-

_dalam setiap kata yang kau baca,
selalu ada huruf yang hilang
kelak kau pasti akan kembali menemukanya
di sela kenangan penuh ilalang__


Minggu, 03 Maret 2013

SENJA BERSAMA PAK DAMARDJATI SUPADJAR

Sebelumnya, nama beliau cukup populer dikalangan mahasiswa filsafat ugm. Tetapi secara pasti kapan saya mendengar nama beliau saya agak lupa.  . Bayangan saya tentang sosok profesor yang satu ini tak terarah, melayang-layang. Seingat saya, pertama saya mendengar nama beliau di puskesmas kecamatan melati sleman. Waktu itu saya mencari surat keterangan dokter untuk kelengkapan syarat menjadi mahasiswa ugm. Dokter yang memeriksa saya masih cukup muda, dokter itu bertanya pada saya “ambil jurusan apa mas?” saya menjawab “ filsafat” lalu dokter itu berkata lagi “ Ooo nanti kamu akan jadi muritnya pak damardjati supadjar” lalu saya menjawab “ o iya, ya saya malah belum tahu beliau siapa, hehe”. Sejak kejadian itulah nama profesor ini sering melintas dalam kehidupan sehari-hari saya. Dosen-dosen saya sering bercerita tentang pak damardjati. Tetapi ternyata pak damardjati sudah pensiun, tetapi berdasarkan keterangan dari beberap teman saya pak damardjati masih sesekali mengajar mahasiswa S3 Ilmu filsafat.
Beberapa teman saya yang sudah pernah mendengar ceramah beliau sering bercerita, bahwa pak damardjati itu ngomongnya sudah kayak dewa. Mengangkasa. Setiap katanya yang keluar adalah diksi paling dalam dan pas dari sejuta diksi yang lain. Keterangan teman-teman saya itu semakin membuat bayangan saya tentang pak damadjati semakin kabur. Sebenarnya seperti apa sosok beliau? Itulah pertanyaan saya yang selalu saya rawat. Jangan-jangan kita yang menganggap omongan beliau terlalu melangit karena kita selama ini nyaman dengan kemandekan kita dalam kehidupan ini. kita yang tak pernah berusaha sedikitpun untuk sekadar mbrangkang melihat kehidupan ini benar-benar sebagai sesuatu yang hidup. Entahlah itu hanyalah dugaan-dugaan saya yang tak penting.
Saya senang sekaligus agak minder ketika ada seorang teman yang mengajak saya berkunjung ke rumah pak damardjati. Hari itu jumat 1 maret 2013. setelah kuliah kwarganegaraan saya dan beberapa teman merencanakan akan berkunjung ke rumah pak damardjati. Kebetulan salah satu teman saya sudah sering berkunjung ke rumah beliau, sejak sebelum menjadi mahasiswa ugm. saya bersama tiga orang teman saya berangkat ke rumah beliau setelah ashar. Dua teman saya sampai di rumah pak damardjati duluan. Sementara saya dan satu teman mengalami beberapa kendala sehingga agak telat tiba di rumah pak damardjati.
Sore itu langit mendung. Saya tiba dirumah sederhana beliau. Rumah dengan beberapa pohon yang sepertinya dibiarkan tumbuh, menurut kehendak pohon itu sendiri. Kami duduk bersama pak damardjati di teras rumah beliau. Saya sebenarnya tidak habis fikir, ini rumah sangat sederhana. Tapi itulah kesan pertama saya bertemu dengan beliau, sosok yang sangat sederhana. Mengenakan baju kemeja batik dan mengunakan kopyah hitam ala santri jawa. Sekarang penasaran saya tentang pak damardjati agak sedikit terjawab.
Senja itu kami hanya berani mendengar pak damar yang berbicara. Sesekali kami tertawa dengan lelucon beliau. Dari kami tidak ada yanng berani bertanya jika tidak ditanya pak damar. Senja itu saya melihat beliau ternyata adalah tetap manusia biasa, yang bicara seperti layaknya manusia. Yang membedakan adalah bahwa beliau bisa dan setia memaknai setiap sesi kehidupan di dunia ini. sementara saya hanyalah orang yang benar-benar numpang lewat di dunia ini,  tak memberi makna apapun juga tak mencari makna apapaun.
Banyak sekali nasehat-nasehat beliau tentang kehidupan yang saya dan teman-teman saya dapatkan. Senja itu beliau seperti socrates yang sedang mendadar para murit-muritnya di alun-alun kota anthena. Senja semakin larut, di rumah yang sederhana itu saya dan teman-teman benar-benar diajak “hidup kembali”. Suara adzan mulai terdengar dibawa daun-daun pohon di depan rumah pak damardjati. Dengan bahasa jawanya yang halus pak damardjati mengakhiri obrolan senja diteras rumah beliau. Magrib mulai masuk bersama malam dan siang dan mataharinya mulai pergi. Saya dan teman-teman lalu beranjak meninggalkan rumah pak damardjati, sambil terus menginga-ingat nasehat-nasehat beliau, agar saya terurama, tidak menjadi orang-orang yang lalai. Andaikan saya lalai tuhan akan mengampuni saya, karena kelemahan saya.
Saya terimakasih kepada bapak-dan ibu saya di rumah. Karena dengan alasan apapun saya tidak diijinkan untuk meninggalkan jogja selepas SMA. Dan akhir-akhir ini baru terasa bahwa memang sepertinya saya harus tetap di jogja. Gustiallah menuurnkan beliau (bapak-ibu) untuk mbabat alas agar saya semakin bisa melihat sesuatu didepan saya.

yk3-.3-13

Tidak ada komentar:

Posting Komentar