-

_dalam setiap kata yang kau baca,
selalu ada huruf yang hilang
kelak kau pasti akan kembali menemukanya
di sela kenangan penuh ilalang__


Selasa, 08 Januari 2013

Rhoma Irama, Sang Dagelan untuk Rayap dan Gurem


Belum cukup mengoyang masyrakat indonesia dengan lagu-lagu dangdutnya. Raja dangdut kita tak ingin hanya bisa menguasai dunia permusikan dangdut yang dalam titik tertentu dianggap musik yang paling mewakili kondisi psikologis rakyat jelata negeri ini. Rupanya, abah dangdut kita rhoma irama, juga ingin memimpin rakyat-rakyat jelata negeri ini, yang jumlahnya pun tak kepalang banyaknya. Kita selayaknya juga berbaik sangka terhadap niat mulia abah dangdut kita itu. Kalau kita mau sedikit menghayati lebih dalam makna-makna dalam lagu-lagu beliau, kita bisa menduga bahwa abah kita itu ingin mengaktulisasikan syair-yiar lagunya. Semisal lagu Glandangan yang menceritakan mirisnya kehidupan para glandangan di negeri ini. Langit sebagai atap rumahku/ dan bumi sebagai lantainya/ hidupku menyusuri jalan/ sisa orang yang aku makan. Mungkin salah satu niat abah dangdut itu adalah untuk membebaskan anak-jalanan dari kehidupan yang penuh kesulitan menuju kehidupan berkesejahteraan sosial yang pas. Lalu bagaimana jika itu nanti tercapai, bukankah secara tidak langsung lagu anak jalanan karya beliau itu juga harus dihapus karena tidak sesuai dengan fakta dilapangan?.
Sebenarnya kita tidak memiliki hak sejumputpun untuk menerka-nerka niat orang lain dalam melakukan perbuatan. Termasuk menerka niat abah rhoma untuk mencalonkan diri sebagai presiden. Kebiasaan menerka niat orang lain akan membuat kita jatuh pada lembah duga-menduga atau spekulasi yang dalam ukuran moral dan akhlak itu sangat dilarang. Apalagi jika menerka niat orang lain bisa membawa kita pada sikap berprasangka buruk, yang pada akhirnya akan memper-ruwetkan hidup kita sendiri. Menerka niat saja tida boleh, apalagi kita dengan analisis yang begitu ndakik-ndakik, dengan legitimasi paling ilmiah sekalipun menetapkan niat seseorang. Biarkan wilayah per-niatan menjadi tangung jawab masing-masing pribadi dengan Tuhanya.
Terlepas dari niat apa yang mendasari abah rhoma mencalonkan diri sebagai presiden. Ada cerita yang sepertinya dalam ukuran saya, perlu dibagikan pada suadara-sudara sekalian. Kemarin 31 desember  saya pulang ke kediri. Kampung saya desa Gondang adalah desa yang mulai tersentuh industrialisasi dan gaya hidup modern kaum perkotaan yang identik dengan minimarket, rumah-rumah model joglo dengan bale yang luas sudah digantikan dengan rumah gaya spanyolan dengan tiang-tiang besar yang dalam beberapa titik sepertinya lebih menekankan pada aspek keidahan untuk bisa dinikmati oleh orang yang lewat di depan rumah daripada aspek fungsionalnya sebagai tempat berteduh pemilik rumah. Inilah gaya kebudayaan modern dengan gemerlap aspek-aspek yang dapat dilihat manusia saja.
Pada saat itu saya bincang-bincang dengan tetangga saya yang bekerja sebagai pembantu rumah tangga.  Dalam standar ekonomi di desa,  tetangga saya itu bisa kita masukan dalam kategori orang yang berkemampuan ekonomi menengah kebawah. Tetapi dalam standart ekonomi global saya tidak tahu tetangga saya itu masuk kategori apa, atau tak ada kategori bagi tentangga saya itu. Kok ya saya yakin tak ada kategori bagi tetangga saya dalam standar ekonomi global, tetangga saya dengan menjadi pembantu rumah tangga tak tentu, dengan penghasilan mungkin sehari 30 ribu - saya tak yakin- , tetapi beliau bisa senyam-senyum setiap hari, bisa mengajak anaknya ke warung,  bisa tetap ngelukke pawonan, entah karena menenak nasi atau hanya membakar kayu atau sampah. Dan ekonomi global tak pernah mencatat keberadaan orang-orang semacam tetangga saya itu, biarlah memang itu kebodohan manusia dengan tatanan ekonomi yang katanya modern, tetapi hanya bisa mengukur standart ekonomi berdasar angka-angka, apakah yang selain angka seperti, kebagiaan, ketenangan dan ke-sumeleh-an itu bukan modal ekonomi?.
Kembali pada inti persoalan. Tetangga saya itu setelah bincang-bincang ngalor-ngidul dengan saya, ada kata-kata beliau yang mengusik saya. Berikut petikan dialognya:
Tetangga: “jerene rhoma irama arep nyalon presiden?”
Saya:” iyo bek* “
Tetangga: “wah lek aku nduwe nomer hp ne rhoma irama, arep tak telpon, wes pak rausah nyalon presiden diguyu gurem karo rayap”. (dengan raut muka bercanda dan mimik yang khas rakyat kecil melepas kesumpekan)
Saya: “hahahaha” (saya tertawa lepas, tebahak-bahak)
Tetangga: “mbok yo uwes dadi penyanyi wae, wes dadi raja dangdut kok yo sek kurang wae “
Saya: masih melanjutkan menahan tawa

*bek adalah sebutan orang yang lebih tua kalau dalam bahasa indonesia bibik, tapi penyebutan bek ini tidak harus ada hubungan darah bibik, karena di desa saya semua orang perempuan yang umurnya sekitar 30-45 tahunan disebut bek.


Saya tak bisa membayangkan andaikan dialog itu terjadi antara orang-orang penting di negeri ini. pasti sangatlah fenomenal kata-kata tetangga saya itu ketika diucapkan oleh pengedhe negeri ini. Dan kata-kata itu adalah sarapan paling mengiurkan bagi para wartawan. Tetapi ya karena dialog itu terjadi antara sesama orang kecil yang sefenomenal apapun wartawan juga tak akan bernafsu meliputnya. Memang bangsa ini sudah terbiasa dalam lakon perjalanan sejarahnya mematikan punokawan, limbuk (tokoh wayang yang mencerminkan rakyat jelata). Bangsa ini berusaha menghidupkan gatotkaca, janaka, rama, tetapi nafsu-nafsu yang dihempaskan dasamuka malah menjadikan semunya tidak tuntas, menjadi gatotkca tidak, menjadi janaka juga tidak apalagi menjadi rama, entah dalam lakon selanjutnya kita beri nama apa mahluk ini.
Kembali pada diloag saya dan tetangga. Jika kita coba menafsirkan secara sedergana isi dialog tersebut dengan cara mengambil pesan utama dari dialog. Dialog tersebut hendak menyampaikan pesan bahwa rhoma irama jika akan mencalonkan sebagai preseiden, gurem dan rayap pun akan tertawa. Mungkin belum banyak yang mengetahui sebenarnya gurem dan rayap ini mahluk dari bangsa apa. Ini adalah dua jenis hewan yang biasanya dalam dunia perhewanan kurang begiru diperhatikan karena ukuranya yang begitu kecil. Rayap sejenis hewan pemakan kayu yang biasanya hidup di kayu-kayu yang sudah kropos, mungkin hewan ini lebih populer daripada gurem. Gurem itu adalah hewan yang amat kecil, lebih kecil dari rayap saya sendiri belum pernah melihat gurem. Dilingkungan desa saya, masyarakat mengatakan gurem hidup di badan bebrapa jenis hewan seperi ayam, anjing, dan kucing, gurem ini akan menghisap darah hewan yang dihinggapinya, jadi gurem ini semacam  kutu.
Bagi saya gurem dan rayap adalah representasi dari rakyat kecil kita, gurem dan rayap adalah rakyat kecil yang keberadaanya kian hari semakin tidak dianggap. Jadi kita bisa menerka maksut tetangga saya bahwa jika abah roma mencalonkan diri sebagai preseiden maka lapisan terbawah bangsa ini yaitu rakyat kecil akan tertawa ngakak.
Jangan-jangan rakyat kecil kita memang butuh presiden yang sekaligus dagelan . mungkin juga. Tetapi apakah kita tidak capek setiap hari tertawa, setiap hari melihat ketoprak plesetan gartis. Lho Kapan kita melihat ketoprak plesetan gratis??. Lho lha bukanya orang-orang nDuwuran di negara kita ini pemain ketoprak semua, akting semua. Ada yang bagian jadi orang baik, ada yang bagian jadi koruptor, ada yang bagian jadi tersangka, ada yang bagian jadi penegak hukum, ada yang bagian jadi pembela HAM, ada yang bagian nonton film sama mencipta lagu, dan ada pula yang bagian jadi Tuhan mengeluarkan faktwa-fatwa bagai ayat-ayat Tuhan. Lho lalu siapa yang bagian jadi presiden?.
 Tapi yang namanya akting nanti ya dibelakang pangung honornya tetap dibagi sama- rata. Lalu apakah penonton seperti kita ini dapat bagian, wah itu urusan nanti.
 Atau jangan-jangan aku danang yang nulis tulisan ini, kamu, dan kita semua juga termasuk dalam pemain ketoprak itu, jangan-jangan kita selama ini juga akting. Lalu jangan-jangan negara ini juga cuma pangung ketoprak plesetan.

Yogyakarta 04.01.2013 sore yang grimis

Tidak ada komentar:

Posting Komentar