Begitu kayanya negeri ini. Bagaimana tidak, sudah sangat
banyak uang negara yang dikorupsi oleh para birokrat mulai dari tingkat daerah
hingga tingkat pusat. Kalau kita melihat statistik kerugian negara akibat
korupsi, mungkin kita akan tercengang. Rakyat Indonesia ini telah dihisap
habis-habisan oleh para koruptor. Tapi dengan itu semua apa yang tejadi kasus
korupsi kian hari semkain marak dan uang rakyat yang dimaling juga sepertinya
tidak akan habis-habis. Hebat bukan rakyat negeri ini?.
Kalau kita analogikan dengan kasus sehari-hari. Korupsi itu
adalah kasus pencurian ketela di kebun seorang petani desa. Seperti lazimnya
sebuah kasus pencurian ketika si pencuri tertangkap pasti pemilik kebun tela
akan marah-marah. Pejabat pemerintahan yang korup adalah pencuri uang rakyat.
Rakyat itu banyak, sebenarnya rakyat yang mana yang uangnya dicuri oleh para
koruptor?. Rakyat kecil di desa-desa pelosok negeri ini, yang setiap bulan
rajin membayar pajak, dan listrik. Rakyat kecil yang jumlahnya sangat banyak.
Rakyat kecil pemilik sah kekayaan negeri ini, yang bahkan tak pernah diajak urun rembuk dalam mengelola kekayaannya
sendiri. Rakyat kecil yang bahkan tidak pernah marah karena uangnya dimaling para pejabat korup. Rakyat
kecil yang tetap akan membayar pajak, walaupun tidka pernah mendapat imbalan
kesejahteraan yang setimpal dari uang pajak mereka. Hebat bukan?
Entah logika ilmu pemerintahan apa yang digunakan para
pejabat di negeri ini. Entah teori demokrasi siapa yang digunakan untuk
membangun negeri ini. Suara-suara rakyat hanyalah angin lalu. Bukankah
demokrasi itu pemerintahan yang dikendalikan oleh rakyat kecil yang jumlahnya
adalah mayoritas di negeri ini.? Bukankah sebenarnya pemerintah adalah
pembantunya rakyat?.Rakyat adalah raja. Kondisi di negeri ini suda begitu molak-malik, pembantu jadi raja, raja
jadi pembantu. Biarkanlah itu semua terjadi.
Rakyat kecil negeri ini selalu bisa ngemong pemerintah, rakyat kita
tidak pernah marah, rakyat negeri ini tidak pernah menuntut macam-macam pada
rajanya. Hanya dengan secangkir kopi dan rokok klobot (kulit jagung) rakyat
kecil negeri ini bisa tetap hidup bahagia, tanpa pernah sadar telah ditipu oleh
rajanya, atau rakyat kecil kita memang sengaja tidak sadarkan diri.
Apakah rakyat kecil di desa-desa di Kalasan atau Pakem
pernah marah dan demo karena uangnya dicuri koruptor?. Mereka yang marah-marah,
demo dan lain sebagainya kebanyakan adalah orang-orang kota, yang mereka
sebenarnya selalu punya banyak alasan untuk tidak membayar pajak. Rakyat kecil
yang sebenarnya kekayaannya telah dicuri habis-habisan tetap diam, bahkan
mereka masih sangat antusias melihat pidato-pidato para pejabat yang mencuri
kekayaannya dengan senyam-senyum
banga. Rakyat kecil itu setiap hari menyaksikan para koruptor ditangkap oleh
KPK. Rakyat itu bahkan tetap antusias membayar pajak dan listrik untuk
menyuplai dana bagi para pejabat-pejabat negeri yang korup. Begitu mulianya
hati rakyat negeri ini, begitu kuatnya mental psikologis rakyat kita. Ibarat
keluarga, rakyat kecil adalah ibu dari pejabat-pejabat yang korup, lazimnya
hubungan ibu dan anak, bagaimanapun nakal dan bandelnya sang anak ibu akan
tetap menyayangi anaknya, dan tak segan-segan terus memberi sangu untuk sang anak.
Bagitu kuat dan mandirinya rakyat kecil di negeri ini.
pejabat-pejabat pemerintah pusat yang mengaku memiliki Indonesia, mau bertindak
apapun, mau korupsi sebesar apapun. Rakyat kecil akan tetap bergeliat sendirian
penuh semangat untuk mencarikan uang guna disetor pada “anak-anaknya” di pusat
untuk dikorupsi. Kita seharusnya bangga dengan rakyat kecil negeri ini. Tidak
ada rakyat di dunia ini yang sebaik dan sehebat rakyat Indonesia.
Keren Nang, selalu memberikan perspektif yang berbeda dalam mengahadapi fenomena negeri ini
BalasHapushahahah suwun. njenengan juga
BalasHapus