2014 tahun yang ditunggu-tunggu para politisi. Perubahan stuktur
pemerintahan dan politik Indonesia akan ditentukan pada tahun tersebut.
Berbagai upaya dari partai politik dengan para politisinya, untuk menjadikan
2014 sebagai tahun kejayaan partainya mulai terasa akhir-akhir ini.
partai-partai politik mulai berbenah menyiapkan hajatan besar bagi mereka,
yaitu pemilu presiden. Sementara itu bagaimana dengan rakyat kecil kita?,
apakah rakyat juga sedang menyusun strategi-strategi untuk memperebutkan Indonesia
sebagai mana yang dilakukan partai politik?. Ataukah tetap seperti biasanya,
sementara para orang nduwuran umyek
memperebutkan Indonesia, rakyat tetap bergeliat sendiri dengan kehidupanya.
Tetap ke pasar setiap hari, tetap narik
becak pagi hingga malam menjelang, tetap sibuk menyusun strategi agar dengan
penghasilan sehari 15.000 bisa tetap makan, satu keluarga.
Rasanya semakin tidak ada hubunganya geger
politik para pemimpin negeri ini dengan kehidupan rakyat dibawah. Para politisi
sibuk dengan urusanya sendiri, rakyat kecil kita juga semakin tak ada yang ngurus. Rakyat hanya laku ketika
kampanye setelah itu rakyat adalah anak ayam kehilangan induknya. Tetapi rakyat
kita istimewa, walaupun selalu ditinggal induknya, mereka tetap bisa menjalani
kehidupan. Malah kadang keberadaan induknya hanya merepotkan kehidupan rakyat.
Rakyat kecil kita tidak pernah berkepentingan untuk memperebutkan Indonesia,
seperti para politisi. Rakyat juga tidak pernah dengan sunguh-sunguh berharap
pada para politisi untuk mensejahterakan mereka. Harapan rakyat hanya pada
dirinya sendiri. Makan atau tidak makan, mereka pada esok hari tergantung
mereka hari ini kerja atau tidak, bukan tergantung siapa dan dari partai apa
presidenya.
Tanpa menggunakan data statistik pun kita bisa menyimpulkan bahwa
akhir-akhir ini budaya politik dan pemerintahan kita sedang kacau. Mulai dari
kasus Hambalang yang semakin menyeret banyak politisi, sampai kasus kuota impor
sapi. Ditengah semakin banyaknya pemimpin dari partai politik yang menghianati
komitmen mereka sendiri. Kita membutuhkan pemimpin alternatif, yang menentukan
masa depan rakyat mau dibawa kemana. Seperti Adipati Karna kesatria yang suci
hatinya dan setia pada kebaikan dalam lingkaran kejahatan para Kurawa. Adipati Karna
yang lahir dari “jalur alternatif”, yaitu kuping ibundanya Kunthi Talibrata.
Tetapi bukan Adipati karna yang menahan niat suci hatinya untuk membela
kebaikan hanya gara-gara dia berada di lingkungan kejahatan Kurawa. Bukan itu,
Adipati Karna yang kita tunggu untuk bangsa kita adalah adipati Karna yang dengan
tegas menuruti kemauan niat suci hatinya untuk membela kebaikan ditengah
semakin maraknya kejahatan-kejahatan politik. Adipati Karna kita adalah
pemimpin yang setia memperjungkan kepentingan rakyat, Adipati kita adalah juga
seorang pembantu rakyat, pesuruhnya rakyat.
yogya.maret.2013
Tidak ada komentar:
Posting Komentar