-

_dalam setiap kata yang kau baca,
selalu ada huruf yang hilang
kelak kau pasti akan kembali menemukanya
di sela kenangan penuh ilalang__


Kamis, 28 Maret 2013

INDONESIA DAN PERADABAN SANTET


Bangsa kita selalu dihadapkan dengan masalah yang unik, bangsa kita juga selalu memiliki respon yang unik terhadap setiap permasalahanya. Ini yang tidak banyak disadari oleh diri kita sendiri. Sebagian Intelektual, pengamat, mahasiswa dan segenap lapisan masyarakat menengah selalu mengunakan sudut pandang barat dengan rasionalisme, dan empirisme-positifistikya untuk menilai perkembangan bangsa kita. Isu paling terkini adalah polemik seputar  RUU Santet. Banyak pihak membaca bahwa dibahasnya uu ini adalah cerminan semakin tidak rasionalnya bangsa kita. Bangsa kita semakin 0hidup dalam ketidakjelasan. Bangsa kita adalah bangsa klenik. Kita lupa, bahwa dalam beberapa aspek kehidupan ini penuh dengan ketidak rasionalan, dengan ketidak rasionalan itulah sebenarnya kita dalam beberapa hal bisa benar-benar nyaman menjalani hidup. Coba bayangkan dalam skala kecil saja, orang bermain sepak bola, jika kita melihatnya mengunakan sudut pandang rasional, kenapa harus susah-susah 22 orang berebut satu bola, padahal di toko olahraga bola menumpuk. Karena tidak rasional sepak bola malah bisa menghibur kita.
Kalau kita ingin mengungkap berbagai ketidakjelasan kehidupan bangsa kita, banyak sekali. Hanya di Indonesia banjir diukur dengan skala kaki manusia. Banjir setinggi lutut orang dewasa, banjir setinggi mata kaki. Hanya di Indonesia dengan uang 1000 rupiah bisa mendapatkan fast food (nasi kucing). Hanya di Indonesia koruptor yang mencuri bermilyaran uang negara dihukum 4,5 tahun, sementara maling ayam bisa dihukum lebih berat, pun dengan dikeroyok masa terlebih dahulu. Hanya di Indonesia, seorang Presiden berani memasang gambarnya di tepi jalan memakai caping, membawa sabit, dan segepok padi  dibawahnya bertuliskan panen raya. Padahal para petani yang berjuang sendiri menanam padi. Hanya di Indonesia, kesedihan terhadap bencana banjir misalnya, hanya terjadi beberapa menit setelah kejadian, setelah itu jika ada wartawan dengan camera melipu tiba-tiba bisa senyum-senyum sambil melambaikan tangan. Inilah keunikan bangsa kita.
Masalah RUU santet, tidak bijak jika kita sepenuhnya menilai bahwa itu adalah cerminan ketidakjelasan bangsa kita. Secara positif kita bisa melihat, masalah RUU santet itu menunjukkan, kaidah ilmu hukum barat yang rasional, empiris, dan positifistik tidak bisa terus kita jadikan kiblat. Santet itu adalah wujud kemajuan peradaban manusia pada waktu itu, dan untuk menyelesaikan masalah ini ilmu hukum barat tidka mampu menjangkaunya.
Secara historis kapan santet mulai ada tidak ada sumber pastinya, yang jelas pada masa Airlangga dan Calonarang teknologi yang bernama santet telah ada. Kenapa santet disebut teknologi?. Filsafat teknologi mengajarkan bahwa, teknologi itu hakikatnya untuk mempermudah kehidupan manusia. Santet adalah teknologi delivery yang mempermudah pengiriman sesuatu pada masa itu, terlepas sesuatu itu buruk atau baik. Inti santet itu sebenarnya mengirim sesuatu pada seseorang, sangat baik sekali jika teknologi santet dimanfaatkan utnuk mengirim makanan dan barang berguna lainya.
Bangsa kita telah lebih maju, saat barat masih berkutat denga fikiran rasional dan empiris, kita telah berada di zaman peradaban supra-rasional. Kita telah bisa merasakan dan menundukkan getaran-getaran alam untuk membantu kepentingan kita. Dalam bahasa ahli kosmologi Fitchof Capra the hidden conection, santet itu lah wujud dari koneksi tersembunyi manusia dengan kekuatan alam.
Solusi masalah santet selayaknya kita juga mengali kaidah-kaidah hukum dari peradaban kita sendiri. Kita bisa membuka sejarah-sejarah bangsa kita lagi, bagaimana masa Airlangga, dan kerajaan-kerajaan dahulu mengatasi dampak buruk santet, dengan modifikasi dan penyesuain dalam beberapa hal. Entah prosedurnya seperti apa, kita rakyat kecil hanya bisa berharap masalah ini terselesaikan dengan baik, tanpa harus menghina bangsa sendiri sebagai banga klenik.

danang, yogyakarta 20-3-13.. karena bolos kuliah 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar