-

_dalam setiap kata yang kau baca,
selalu ada huruf yang hilang
kelak kau pasti akan kembali menemukanya
di sela kenangan penuh ilalang__


Senin, 20 Januari 2014

AGAMA ADALAH MONSTER, SEPERTI JUGA SAYA*

*Tanggapan dan terimkasih saya untuk Pak Goenawan Muahammad atas tulisnya RELIGIO. Ini hanya tulisan kecil saya untuk tulisan pak gun yang besar, terimkasih sekali lagi pada pak gun, juga pada temann saya yang mengenalkan saya dengan pak gun beberapa hari yang lalu. 


Terimkasih untuk pak gun, atas tulisanya religio. Ketika akhir-akhir ini benar saya dibuat kecewa oleh orang-orang yang dalam bayangan saya mereka pemilik tuhan paling sah. Saya akrab dengan mereka, tetapi keakrabahan saya ternyata hanya semacam keakraban bayangan. Indah cintra yang di munculkan benatuknya, tapi hitam bayangan yang dihasilkanya. Selama ini saya terpesona dengan bentuk. Teman, teman sholeh yang menawarkan agama sebagai puncak kedamaian sufisme, atau sistem paling pas untuk menjaga keberagaman. Agama yang merangkul semua kalangan. Setelah saya jenuh dengan agama yang hanya sesosok polisi moral yang meneriaki apa saja tentang kemungkaran. Kehadiran teman-teman saya yang bersuara tentang dosa yang enteng, tentang tuhan yang maha pemaham, dan bahkan maha bercanda. Tapi saya kembali dibuat mereka kecewa, itulah kebodohan saya yang gampang terpesona dengan orang-orang disekitar saya. Sementara saya melanggar setiap sepi yang selalu menghampiri saya mengajak saya menemukan kebebasan yang jernih. Sekali lagi itulah kebodohan saya.
Mereka ternyata sama saja, yang menyuarakan agama sebagai puncak sufisme yang katanya menghargai pluralitas apa saja, termasuk menghargai keberadaan dosa. Mereka sama saja. Fundamentalisme, sufisme, pluralisme dan sekandang isme-isme lain tentang agama ternyata hanyalah suara monster yang tak urung membuat saya kecewa berkali-kali. Stelah saya lihat bayangan hitam mereka yang berteriak tentang pluralisme, atau bahkan suvisme. Setiap malam mereka bersengama dengan kekasihnya, sambil terus bersaksi bahwa agama adalah kelembutan sufisme, dna tuhan maha faham. Aku tak habis fikir, suara kekasih mereka membuat orgasme tanpa henti, dan tuhan aku tak tahu apakah tak kecewa dengan mereka. Teman yang pendiam, karena kata agama banyak bicara itu tak baik, tetapi ketika malam tiba mereka menjelma monster yang terus berbicara sendu dengan kekasihnya hingga subuh menjelang. Sampai celana dalam mereka basah kuyup oleh orgasme berkali-kali. Sementara kekasih disebarang sana sedang mendengar suara laki-laki nya sambil menekuk lutut bersila membaca kitab suci. Permainan apalagi ini. Esok paginya mereka bertemu saya dengan muka pendiam, hanya senyum simpul, karena katanya senyum itu sedekah. Saya semakin muak dengan macam-macam basa-basi itu, basa-basi tak lagi membuat saya bahagia( kata pram).
Seruan lucretius tentang kesalihan yang pak gun tulis sedikit membuat saya lega
“ Maka tak ada gunanya bersikap salih seperti yang dilembagakan agama: “Kesalihan bukan karena kita sering menundukkan kepala yang bercadar ke arah batu-batu,” demikian tertulis dalam De Rorum Natura. “Bukan karena kita menghampiri semua altar, bukan dengan bersujud di kuil para dewa, bukan pula karena kita membasahi altar dengan darah hewan korban”.
Kesalihan adalah kesanggupan kita menatap semua hal “dengan pikiran yang damai”.Pikiran yang damai itu — dengan menghalau “teror dan kemuraman jiwa”
Saya sudah muak dengan segala bentuk pura-pura. Pak gun. Saya belum bisa merumuskan kesalihan untuk diri saya sendiri. Sebab bagi saya dosa adalah kesalihan yang lebih agung daripada pura-pura. Sebotol bir yang hampir setiap malam mengalir di tenggorokan saya adalah perlawanan saya pada teman-teman dan mereka yang terus saja menyebut basa-basi dan pura-pura sebagai kesalihan. Perlawanan pada mereka yang tak berani berkata jorok, pada mereka yang pendiam di depan masa, tapi ketika malam tiba di kamar dua kali empat bersengama dengan kekasihnya melalui telpon gengam. Sementara sesegera mungkin bicara tentang gama esok harinya.
Kesalihan bagi saya adalah saya dan teman teman yang bersengama bareng di depan layar yang sedang memutar adegan bersetubuh, sambil menegak sebotol bali hai. Lalu esok hari kami tak lagi kuasa berkata tentang agama, apalagi tentang tuhan. Karena memang kami tak punya kuasa atas hal itu. Dan semoga tak akan pernah punya kuasa. Kuasa kami hanya tertawa atas kesalehan kami yang lucu.
Betul pak gun agama alah monster, bertopeng . saya benar-benar sudah muak dengan basa-basi. Juga dengan suvisme, pluralisme atau isme isme lain, itu hanya sampah topeng-topeng kebejatan manusia yang malu bersengama di tengah jalan raya, sambil menegak sebotol vodka. Entah nanti saya seperti voltaire yang tak kunjung menemukan kuil-kuil dama para aulia atau bagaimanalah, semoga saya tak memedulikanya pak gun.
Sudah dulu ya pak gun. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar