Akhir-akhir ini sering terjadi konflik di indonesia yang
ditengarai sebabnya adalah pertentangan masalah Sara (Suku, Antar Golongan,
Ras, Agama.) Tetapi ada sesuatu yang aneh, berbagai forum ruang publik seperti
diskusi, seminar, kompetisi dan lain-lain, selalu memberikan batasan untuk
tidak membahas masalah sara. Entah kapan tradisi pembatasan masalah sara itu
selalu dicantumkan dalam berbagai kegiatan.
Pengamatan saya,
pembatasan untuk tidak menyingung masalah sara tidak pernah ada klarifikasi
yang jelas. Tidak ada pejelasan lebih lanjut mengenai sebenarnya apa itu sara?,
dan pembatasan sara itu yang seperti apa?. Sebenarnya ini menyangkut kebiasaan
buruk dalam kehidupan kita, kita sering mengunakan banyak kata-kata dalam
berinteraksi tanpa pernah menjelaskan dahulu sebenarnya arti kata itu apa.
Asumsi kita bahwa semua orang yang berinteraksi dengan kita pemahamanya tentang
kata yang kita gunakan sama dengan kita. Akibatnya kita sering bertengkar
sengit dengan orang lain, gara-gara sesuatu yang sebenarnya sangat sepele, tapi
karena pemahaman yang keliru yang sepele jadi terasa rumit.
Bagaimana kita mau bersikap menghargai sara orang lain dan terhindar
dari konflik sara jika pemahaman tentang sara sendiri sangat minim. Pemahan
kita tentang sara harus semakin kita tambah, rasanya selama ini kita hanya
menjauhi apa yang sebetulnya belum kita fahami secara mendalam. Jangan-jangan
banyak dari kita yang belum tahu sara adalah akronim dari (Suku, Antar
Golongan, Ras, Agama.). Pemahaman yang mendalam tentang masalah sara inilah
yang akan membuat kita bisa hidup rukun dan toleran di tengah pluralitas sara. Saya kira perlu kita menghapus batasan untuk
tidak membahas masalah sara dalam berbagai kegiatan dan ruang publik.
YOGYA AKHIR 2012
YOGYA AKHIR 2012
Keren sob
BalasHapuswww.kiostiket.com