-

_dalam setiap kata yang kau baca,
selalu ada huruf yang hilang
kelak kau pasti akan kembali menemukanya
di sela kenangan penuh ilalang__


Minggu, 19 Januari 2014

TENTTANG GRIMIS


Malam itu gerimis tak kunjung reda. Lampu-lampu kota seperti mengejek setiap orang yang meringkuk, mengigil kedinginan di pelataran toko. Dari air hujan yang jatuh, menjelma kolam-kolam kecil di setiap jalan-jalan yang bercekung. Permukaanya tenang, tapi tiba-tiba ketengan air terusik oleh ban mobil, kaki, ban motor yang melewatinya. Pyar..air cekungan itu muncrat, tumpah ke kanan dan ke kiri. Mataku memandang setiap mobil dan motor di depanku. Lampu-lampu kendaraan bermotor itu berulang kali menyorot wajah berseri-seri para pengemis, dan anak gelandangan yang berteduh dibawah pohon, pinggir jalan. Pandanganku tetap saja tak buyar, fokus memandang mahluk-mahluk dari besi berjalan dengan menyorotkan matanya. Seperti kucing-kucing raksasa yang ada dikegelapan. Dari lampu mobil itu, aku melihat mata-mata mencorong bernyala-nyala, bagai dua pasang mata kucing dalam kegelapan. Benar-benar bagai mata kucing. Sorotan lampu itu memperlihatkan air hujan yang jatuh. Jika dalam kegelapan setiap titik hujan yang jatuh tak pernah kelihatan, tapi dibawah cahaya titik air hujan yang jatuh sangat nyata.
            Bulan malam itu kelihatan bersinar, tapi malu-malu. Atau memang mendung yang bersusun-susun hitam menghalangi wajah bulan. Bulan yang malu, atau mendung yang mengambil jatah bulan untuk menampakkan diri. Entahlah aku tak tahu. Di beberapa sudut langit cahaya bintang terlihat sedikit memberi warna pada hitamnya awan. Langit malam itu benar-benar terasa luas dimataku. Gelapnya mendung mencengkramku. Kegelapan memang selau menyembunyikan teka-teki dan kejutan. Dari awan-awan yang gelap itulah air hujan turun. Seperi perasan air jeruk yang menetes dari saringan. Saringan memecah air menjadi butiran-butiran kecil. Adakah awan juga disaring lalu menghasilkan butiran air hujan, aku tak tahu.
            Kondisi dilangit tak berbeda dengan di bumi. Aku melihat kunang-kunang besi menyorotkan matanya. Dari matanya cahaya keluar menyinari malam dan mendung yang gelap.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar