RELIGIO
Agama adalah monster: beberapa dasawarsa menjelang kelahiran Isa
Almasih, Lucretius, penyair dan pemikir Romawi, menggambarkan religio sebagai
makhluk mengerikan yang menindas manusia.
….di seluruh
negeri,
hidup manusia rusak terlindas
di bawah beban berat agama,
yang menampakkan kepalanya,
dari lapis langit,
mengancam manusia yang fana
dengan wajah yang menakutkan.
hidup manusia rusak terlindas
di bawah beban berat agama,
yang menampakkan kepalanya,
dari lapis langit,
mengancam manusia yang fana
dengan wajah yang menakutkan.
Lucretius menuliskan
itu di pembukaan De Rorum Natura (“Tentang
Kodrat Benda-Benda”). Ia menuliskannya ketika republik Romawi berkecamuk oleh
revolusi dan kontra-revolusi, antara tahun 145-130 Sebelum Masehi.
Sampai
hari ini, kita hampir tak tahu apa-apa tentang Lucretius, kecuali karyanya itu.
Kita hanya bisa memperkirakan bagaimana suasana dalam periode yang disebutnya
sebagai “masa rusuh tanahair kita” itu, dan bagaimana agama berperan.
De Rorum Natura menggambarkan
betapa gelap dan gairahnya hasrat manusia untuk mashur dan berkuasa — gelap dan
sia-sia. Seraya orang-orang mendaki ke puncak kehormatan, mereka selalu dalam
bahaya. “Rasa iri, bagaikan sambaran petir, terkadang melontarkan mereka dari
puncak hingga terperosok ke dasar Tartarus yang busuk”.
Dalam
pandangan Lucretius, ambisi dan kecemburuan itu akan berakhir ke titik yang
kosong. Sisiphus membawa batu berat itu ke puncak, tapi tiap kali baru itu
terlontar kembali ke kaki gunung.
Tiap kekuasaan — seperti ditunjukkan dalam sejarah Romawi — segera
berakhir. Maka manusia, kata Lucretius, jika harus memilih, sebaiknya “tinggal
diam”, ketimbang punya kuasa dan mahkota.
Yang hendak ditawarkan
Lucretius sebenarnya ajaran Epicurus, seorang pemikir Yunani yang dikaguminya.
Bagi Epicurus, tujuan hidup adalah kenikmatan, dalam arti yang khusus:
kenikmatan yang tenang tenteram, justru dengan cara meniadakan hasrat yang
berlebihan.
Tapi manusia takut. Ia takut mati. Dalam ketakutan itu — ketakutan yang
tak berdasar, sebab mati harus diterima sebagai bagian dari hidup — orang-orang
menghimpun harta, kalau perlu dengan “pertumpahan darah antara sesama warga”.
Dengan rakus mereka “menggandakan kekayaan”, “menumpuk pembantaian di atas
pembantaian.”
De Rorum Natura– yang terdiri dari enam buku — ditulis dengan keinginan untuk
membebaskan zamannya dari semua itu. “Kita harus mengusir ketakutan dalam jiwa
ini, kegelapan ini”, tulis Lucretius, “bukan dengan sinar surya atau anak panah
hari yang bercahaya, melainkan dengan nalar dan tatapan alam.”
Memakai nalar, menelaah
alam: Lucretius, sebagaimana Epicurus, adalah pendahulu ilmu modern dan
filsafat “serba-zat”. Ia menjelaskan terjadinya wabah — yang dilukiskan dengan
sangat mengerikan di Buku VI — bukan sebagai tulah dari langit, melainkan
akibat “partikel-partikel yang beterbangan sekitar manusia yang membawa
penyakit dan kematian.” Baginya, yang ada hanya “atom dan kehampaan,” zat dan
ruang. Atom tak bisa dihancurkan; tiap kehancuran sebenarnya hanya perubahan
bentuk. Atom (Lucretius menyebutnya dengan primodia, elementa atau semina) saling
bertaut membentuk kombinasi yang tanpa henti, dan bergerak terus menerus, tanpa
wujud akhir yang disiapkan.
Maka kematian bukanlah
titik putus. Tak ada akhirat. Neraka ada di dunia ini sebagai akibat kebodohan
dan keserakahan. Surga ada di dunia dalam bentuk sapientum templa serena,
“kuil-kuil tenteram para aulia”.
Dari sajak panjangnya, bisa dilihat Lucretius bukan seorang atheis.
Tapi baginya Tuhan, atau dewa-dewa, tak terlibat dengan hidup kita. Mereka
bukan pencipta makhluk, bukan sebab musabab kejadian. Alam menjalankan roda
hidupnya sendiri.
Maka tak ada gunanya
bersikap salih seperti yang dilembagakan agama: “Kesalihan bukan karena kita
sering menundukkan kepala yang bercadar ke arah batu-batu,” demikian tertulis
dalam De Rorum
Natura. “Bukan karena kita menghampiri semua altar, bukan dengan
bersujud di kuil para dewa, bukan pula karena kita membasahi altar dengan darah
hewan korban”.
Kesalihan adalah
kesanggupan kita menatap semua hal “dengan pikiran yang damai”.Pikiran yang
damai itu — dengan menghalau “teror dan kemuraman jiwa” — tumbuh bila manusia
bisa menangkis “ancaman nabi-nabi”. Lucretius menyatakan bahwa ia menulis De Rerum Natura untuk
“membebaskan pikiran manusia dari belenggu agama yang menjerat”.
Dengan sikap yang
seperti itu, tak mengherankan bila berabad-abad kemudian, setelah teks De Rerum Natura ditemukan
di tahun 1417 muncul tangkisan demi tangkisan. terutama dari Gereja Katolik.
Tapi tak mengherankan pula bila pandangannya disambut orang di zaman
“Pencerahan”, yang merayakan kemerdekaan berpikir — sebuah zaman yang, seperti
dikatakan Kant, didukung Frederick II. Penguasa Prusia ini, yang berteman
dengan Voltaire, berkata di tahun 1741: agama adalah “monster kuno”.
Tapi
agama tak mati-mati. Mungkin karena tak seluruhnya Lucretius benar bahwa agama
“mengarahkan manusia ke dalam mala dan kekejian”. Mungkin karena proyek
pencerahan Lucretius gagal.
Di tahun 1771 Voltaire
mengarang surat-menyurat imajiner yang membicarakan penyair Romawi itu. Di sana
disebutkan Lucretius mati bunuh diri. Kita ingat De Rerum Natura yang
dibuka dengan semangat berpendar-pendar diakhiri dengan deskripsi suram tentang
Athena yang kena sampar. Sang filosof tak kunjung menemukan “kuil-kuil tenteram
para aulia”. Yang ia lihat hanya neraka: kebodohan, kerakusan…
Meskipun
sesekali ada secercah kemerdekaan.
Goenawan
Mohamad
Tidak ada komentar:
Posting Komentar