-

_dalam setiap kata yang kau baca,
selalu ada huruf yang hilang
kelak kau pasti akan kembali menemukanya
di sela kenangan penuh ilalang__


Minggu, 19 Januari 2014

POLITIK TAI KABEH !!!



tulisan saya   dalam antologi buku esai Merah, FISIP UNY


“ kekuasaan yang telah semakin besar dan kuat tidak lagi memfikirkan kebudayaan” ....padahal kebudayaan adalah kehidupan masyarakat. Kebudayaan adalah buatanya orang banyak kekuasaan pada kenyataanya (di negeri kita) adalah semata-mata untuk mengatur sumber-sumber pendapatan

(refleksi Umar Kayam di atas pembaringan sebelum wafat)
  1. Pengantar
            Dalam sebuah forum yang di hadiri oleh para pakar pemerintahan, politisi, dan kaum intelektual. Mereka duduk dan asik berbincang tentang masalah kemiskinan dan kesejahteraan di negeri ini yang tak kunjung terselesaikan. Salah seorang dari mereka berkata “ pemerintah sudah berkerja maksimal dengan program-programnya, tetapi memang pribadi masyarakat kita adalah masyarakat malas. Dalam dunia kebudayaan jawa ada sebuah adagium populer Alon-alon waton kelakon, mangan ora mangan kumpul. Dalih macam apa yang kita gunakan untuk menyanggah adagium tersebut yang saya kira tidak hanya meresap dalam psikologi budaya manusia jawa, tetapi juga budaya nasional kita. Lalu haruskah kita pasrah pada opini sebagian elite bahwa memang bangsa kita adalah bangsa malas.
            Berangkat dari kenyataan itu, entah rasa pesimis macam apa yang saya derita. Saya tak pernah percaya penuh, bahwa berbagai forum seminar dan sejenisnya bisa benar-benar merubah keadaan. Sebuah forum dimana setiap orang berbicara, misal tentang kemiskinan, kesejahteraan dan lain-lain. Rasa pesimis yang saya derita bukan tanpa dasar.
Coba bayangkan bagaimana mungkin sebuah seminar tenatng penyelesaian problem kemiskinan yang berbicara seorang profesor, doktor yang jelas tak pernah ikut merasakan beratnya menahan lapar satu hari saja. Lalu diantara meraka berkata rakyat kita rakyat yag malas. Bagaimana bisa rakyat kita dianggap malas sedang bisa kita amati dengan jelas sejak jam tiga pagi para pedagang di pasar-pasar tradisional sudah menata daganganya. Beberapa perempuan di bawah terik matahari, membawa beban lebih dari sepuluh kilo di pundak mereka naik dan turun tangga pasar Bringharjo. Inikah yang mereka sebut sebagai bentuk kemalasan. Jika memang ini yang disebut kemalasan, lalu apa namanya pejabat yang selalu bangun setelah ayam-ayam sudah berkeliaran kemana-mana. Duduk santai di kursi malas sambil membaca koran, minum teh, lalu berangkat mengisi seminar dan berbicara tentang rakyat kita yang malas.
            Gambaran tentang kondisi masyarakat dan bangsa kita yang terus saja mengumandangkan suluk goro-goro. Bumi gonjang mangklung, kang langit, samudra kocak sumamburat yayah kinebur banyune hoyag. Suluk, (jenis puisi jawa) pertanda rusaknya segala atuan-aturan duniawi  itu terus berkumandang tanpa henti, jelas yang kita tunggu-tunggu adalah keluarnya Ki Lurah Semar dan anak-anaknya untuk memberikan nasehat tentang sosok negarawan sejati yang ditungu-tunggu.
Kondisi tersebut dengan jelas digambarkan oleh Prof.Soejadmoko. “ Telah terjadi disintegrasi serta kekacauan yang tak terhingga dan dengan demikian bungkamlah para seniman, melancarkan protespun tak sanggup, korup pegawainya, lesu kaum tuanya, dan sinis kaum mudanya. Demikianlah hubungan antara krisis kepemimpinan dan krisis umum yang begitu pedih dirasakan oleh kita semua”. (Soedjatmoko,1996:12)
            Sumber kekacaun itu adalah kelirunya orientasi perjuangan para pejabat-pejabat kita. Tujuan-tujuan politis memperebutkan harta dan kekuasaan masih menjadi panglima. Perjuangan politis seharusnya sudah selelsai sejak kekuasaan penjajah Belanda telah berhasil kita tumbangkan. Tuntutan zaman sekarang adalah suatu tuntutan yang memerlukan kekuatan kreatif. Dan disinilah sumber krisis kita.(Sudjatmoko,1996:11)

  1. Mencari Negarawan  
Negara ini tidak dibuat sekali jadi. Kekuasaan dibangun untuk dapat mensejahterakan rakyat, namun yang terjadi kekusaan diperebutkan untuk dapat mengatur sumber-sumber pendapatan, sehingga terjadi royokan, rebutan. Kalau sudah rebutan maka yang brutal yang menang. Ini yang harus kita waspadai, harus kita jaga agar kekuasaan itu bisa diatur bersama-sama dengan baik.  some theories on how to organize the society gombal kabeh, apalagi political science kuwi tai kabeh. Kekuasaan yang telah semakin besar dan kuat tidak lagi memfikirkan kebudayaan padahal kebudayaan adalah kehidupan masyarakat. Kebudayaan adalah buatanya orang banyak kekuasaan pada kenyataanya (di negeri kita) adalah semata-mata untuk mengatur sumber-sumber pendapatan. (refleksi Umar Kayam diatas pembaringan sebelum wafat).
Jika benar-benar kita ingin merubah strategi perjuangan politik yang hanya berorientasi materi, jalanya adalah perjuangan kebudayaan. Politik yang berbudaya. Politik yang tidak melahirkan para pemimpin, tetapi negarawan. Dalam diri seorang politikus belum tentu bersemai pribadi negarawan, tetapi dalam diri negarawan bisa dipastikan memepunyai kapasistas kepemimpinan yang mumpuni.
Coba kita lihat saja dari segi bahasa. Pemimpin adalah orang yang berkemampuan mengorganisir. Kata yang tak bermakna apapun. Kata yang netral tak mempunyai muatan makna baik ataupun buruk. Maka tidak mengherankan jika sosok pemimpin bisa saja berbuat baik pun juga bisa berbuat buruk. Pemimpin adalah orang yang memiliki kuasa, maka tak heran jika banyak pemimpin yang memiliki kuasa mengatur sumber-sumber pendapatan untuk memperkaya diri.
Jika dalam keadaan seperti sekarang yang kita cari adalah pemimpin, maka setiap orang potensial jadi pemimpin. Filsafat politik Thomas Hobbes, merumuskan bahwa kodrat manusia adalah sama secara fisik. Kondisi awal manusia adalah kondisi kelangkaan sumber daya yang mengakibatkan setiap orang berlomba-lomba mengumpulkan sumber daya, terutama materi untuk mencapai kebahagiaanya. Hasilnya seperti di negara kita sekarang, kekacauan, perang yang tak henti-hentinya untuk mengakumulasikan sumber daya sebanyak mungkin. Kondisi ini diperparah dengan orientasi perjuangan politik kita yang melupakan aspek-aspek kebudayaan, sebagai simbul pencerahan kehidupan manusia.
Pemimpin berbeda dengan sosok negarawan. Negarawan adalah gabungan pribadi intelektual yang benar-benar memahami akar kebudayaan yang menjadi dasar hidup bangsanya. Negara adalah konsep filosofis geografis, dalam kata negara ada pemahaman, tentang penjaminan hak atas harta,keamanan, dan kesejahteraan hidup. Negara juga menunjuk pada orientasi geografis suatu tempat. Maka negarawan adalah sosok yang benar-benar memahami dasar-dasar kehidupan manusia yang bisa digunakan utnuk melakukan penjaminan harta benda, kemanan dan kesejahteraan.
Jiwa seorang negarawan adalah jiwa intelektual. Mereka adalah agen sosial yang mampu mentransendensikan diri dari kepentingan material karena kapasitas rasionalitas dan otonomi relatifnya. Ketika berbagai ketimpangan struktural terjadi begitu jelas. goro-goro yang tak kunjung selesai, Ki Lurah Semar yang kian lama tak kunjung keluar. Max weber percaya bahwa dalam kondisi seperti itu, yang dibutuhkan bukanlah seorang pemimpin populer, namum seorang philosopherking yang memerintah lewat pemilihan secara demokratis.  (Gaus AF,2003:25)
Intelektual saja tentu tidak cukup. Negarawan haruslah orang yang benar-benar mencintai rakyatnya dan faham dengan kondisi mereka. Tak ada jalan lain untuk mencintai rakyat dan memahami kondisi mereka, selain jalan kebudayaan. Negarawan bukanlah jalan instan, seperti halnya politikus partai. Seorang negarawan benar-benar dibentuk oleh berbagai realitas budaya dalam kehidupan manusia di negaranya. Negarawan adalah sosok yang benar-benar tahu susahnya menanam padi hingga panen, memanen padi dengan keringat bercucuran. Hati negarawan tak akan mampu melihat itu semua. Hatinya akan luluh bagai bongkahan es yang disengat matahari, maka dia tidak akan berani memajang foto dirinya dipinggir jalan sambil memebawa segepok padi, lalu di sampingnya terpampang tulisan panen raya.
Tidak seperti sekarang calon pemimpin kita yang jelas tak pernah ikut menanam padi di pinggiran daerah Sleman. Tak ikut juga memebersihkan rumput-rumput dan hama liar. Tiba-tiba saja berpose memegang segepok padi, dan berteriak panen raya. Segala aturan berfikir logis, dan berbagai jenis kaidah rasionalitas dalam berfikir yang saya ketahui, benar-benar tak mampu memahami tingkah laku mereka. Sampai selesai tulisan ini ditulis, pun juga tak ada benar-benar perubahan yang yang berarti. Sejatining ilmu, kelakone kanthi laku. Kesejatian ilmu, itu adalah yang benar-benar dilaksanakan
  1. PENUTUP
Saya tak ingin berkata bahwa untuk semua ini saya harus optimis. Dalam pemahaman saya setiap adegan sulukan goro-goro yang mengambarkan rusaknya tatanan hidup negara dan manusia, pasti akan berakhir. Dan setelah itu pasti seorang kesatria yang negarawan sejati datang diikuti keluarnya Ki Lurah Semar untuk memeberikan nasehat-nasehat agar segera lekas tiba masanya kejayaan yang ditunggu-tunggu. Goro-goro juga hanya sebuah episode untuk menghormati keluarnya Ki Lurah Semar, seorang dewa yang berwujud rakyat jelata. Sebuah gambaran kesatuan elite dan rakyat kecil. Maka sosok negarawan yang bertemu Semar, akan diberi nasehat bagaimanan menjadi seorang negarawan agung yang sekaligus rakyat jelata.
Daftar Pustaka
Ahmad Gaus. 2003. Begawan Jadi Capres, Cak Nur Menuju Istana. Jakarta: Kelompok Populer Paramadina.
Soejatmoko.1996. Etika Pembebasan. Jakarta: Pustka LP3ES. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar