-

_dalam setiap kata yang kau baca,
selalu ada huruf yang hilang
kelak kau pasti akan kembali menemukanya
di sela kenangan penuh ilalang__


Senin, 15 September 2014

Cerita dalam Sebuah Sajak Sentimentil (Sekadar Tanggapan Pembaca atas Cerpen Marie karya Khoiril Maqin)



















(gambar: Denting by danang tp. pencil on kertas, awur-awuran)

Di jalan itu tinggal aku, kecepatan, jarum jam, dan kata-kata Marie.. begitulah khoiril maqin mengakhiri kalimat penutup dalam paragraph pertama cerita pendeknya “Marie”. Bagi saya kalimat tersebut kunci untuk mehami jalan pikiran Maqin sekaligus alur cerita pendeknya. Tentu dengan sangat penuh kesadaran bahwa pemahaman saya tidak pas, atau bahkan keliru. Tapi memang begitulah cerpen dan penulisnya memang tidak menuntut keshahihan tafsir yang mutlak.  Permainan dengan ambiguitas justru malah mengasikkan.
Saya rasa keberhasilan cerpen ini memukau para pembacanya, karena permainanya dengan ambiguitas dan ketidakjelasan. Sebuah usaha menarik kekosongan sepi yang melingkupi diri penulisnya, menjadi sebuah cerita, yang bisa jadi tidak pernah terjadi, atau bahkan penuh ilusi.
Dimulai dengan penggambaran tentang suasana yang telah berlalu. Mengingat masa-masa dengan marie, sosok yang saya rasa sangat fiktif. Sang narator sedang berjalan dalam kesepian malam, hening, hanya ada lampu-lampu kota , dan kecepatan motor. Dalam suasana itulah sang narator teringat tuhan dan memerintahnya untuk “ tidak terburu-buru mengajaknya ke surga atau tempat yang jauh di sana” .
Mengingat tuhan juga mengingatkanya pada marie. Lampu-lampu kota dan deru kecepatan motor membawa ingatan narator pada tuhan. Sementara notalgi dengan sosok marie diingat melalui bait-bait sajak yang ditulis menggunakan tinta merah. Pada akhirnya bait-bait sajak benar-benar terasa magis bagi narator, hingga sosok marie yang entah berada di mana bisa hadir dalam nostalgi narator.
Ambiguitas dalam cerpen ini cukup berhasil tersampaikan melalui sajak-sajak yang menghiasi beberapa akhir paragraph cerpen. Sambil bermain-main dalam ruang sajak yang sentimentil narator meloncat ke ruang nyata yang dia alami. Sebuah sepi yang nyata di depan mata. Sepi yang damai dan mendesak, seperti juga sosok marie. “Aku kenal dia melalui sajak yang ia tulis awal musim hujan, di stasiun kereta. Sajak damai, tapi mendesak”.
Marie sosok wanita yang mungkin sekali hanya ilusi. Sosok wanita yang hadir melalui sajak. Sosok wanita yang hadir dalam kesepian diri sang narator. Hendak mengantarkan sang narator menuju sebuah tempat. Tidak melalui jalanan aspal dengan garis-garis putih yang terlewati dan tak pernah ada habisnya. Tetapi mengantar melalui sajak. Narator menungang sajak untuk mencapai marie.
Deskripsi-deskripsi yang dihadirkan dalam beberapa paragraf sangat sederhana. Mungkin memang sengaja dibuat sesederhana mungkin. Karena sejak awal keindahan cerita dihadirkan melalui puisi. Dunia nyata hanya jembatan menuju dunia sajak yang tak terbatas.
Perjalanan nostalgi sang narator akan sosok marie akhirnya berlabuh pada sebuah pantai. Setelah mengetahui sia-sia mengendarai motor diatas pasir pantai. Akhirnya motor dia lemparkan dan dia berlari menuju deburan ombak. Buih ombak menyambutnya. “ mungkin ada rasi bintang unik di atas buih-biuh itu. Bukan-bukan rasi cuma bintang gemintang biasa” . sekali lagi ambiguitas pun dihadirkan penulis dalam diskripsinya.
Ambiguitas, sesuatu yang tidak jelas, bisa jadi bertentangan, terjadi dalam satu waktu. Saling sesak. Rumit. Memang sangat efektif untuk mengantarkan keindahan, apalagi seperti dalam cerpen ini yang mengunakan bahasa yang terasa sangat liris dan prosaic. Ambiguitaspun terasa menjadi sarana paling pas untuk mengungkapkan keindahan. Dalam khasanah sastra pedhalangan jawa kita bisa menjumpai banyak suluk (puisis jawa) yang menggunakan ambiguitas bahas prosa untuk mengantarkan suasana keindahan. Misal:..Ooongg ono lintang dudu wengi, ada bintang tetapi ini bukan malam hari. Bagaimana mungkin itu terjadi dalam dunia nyata? Disinilah keindahan sastra berkuasa. Tekhnik seperti itu, sepertinya sangat dimanfaatkan dalam beberapa diskripsi cerpen karangan maqin.
Dalam suasana nostalgi dengan sebuah sajak dari marie. Narator hilang kesadaran, masuk dalam ruang awang-awung, sunyoruri –kosong, hampa-  yang penuh dengan keidahan yang bisa jadi sangat melankoli. Laku gerak tubuhnya lepas kendali. Pun akhirnya narator juga tidak sadar telah dibawa oleh sebuah sajak menuju tepi sebuah pantai. “ ayahku bukan nelayan marie, bukan petani garam, mengapa kau membawaku kesini?”. Setealah kalimat Tanya tersebut, seperti sebuah gumam tak terucapkan. Narator kembali masuk dalam dunia nyata. Mungkin dalam titik ini narator menyadari posisinya di tepi sebuah pantai. Tetapi kesadaran itu tetap terbaca sangat lirih dan terbata-bata.
Di tepi pantai sajak kembali hadir untuk mengakhiri cerita perjalanan narator bersamanya. Dalam bentuk apa sajak itu hadir tidak jelas. Tetapi sajak menguasai suasana. Ternyata marie memberi sang narator sebuah amplop. Lagi-lagi berisi kalimat-kalimat liris prosaic. “ ini marie, kasihmu sajak-sajak yang kau tulis di awal musim penghujan. Maaf aku kini jadi lautan, tapi, bagaimana denganmu, bisa berenang? . seperti kalimat penutup dalam cerita ini yang diakhiri tanda tanya. Cerita inipun diakhiri juga dengan tanda tanya. Tanda Tanya. Sesuatu yang tidak selesai. Mungkin tak menuntut jawab terang.
Ending yang dihadirkan penulis memukau. Penulis cerita seperti ingin melanjutkan cerita. Tetapi setelah sejenak diam, menghisap sebatang rokok, dan membau harum kopi dalam cangkir cina yang munggil. Akhirnya Maqin tidak bisa melanjutkan cerita. Bisa jadi sebuah kesegajaan untuk berhenti dalam tanda Tanya. Berhenti dalam ketidakjelsan akhir. Atau bisa saja berhenti karena telah menemu sedikit cahaya dalam ruang kosong yang dia hayati.
akupun ingin berkemas untuk kenyataan-kenyataan,
berberes dalam sebuah garis dan berkata: mungkin tak ada dosa,
tapi ada yang percuma saja.

Tapi semua ini terjadi dalam sebuah sajak yang sentimentil.
 Dan itulah saoalnya
--G.M dalam Interlude—

Pun saya juga harus lekas berkemas, berhenti menulis ini. Menyerah pada sesuatu yang tidak jelas. Sesuatu yang jauh tetapi dekat, nyata tetapi juga ghaib. Megitulah sepertinya melodrama keindahan nostalgi dengan sebuah sajak dalam cerita marie karya Maqin.
 Saya menulis ini, Tentu dengan tanpa memaksudkan tulisan ini sebagai sejenis ulasan cerpen, apalagi kritik sastra. Sekadar tanggapan pembaca saja cukup. Begitulah kiranya.

Danang t.p klebengan 11-9-14

Tidak ada komentar:

Posting Komentar