Sebelumnya, nama beliau cukup populer dikalangan mahasiswa
filsafat ugm. Tetapi secara pasti kapan saya mendengar nama beliau saya agak
lupa. . Bayangan saya tentang sosok
profesor yang satu ini tak terarah, melayang-layang. Seingat saya, pertama saya
mendengar nama beliau di puskesmas kecamatan melati sleman. Waktu itu saya
mencari surat keterangan dokter untuk kelengkapan syarat menjadi mahasiswa ugm.
Dokter yang memeriksa saya masih cukup muda, dokter itu bertanya pada saya
“ambil jurusan apa mas?” saya menjawab “ filsafat” lalu dokter itu berkata lagi
“ Ooo nanti kamu akan jadi muritnya pak damardjati supadjar” lalu saya menjawab
“ o iya, ya saya malah belum tahu beliau siapa, hehe”. Sejak kejadian itulah
nama profesor ini sering melintas dalam kehidupan sehari-hari saya. Dosen-dosen
saya sering bercerita tentang pak damardjati. Tetapi ternyata pak damardjati
sudah pensiun, tetapi berdasarkan keterangan dari beberap teman saya pak
damardjati masih sesekali mengajar mahasiswa S3 Ilmu filsafat.
Beberapa teman saya yang sudah pernah mendengar ceramah
beliau sering bercerita, bahwa pak damardjati itu ngomongnya sudah kayak dewa.
Mengangkasa. Setiap katanya yang keluar adalah diksi paling dalam dan pas dari
sejuta diksi yang lain. Keterangan teman-teman saya itu semakin membuat
bayangan saya tentang pak damadjati semakin kabur. Sebenarnya seperti apa sosok
beliau? Itulah pertanyaan saya yang selalu saya rawat. Jangan-jangan kita yang
menganggap omongan beliau terlalu melangit karena kita selama ini nyaman dengan
kemandekan kita dalam kehidupan ini. kita yang tak pernah berusaha
sedikitpun untuk sekadar mbrangkang melihat kehidupan ini benar-benar
sebagai sesuatu yang hidup. Entahlah itu hanyalah dugaan-dugaan saya yang tak
penting.
Saya senang sekaligus agak minder ketika ada seorang teman
yang mengajak saya berkunjung ke rumah pak damardjati. Hari itu jumat 1 maret
2013. setelah kuliah kwarganegaraan saya dan beberapa teman merencanakan akan
berkunjung ke rumah pak damardjati. Kebetulan salah satu teman saya sudah
sering berkunjung ke rumah beliau, sejak sebelum menjadi mahasiswa ugm. saya
bersama tiga orang teman saya berangkat ke rumah beliau setelah ashar. Dua
teman saya sampai di rumah pak damardjati duluan. Sementara saya dan satu teman
mengalami beberapa kendala sehingga agak telat tiba di rumah pak damardjati.
Sore itu langit mendung. Saya tiba dirumah sederhana
beliau. Rumah dengan beberapa pohon yang sepertinya dibiarkan tumbuh, menurut
kehendak pohon itu sendiri. Kami duduk bersama pak damardjati di teras rumah
beliau. Saya sebenarnya tidak habis fikir, ini rumah sangat sederhana. Tapi
itulah kesan pertama saya bertemu dengan beliau, sosok yang sangat sederhana.
Mengenakan baju kemeja batik dan mengunakan kopyah hitam ala santri jawa. Sekarang
penasaran saya tentang pak damardjati agak sedikit terjawab.
Senja itu kami hanya berani mendengar pak damar yang
berbicara. Sesekali kami tertawa dengan lelucon beliau. Dari kami tidak ada yanng
berani bertanya jika tidak ditanya pak damar. Senja itu saya melihat beliau
ternyata adalah tetap manusia biasa, yang bicara seperti layaknya manusia. Yang
membedakan adalah bahwa beliau bisa dan setia memaknai setiap sesi kehidupan di
dunia ini. sementara saya hanyalah orang yang benar-benar numpang lewat di
dunia ini, tak memberi makna apapun juga
tak mencari makna apapaun.
Banyak sekali nasehat-nasehat beliau tentang kehidupan yang
saya dan teman-teman saya dapatkan. Senja itu beliau seperti socrates yang
sedang mendadar para murit-muritnya di alun-alun kota anthena. Senja semakin
larut, di rumah yang sederhana itu saya dan teman-teman benar-benar diajak
“hidup kembali”. Suara adzan mulai terdengar dibawa daun-daun pohon di depan
rumah pak damardjati. Dengan bahasa jawanya yang halus pak damardjati
mengakhiri obrolan senja diteras rumah beliau. Magrib mulai masuk bersama malam
dan siang dan mataharinya mulai pergi. Saya dan teman-teman lalu beranjak
meninggalkan rumah pak damardjati, sambil terus menginga-ingat nasehat-nasehat
beliau, agar saya terurama, tidak menjadi orang-orang yang lalai. Andaikan saya
lalai tuhan akan mengampuni saya, karena kelemahan saya.
Saya terimakasih kepada bapak-dan ibu saya di rumah. Karena
dengan alasan apapun saya tidak diijinkan untuk meninggalkan jogja selepas SMA.
Dan akhir-akhir ini baru terasa bahwa memang sepertinya saya harus tetap di
jogja. Gustiallah menuurnkan beliau (bapak-ibu) untuk mbabat alas agar
saya semakin bisa melihat sesuatu didepan saya.
yk3-.3-13
Tidak ada komentar:
Posting Komentar