*Tanggapan
dan terimkasih saya untuk Pak Goenawan Muahammad atas tulisnya RELIGIO. Ini hanya tulisan kecil saya untuk tulisan pak gun yang besar, terimkasih sekali lagi pada pak gun, juga pada temann saya yang mengenalkan saya dengan pak gun beberapa hari yang lalu.
Terimkasih
untuk pak gun, atas tulisanya religio. Ketika akhir-akhir ini benar saya dibuat
kecewa oleh orang-orang yang dalam bayangan saya mereka pemilik tuhan paling
sah. Saya akrab dengan mereka, tetapi keakrabahan saya ternyata hanya semacam
keakraban bayangan. Indah cintra yang di munculkan benatuknya, tapi hitam
bayangan yang dihasilkanya. Selama ini saya terpesona dengan bentuk. Teman,
teman sholeh yang menawarkan agama sebagai puncak kedamaian sufisme, atau
sistem paling pas untuk menjaga keberagaman. Agama yang merangkul semua
kalangan. Setelah saya jenuh dengan agama yang hanya sesosok polisi moral yang
meneriaki apa saja tentang kemungkaran. Kehadiran teman-teman saya yang
bersuara tentang dosa yang enteng, tentang tuhan yang maha pemaham, dan bahkan
maha bercanda. Tapi saya kembali dibuat mereka kecewa, itulah kebodohan saya
yang gampang terpesona dengan orang-orang disekitar saya. Sementara saya
melanggar setiap sepi yang selalu menghampiri saya mengajak saya menemukan
kebebasan yang jernih. Sekali lagi itulah kebodohan saya.
Mereka
ternyata sama saja, yang menyuarakan agama sebagai puncak sufisme yang katanya
menghargai pluralitas apa saja, termasuk menghargai keberadaan dosa. Mereka
sama saja. Fundamentalisme, sufisme, pluralisme dan sekandang isme-isme lain
tentang agama ternyata hanyalah suara monster yang tak urung membuat saya
kecewa berkali-kali. Stelah saya lihat bayangan hitam mereka yang berteriak
tentang pluralisme, atau bahkan suvisme. Setiap malam mereka bersengama dengan
kekasihnya, sambil terus bersaksi bahwa agama adalah kelembutan sufisme, dna
tuhan maha faham. Aku tak habis fikir, suara kekasih mereka membuat orgasme
tanpa henti, dan tuhan aku tak tahu apakah tak kecewa dengan mereka. Teman yang
pendiam, karena kata agama banyak bicara itu tak baik, tetapi ketika malam tiba
mereka menjelma monster yang terus berbicara sendu dengan kekasihnya hingga
subuh menjelang. Sampai celana dalam mereka basah kuyup oleh orgasme
berkali-kali. Sementara kekasih disebarang sana sedang mendengar suara
laki-laki nya sambil menekuk lutut bersila membaca kitab suci. Permainan
apalagi ini. Esok paginya mereka bertemu saya dengan muka pendiam, hanya senyum
simpul, karena katanya senyum itu sedekah. Saya semakin muak dengan macam-macam
basa-basi itu, basa-basi tak lagi membuat saya bahagia( kata pram).
Seruan lucretius tentang kesalihan yang
pak gun tulis sedikit membuat saya lega
“ Maka tak ada gunanya
bersikap salih seperti yang dilembagakan agama: “Kesalihan bukan karena kita
sering menundukkan kepala yang bercadar ke arah batu-batu,” demikian tertulis
dalam De Rorum
Natura. “Bukan karena kita menghampiri semua altar, bukan dengan
bersujud di kuil para dewa, bukan pula karena kita membasahi altar dengan darah
hewan korban”.
Kesalihan adalah kesanggupan kita
menatap semua hal “dengan pikiran yang damai”.Pikiran yang damai itu — dengan
menghalau “teror dan kemuraman jiwa”
Saya sudah muak dengan
segala bentuk pura-pura. Pak gun. Saya belum bisa merumuskan kesalihan untuk
diri saya sendiri. Sebab bagi saya dosa adalah kesalihan yang lebih agung
daripada pura-pura. Sebotol bir yang hampir setiap malam mengalir di
tenggorokan saya adalah perlawanan saya pada teman-teman dan mereka yang terus
saja menyebut basa-basi dan pura-pura sebagai kesalihan. Perlawanan pada mereka
yang tak berani berkata jorok, pada mereka yang pendiam di depan masa, tapi
ketika malam tiba di kamar dua kali empat bersengama dengan kekasihnya melalui
telpon gengam. Sementara sesegera mungkin bicara tentang gama esok harinya.
Kesalihan bagi saya
adalah saya dan teman teman yang bersengama bareng di depan layar yang sedang
memutar adegan bersetubuh, sambil menegak sebotol bali hai. Lalu esok hari kami
tak lagi kuasa berkata tentang agama, apalagi tentang tuhan. Karena memang kami
tak punya kuasa atas hal itu. Dan semoga tak akan pernah punya kuasa. Kuasa
kami hanya tertawa atas kesalehan kami yang lucu.
Betul pak gun agama alah
monster, bertopeng . saya benar-benar sudah muak dengan basa-basi. Juga dengan
suvisme, pluralisme atau isme isme lain, itu hanya sampah topeng-topeng
kebejatan manusia yang malu bersengama di tengah jalan raya, sambil menegak
sebotol vodka. Entah nanti saya seperti voltaire yang tak kunjung menemukan
kuil-kuil dama para aulia atau bagaimanalah, semoga saya tak memedulikanya pak
gun.
Sudah dulu ya pak gun.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar