Malam
itu gerimis tak kunjung reda. Lampu-lampu kota seperti mengejek setiap orang
yang meringkuk, mengigil kedinginan di pelataran toko. Dari air hujan yang
jatuh, menjelma kolam-kolam kecil di setiap jalan-jalan yang bercekung. Permukaanya
tenang, tapi tiba-tiba ketengan air terusik oleh ban mobil, kaki, ban motor
yang melewatinya. Pyar..air cekungan itu muncrat, tumpah ke kanan dan ke kiri.
Mataku memandang setiap mobil dan motor di depanku. Lampu-lampu kendaraan
bermotor itu berulang kali menyorot wajah berseri-seri para pengemis, dan anak
gelandangan yang berteduh dibawah pohon, pinggir jalan. Pandanganku tetap saja
tak buyar, fokus memandang mahluk-mahluk dari besi berjalan dengan menyorotkan
matanya. Seperti kucing-kucing raksasa yang ada dikegelapan. Dari lampu mobil
itu, aku melihat mata-mata mencorong bernyala-nyala, bagai dua pasang mata
kucing dalam kegelapan. Benar-benar bagai mata kucing. Sorotan lampu itu
memperlihatkan air hujan yang jatuh. Jika dalam kegelapan setiap titik hujan
yang jatuh tak pernah kelihatan, tapi dibawah cahaya titik air hujan yang jatuh
sangat nyata.
Bulan malam itu kelihatan bersinar,
tapi malu-malu. Atau memang mendung yang bersusun-susun hitam menghalangi wajah
bulan. Bulan yang malu, atau mendung yang mengambil jatah bulan untuk
menampakkan diri. Entahlah aku tak tahu. Di beberapa sudut langit cahaya
bintang terlihat sedikit memberi warna pada hitamnya awan. Langit malam itu
benar-benar terasa luas dimataku. Gelapnya mendung mencengkramku. Kegelapan
memang selau menyembunyikan teka-teki dan kejutan. Dari awan-awan yang gelap
itulah air hujan turun. Seperi perasan air jeruk yang menetes dari saringan.
Saringan memecah air menjadi butiran-butiran kecil. Adakah awan juga disaring
lalu menghasilkan butiran air hujan, aku tak tahu.
Kondisi dilangit tak berbeda dengan
di bumi. Aku melihat kunang-kunang besi menyorotkan matanya. Dari matanya
cahaya keluar menyinari malam dan mendung yang gelap.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar