak. Sosok wanita yang hadir dalam kesepian diri sang narator. Hendak
mengantarkan sang narator menuju sebuah tempat. Tidak melalui jalanan aspal
dengan garis-garis putih yang terlewati dan tak pernah ada habisnya. Tetapi
mengantar melalui sajak. Narator menungang sajak untuk mencapai marie.
Deskripsi-deskripsi
yang dihadirkan dalam beberapa paragraf sangat sederhana. Mungkin memang
sengaja dibuat sesederhana mungkin. Karena sejak awal keindahan cerita
dihadirkan melalui puisi. Dunia nyata hanya jembatan menuju dunia sajak yang
tak terbatas.
Perjalanan
nostalgi sang narator akan sosok marie akhirnya berlabuh pada sebuah pantai.
Setelah mengetahui sia-sia mengendarai motor diatas pasir pantai. Akhirnya
motor dia lemparkan dan dia berlari menuju deburan ombak. Buih ombak
menyambutnya. “ mungkin ada rasi bintang
unik di atas buih-biuh itu. Bukan-bukan rasi cuma bintang gemintang biasa” . sekali
lagi ambiguitas pun dihadirkan penulis dalam diskripsinya.
Ambiguitas,
sesuatu yang tidak jelas, bisa jadi bertentangan, terjadi dalam satu waktu.
Saling sesak. Rumit. Memang sangat efektif untuk mengantarkan keindahan,
apalagi seperti dalam cerpen ini yang mengunakan bahasa yang terasa sangat
liris dan prosaic. Ambiguitaspun terasa menjadi sarana paling pas untuk mengungkapkan
keindahan. Dalam khasanah sastra pedhalangan jawa kita bisa menjumpai banyak
suluk (puisis jawa) yang menggunakan ambiguitas bahas prosa untuk mengantarkan suasana
keindahan. Misal:..Ooongg ono lintang dudu wengi, ada bintang tetapi ini bukan
malam hari. Bagaimana mungkin itu terjadi dalam dunia nyata? Disinilah
keindahan sastra berkuasa. Tekhnik seperti itu, sepertinya sangat dimanfaatkan
dalam beberapa diskripsi cerpen karangan maqin.
Dalam
suasana nostalgi dengan sebuah sajak dari marie. Narator hilang kesadaran,
masuk dalam ruang awang-awung, sunyoruri
–kosong, hampa- yang penuh dengan
keidahan yang bisa jadi sangat melankoli. Laku gerak tubuhnya lepas kendali.
Pun akhirnya narator juga tidak sadar telah dibawa oleh sebuah sajak menuju
tepi sebuah pantai. “ ayahku bukan
nelayan marie, bukan petani garam, mengapa kau membawaku kesini?”. Setealah
kalimat Tanya tersebut, seperti sebuah gumam tak terucapkan. Narator kembali
masuk dalam dunia nyata. Mungkin dalam titik ini narator menyadari posisinya di
tepi sebuah pantai. Tetapi kesadaran itu tetap terbaca sangat lirih dan
terbata-bata.
Di
tepi pantai sajak kembali hadir untuk mengakhiri cerita perjalanan narator
bersamanya. Dalam bentuk apa sajak itu hadir tidak jelas. Tetapi sajak
menguasai suasana. Ternyata marie memberi sang narator sebuah amplop. Lagi-lagi
berisi kalimat-kalimat liris prosaic. “
ini marie, kasihmu sajak-sajak yang kau tulis di awal musim penghujan. Maaf aku
kini jadi lautan, tapi, bagaimana denganmu, bisa berenang? . seperti
kalimat penutup dalam cerita ini yang diakhiri tanda tanya. Cerita inipun diakhiri
juga dengan tanda tanya. Tanda Tanya. Sesuatu yang tidak selesai. Mungkin tak
menuntut jawab terang.
Ending
yang dihadirkan penulis memukau. Penulis cerita seperti ingin melanjutkan
cerita. Tetapi setelah sejenak diam, menghisap sebatang rokok, dan membau harum
kopi dalam cangkir cina yang munggil. Akhirnya Maqin tidak bisa melanjutkan
cerita. Bisa jadi sebuah kesegajaan untuk berhenti dalam tanda Tanya. Berhenti
dalam ketidakjelsan akhir. Atau bisa saja berhenti karena telah menemu sedikit
cahaya dalam ruang kosong yang dia hayati.
akupun ingin berkemas untuk
kenyataan-kenyataan,
berberes dalam sebuah garis dan berkata:
mungkin tak ada dosa,
tapi ada yang percuma saja.
Tapi semua ini terjadi dalam sebuah
sajak yang sentimentil.
Dan itulah saoalnya
--G.M
dalam Interlude—
Pun
saya juga harus lekas berkemas, berhenti menulis ini. Menyerah pada sesuatu
yang tidak jelas. Sesuatu yang jauh tetapi dekat, nyata tetapi juga ghaib.
Megitulah sepertinya melodrama keindahan nostalgi dengan sebuah sajak dalam
cerita marie karya Maqin.
Saya menulis ini, Tentu dengan tanpa
memaksudkan tulisan ini sebagai sejenis ulasan cerpen, apalagi kritik sastra.
Sekadar tanggapan pembaca saja cukup. Begitulah kiranya.
Danang t.p klebengan 11-9-14
Tidak ada komentar:
Posting Komentar